Om namā bhujanggā bħuddayā.

Om awighnam astu namā śidyam. Om prânamyam sirā sang widyam, bhukti bhukti hitartwatam, prêwaksyā tatwam widayah, wişņu wangsā pādāyā śiwanêm, sirā ghranā sitityam waknyam. Rajastryam mahā bhalam, sāwangsanirā mongjawam, bhupa-lakam, satyamloka. Om namadewayā, pānamaskaraning hulun, ri bhatarā hyang mami. Om kara panga bali puspanam. Prajā pasyā. nugrah lakam, janowa papā wināsayā, dirgha premanaming sang ngadyut, sembahing ngulun ri sanghyang bhumi patthi, hanugrahaneng hulun, muncar anākna ikang tatwa, prêtthi entananira sang bhujanggā wişņawa, tan katamanan ulun hupadrawa, tan kêneng tulah pāmiddi, wastu pari purņā hanmu rahayu, ratkeng kulā warggā sāntanannirā, mamastu jagatitayā. Ong namasiwaya, ong nama bhuddayā. Om namā bhujanggā bħuddayā.

Senin, 10 Februari 2014

PURA PETALI JATILUWIH DANG KAHYANGAN PENINGGALAN IDA RSI CANGGU (PUTRA IDA RSI WAISNAWA MUSTIKA)

Pura Luhur Pucak Petali terletak di Desa Adat Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Menurut beberapa catatan sejarah, pura ini dibangun oleh Bhagawan Rsi Canggu bersama Arya Wangbang pada zaman pemerintah Adhipati Samprangan Sri Kresna sekitar saka warsa 1272 atau 1350 masehi. Salah satu sumber yakni Tattwa Maharsi Markandya diuraikan pembangunan pura ini berhubungan dengan kisah Ida Bagus Angker yang merupakan putra dan Rsi Wesnawa Mustika. Setelah Rsi Mustika wafat di Besakih karena bertapa cukup lama memohon kestabilan negara, Bagus Angker pindah dari Sengguhan Klungkung ke Giri Kusuma. Beliau melakukan yoga samadhi, mempersatukan pikiran sucinya. Tempat beliau beryoga akhirnya dinamakan Gunung Sari, sementara tempat tinggal Ida Bagus Angker dinamakan Jatiluwih, sebab sudah melakukan dwijati dengan bhiseka Ida Bhujangga Rsi Canggu. Beliau bersama Arya Wangbang dibantu oleh masyarakat sekitar membangun khayangan yang diberi nam Pura Petali. Bhujangga Rsi Canggu sangat tersohor dalam satra agama, ilmu kebatinan, baik buruknya hari hingga ilmu pengobatan beliau kuasai. Tentu saja keberadaan Pura Petali ini menjadi pusat kegiatan spiritual Rsi Canggu beserta pengikut dan masyarakat di sana saat itu. Menurut keyakinan masyarakat sekitar Pura Petali sesuai dengan namanya, pura ini merupakan pengikat bumi atau pengikat jagat raya. Jadi pura ini merupakan, pusat produksi gelombang spiritual yang mampu memberikan perlindungan kepada umat manusia dan alam semesta. Awalnya ketika ditemui, pura ini hanya berupa susunan bebatuan berbentuk tugu, terletak di tengah hutan yang berada pada ketinggian ( gunung). Masyarakat sekitar setelah melakukan permohonan kemudian membangun pura di tempat tersebut. Namun berdasarkan petunjuk gaib yang didapatkan, tinggi bangunan pura tidak boleh melebihi batang pohon yang tumbuh juga secara misterius di lokasi tersebut. Di tempat ditemukannya semacam bangunan tugu yang terbuat dari batu dan diretakan dengan tanah liat tersebut, kini telah dibangun beberapa pelinggih. Pelinggih tertinggi merupakan gedong tamblingan dengan tumpang lima, sementara gedong berikut kerinan dan gedong simpen. Selain itu, terdapat beberapa piyasan. Pada tanah seluas sekitar 10 hektar ini, lokasi pura tertata dengan indah berupa jada tandeg, jaba tengah dan jeroan. Di jaba tengah terdapat beberapa pelinggih dan beji. Desa Adat Jatiluwih sejak turun temurun telah menjadi pengempon dan pura peninggalan zaman kuno. Sementara Puri Tabanan sebagai pengenceng. Piodalan di pura ini jatuh pada Buda Kliwon Ugu. Lima banjar Adat di Desa Adat Jatiluwih yakni Jatiluwih Kawan, Jatiluwih Kanginan, Kasambahan Kaja, Kesambahan Kelod dan Kesambi bahu-membahu dalam penyelenggara upacara yadnya. Lokasi pura ini masih berdekatan dengan Pura Luhur Maha Warga Bhujangga Waisnawa, namun dengan posisi lebih rendah. Demikian pula kedua pura ini masih terdapat kaitan sejarah. Hanya Pura Luhur Waisnawan kini berstatus kawitan yang disungsung oleh Maha Warga Bhujangga Waisnawan. Sementara Pura Petali menjadi sungsungan jagat. Pusat Aktivitas Spiritual Para pendiri pura di Bali telah menyalakan semangat yoga, persatuan dengan Tuhan pada berbagai titik-titik nadi Bali. Sebagaimana halnya Pura Petali yang merupakan pusat dari aktivitas spiritual Rsi Canggu dan segenap pengikiutnya. Aktivitas spiritual seperti ini upacara-upacara agama, tapa yoga samadhi dipusatkan pada zaman itu di pura ini, dengan maksud untuk memohon kerahayuan jagat dan kemurnian hati. Selain sebagai pusat aktivitas pemujaan, menurut beberapa catatan sejarah, tempat ini juga merupakan pusat pengkajian dan pengajaran sastra agama bagi para pengikut Rsi Canggu dan masyarakat sekitar Jati Luwih. Terlebih mengingat Rsi Canggu merupakan ahli dalam hal pengajaran Weda dan sastra-sastra agama. Tempat ini hendaknya juga dijadikan sebagai tempat pengkajian ajaran Weda di samping pelaksanaan yadnya sesuai dengan petunjuk satra-sastra suci. Dibangun untuk Kegiatan Asrama Pura Petali sejak awal memang dirancang untuk kegiatan ashram. Dalam pustaka Bhuwana Tattwa Maharesi Markandeya dinyatakan antara lain, “Apa sira wus putus, mangke sira Ida Bagus Angker ingaranan Ida Bhagawan Resi Canggu. Ngkana sira Bhagawan Resi Canggu kalawan Arya Wang Bang iniring wang wadwa akweh akarya Parahyangan ngaran Pura Patali.” Maksudnya : Setelah beliau mencapai tingkatan rohani yang lebih tinggi ( wus putus ) sebagai Dwijati, selanjutnya beliau Ida Bagus Angker bergelar Ida Bhagawan Resi Canggu. Demikianlah beliau Bhagawan Resi Canggu bersama dengan Arya Wang Bang diikuti oleh masyarakat banyak mendirikan tempat suci bernama Pura Patali. Menurut tokoh Hindu, Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, tradisi aguron-uuron dalam sistem pendidikan Hindu di Bali bertujuan untuk meningkatkan rohani umat bahkan sampai mencapai status dwijati melalui proses diksa. Setelah berstatus dwijati, proses selanjutnya mendirikan pasraman untuk menuntun masyarakat yang bersedia menjadi murid atau sisya. Lewat proses guron-guron itulah seorang dwijati yang juga disebut Sang Meraga Putus melakukan Panadahan Upadesa artinya menyebarkan pendidikan kerohanian dan menjadi Sang Patirthan. Mengutip Saramuscaya 40, lebih lanjut Ketut Wiana mengatakan, Pasraman itu merupakan tempat umat mohon penyucian, di samping sebagai Sang Satyavadi dan Sang Apta Lebih lanjut Wiana yang juga dosen di IHD Negeri Denpasar itu mengatakan, pendidikan kerohanian itu bertujuan agar masyrakat dapat hidup mengikuti proses berdasarkan konsep Catur Asrama. Tiap- tiap Asrama memiliki batasan-batasan disiplin hidup tertentu. Pada tahap Brahmacari, prioritas hidup adalah untuk mendalami dharma. Pada tahapan hidup Grhastha priorits hidup untuk mewujudkan Artha dan Kama. Sedangkan dalam tahapan Wanaprastha dan Bhiksuka prioritas hidup adalah untuk mewujudkan tujuan hidup tertinggi yaitu moksha. Demikianlah beliau melaksanakan konsep itu dengan membangun pasraman. Setelah Ida Bagus Angker meraga putus dengan gelar Bhagawan Resi Canggu, beliau menjadi Adi Guru Loka. Artinya menjadi gurunya masyarakat luas. Bukan semata-mata guru dari warga atau w3angsanya saja. Bukan di-diksha sebagai seorang dwijati terlebih dahulu melangsungkan upacara mapamit pada sanak keluarganya. Secara formal beliau tidak lagi menjadi milik keluarga saja. Artinya beliau tidak lagi sebagai ayah, kakek, kakak, adik, dst. Besoknya setelah berstatus dwijati beliau menjadi gurunya masyarakat luas, tentunya termasuk mantan keluarganya. Itulah sebabnya, menurut Wiana, keberadaan Pura Patali di Desa Jati luwih Kecamatan Penebel ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan Pura Resi dan Pura Jati Luwih Kawitan Bujangga Waisnawa tersebut. Dinyatakan pula, putra Ida Bhagawan Resi Waisnawa Canggu, Ida Bhagawan Guru menikah dengan putra Dalem Watu Renggong yang bernama I Dewa Ayu Laksemi. Ini artinya Pura Patali di bangun oleh Ida Bhagawan Canggu pada zaman pemerintah Dalem Watu Renggong yang memerintah Bali tahun 1460-1550 Masehi. Pelinggih utama di Pura Patali ini adalah berbentuk bebaturan atau terpasang sebagai stana Ida Batara Luhur Pura Patali. Di pura ini terdapat stu benda peninggalan tradisi megalitikum berupa bat persegi yang sisinya tidak beraturan. Peninggalan inilah yang diebut Pejenengan Ida Batara Pucak Patali. Dan proses pendirinya, kita akan melihat bahwa Pura Patalu ini merupakan Pasraman Ida Bagus Angker, leluhur wangsa Bujangga Waisnawa. Karena itu tepat sekali kesimpulan peneliti pura dari IHD ( UNHI sekarang ) tahun 1982 yang menyatakan bahwa Pura Patali sebagai Pura Dang Kahyangan, artinya pura sebagai pasraman suci dan rsi. Di Pura ini terdapat juga berbagai pelinggih pasimpangan seperti meru Tumpang Lima di sudut timur laut oada areal Jeroan Pura Utama Mandala. Meru Tumpang Lima ini sebagai media pemujaan Bhatara Dewi Danu di Danau Tamblingan. Upcara Pujawali di Pura Patali ada;ah setiap emnam bulan wuku, yakini tiap Buda Kliwon Wugu. Dengan adanya pemujaan pada Dewi Danu,berarti Pura Patali di samping sebagai pura pasraman juga sebagai pura untuk memohon keselamatan pertanian dan arti luas. Dengan adanya pelinggih pesimpangan Ida Bhatara Dewi Danu, di Pura Patali ini umat diingatkan untuk menjaga kelestarian danau sebagai sumber air. Kalau melestarikan danau sebagai sumber air tentunya tidak mungkin tidak melakukan upaya Wana Kerti artinya menjaga kelestarian hutan. Di luar areal pura, yakni di sebelah utara temnok penyengker pura terdapat pelinggih Beji. Di Pelinggih inilah umat memohon bahab tirtha yang digunakan di pura Patali pada saat ada upacara baik upacara piodalan atau pujawali maupun saat hari raya upacara-upacara keagamaan lainnya. Oke,,,ulasan tentang Pura Pucak Petali diatas mengukuhkan keberadaan pura ini sebagai sumbernya kekuatan dan inspirasi,karena memang dari awal di Pura ini adalah pesraman yang dibangun sebagai oleh Putra dari Rsi Wesnawa Mustika yang bernama Ida Bagus Angker,,, Semoga bermanfaat, dan mampu memberikan pencerahan untuk kita semua,,, SUMBER By : Abdi Negara

Selasa, 28 Januari 2014

DALEM TAMBLINGAN LELUHUR I DEWA AYU SAPUH JAGAT (ISTRI IDA MAHARSI MADHURA)

Sejarah Singkat Arya Dalem Tamblingan "Om Awighnam Astu Nama Siwaya" Menurut Prasasti Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan Babad Hindu Gobleg diceritakan bahwa Ida Bhatara Siwa memiliki 3 Putra yang turun ke Bumi yakni: Ida Bhatara Dalem Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung, dan Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Ketiga Ida Bhatara ini sering disebut sebagai Ida Bhatara Sanghyang Tiga Sakti, Melinggih ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima ngaran Gedong Kusuma Jati Ning. Semua Keturunan Beliau bergelar Satrya Dalem. Dari sinilah kemudian pengelompokan Keturunan Bali Mula (Bali Kuno/Bali Aga) dibagi menjadi 2 bagian besar yakni: 1. Kelompok Dalem, terdiri dari: Satrya Dalem, Arya Dalem, dan Pasek Dalem 2. Kelompok Abdi Dalem, terdiri dari: Arya, Pasek, dan Pande Ida Bhatara Dalem Solo melinggih ring Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung melinggih ring Kelungkung, dan Ida Bhatara Dalem Tamblingan melinggih ring Alas Mertajati-Tamblingan (sekitar Danau Tamblingan) . Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan merabian ring Dewa Ayu Mas Ngencorong (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) yang kemudian mempunyai 2 Putra dan 1 Putri yakni: 1. Dewa Dalem Maojog Mambet 2. Dewa Dalem Juna (Nyukla Brahmacari) 3. Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan (Merabian ring Ida Bhatara Dalem Ped ring Nusa Penida) Dewa Dalem Maojog Mambet (Bhatara Guru Nabe) melinggih ring Meru Tumpang Lima di Pura Pejenengan-Gobleg, Keturunan Beliau bergelar Arya Dalem Tamblingan, Beliau mempunyai 2 Istri yakni: 1. Dewa Ayu Manik Subandar (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) sebagai Siwa ring Tengen melinggih ring Pura Siwa Muka Bulakan-Gobleg, Solo ngaran Jawa yang artinya Piodalannya ring Sugian Jawa. Beliau mempunyai Putra: 1.1.Ngurah Bendesa (Penyarikan Agung), 1.2.Ngurah Nyrita (Penyarikan Gong), 1.3.Ngurah Kubayan (sebagai Kubayan), 1.4.Dewa Ayu Dalem Tamblingan (Dewa Ayu Sapuh Jagad yang kemudian menikah dengan Ida Rsi Gede Madhura)menurunkan sentana Rsi Bhujangga Bali trah Ida Rsi Madhura. 2. Dewa Ayu Ibu (Putri dari Ida Bhatara Dalem Kelungkung) sebagai Siwa ring Kiwa melinggih ring Pura Siwa Muka Suukan-Gobleg, Kelungkung ngaran Bali yang artinya Piodalannya ring Sugian Bali. Beliau mempunyai Putra: Ngurah Pasek (Balian Agung / melinggih ring Bale Agung sebagai Hulu) , Ngurah Ngeng (Balian Banten), Ngurah Mangku (Mangku Agung / Mangku Gede / Mangku Puseh) Selanjutnya diceritakan Ngurah Bendesa mempunyai Putra: Ngurah Pangenter (Pangenter Agung), Kubayan, dan Dewa Ayu Merta Sari. Semua Keturunan Arya Dalem Tamblingan ini tidak diperkenankan memakan Buah Timbul ataupun menebang Pohon Timbul dan membunuh Tetani (rayap), hal ini dikarenakan Ida Bhatara Dalem Tamblingan pernah berhutang jasa terhadap Pohon Timbul dan Tetani. Sebelumnya diceritakan Ida Bhatara Dalem Solo pada waktu turun ke Bumi dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, kemudian Ida Bhatara Dalem Kelungkung juga dianugrahkan Tepak Besi Kuning yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, sedangkan Ida Bhatara Dalem Tamblingan dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yang isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kerbau Putih, dan 2 ekor Macan yg bernama Gringsing Wayang dan Gringsing Kuning. Setelah Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai di Alas Merta Jati (sekitar Danau Tamblingan) dibukalah Tepak Besi Kuning tersebut, kemudian keluarlah ke-16 parekan tersebut dan diperintahkan oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk membuat Puri atau tempat pemukiman di pesisir Danau Tamblingan. Ke-16 parekan ini diberi nama sebagai Pasek Tamblingan yg dikemudian hari berpindah tempat dan berganti nama menjadi 2 bagian yakni: 1. Delapan parekan pergi ke daerah Sai (Pupuan) dan berganti nama menjadi Pasek Sai 2. Delapan parekan lagi pergi ke daerah Batur Sari dan berganti nama menjadi Pasek Batur Sari Ciri dari ke-2 Pasek ini dapat dilihat dari Pura Kawitannya yg di dalamnya terdapat: 1. Pelinggih Meru Tumpang Tiga 2. Pelinggih Gedong Sari 3. 1 buah Bale Piyasan 4. Warna Gama-nya adalah Merah-Putih Ke-2 Pasek ini Pathirtaan-nya ring Gusti Mancawarna (ring Gobleg). Kemudian Daging Tepak Besi Kuning yang lainnya ikut juga keluar yakni 1 ekor Kerbau Putih dan 2 ekor Macan (Gringsing Wayang & Gringsing Kuning). Setelah selesai membuat Puri/Pasraman serta membuka lahan pertanian, Ida Bhatara Dalem Tamblingan pada waktu itu bergelar sebagai Satrya Dalem Tamblingan. Setelah selesai membangun pasraman di Tamblingan, kemudian ada Pemastu (perintah berisi bisama/kutukan) dari Sanghyang Aji Tiga Sakti agar semua Keturunan Satrya Dalem Tamblingan agar membangun Pura tempat berbakti kepada Ida Bhatara Kawitan. Pura ini terdiri dari beberapa Pelinggih sbb: • Gedong Kunci, dengan 3 (tiga) anak tangga (undagan) • Meru Tumpang Lima (Gedong Kusuma Jati Ning), dengan 5 (lima) anak tangga • Bale, dengan 5 tiang penyangga (adegan/tampul), ditengah Bale diberi 3 (tiga) anak tangga Kalau tidak membangun Pura seperti yang di atas, maka seluruh Keturunan Satrya Dalem Tamblingan akan mendapat Bisama/Kutukan: sengsara terus-menerus tidak bisa diobati/diampuni dan tidak ada kerja/pekerjaan dengan hasil yang baik. Kalau membangun Pura seperti di atas, maka Bisama/Kutukan itu akan terhapuskan. Pada waktu menghaturkan bhakti di Pura ini sebaiknya tidak sembarangan (berhati-hati), sebelumnya harus menghaturkan sembah sebanyak tiga kali dengan Mantram sbb: “ Om Atur ing ulun Ang Eng Syang, Ong Sanghyang Tiga Sakti Yam, Ong Am Om dwa telu papat lima enam dasa syia kutus sada pitu Yam” Singkat cerita, Ida Bhatara Dalem Solo sudah memiliki Istri dengan 2 Putri dan 1 Putra, Ida Bhatara Dalem Kelungkung sudah memiliki Istri dengan 2 Putra dan 1 Putri, Ida Bhatara Dalem Tamblingan belum mempunyai Istri. Kemudian dianugrahkanlah seorang Putri Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk diangkat sebagai Putri Angkat, namun setelah dewasa, Putri Ida Bhatara Dalem Solo diambil sebagai Istri oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Kemudian menurunkan 2 Putra dan 1 Putri yang bernama : Dewa Dalem Maojog Mambet, Dewa Dalem Juna, Dewa Ayu Mas. Dewa Dalem Maojog Mambet memiliki 2 Istri (Kiwa-Tengen) dan memperoleh Anugrah untuk menciptakan Mata Air Suci yang disebut sebagai Tirta Pradana Urip dan Tirta Pradana Pati di Pura Pejenengan-Gobleg, Tirta ini diperuntukan bagi alam beserta isinya baik yang berupa benda hidup (urip) ataupun benda mati (pati), Penguasa/Pemilik Tirta ini adalah Ida Bhatara Ibu Sakti (Sanghyang Panca Maha Bhuta), Melinggih ring Pura Pejenengan, Piodalan ring Tumpek Landep. Dewa Dalem Juna tidak memiliki Istri (Nyukla Brahmacari). Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan Merabian (Menikah) Ring Ida Dalem Sakti Dalem Ped (Nusa Penida). Lama kelamaan, berita ini diketahui oleh Ida Bhatara Dalem Solo, dan dipanggilah Ida Bhatara Dalem Tamblingan menghadap ke Solo. Sesampai di Solo bertanyalah Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan, apakah benar Putrinya diambil Istri oleh Adiknya, dan dijawab benar oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Akhirnya Ida Bhatara Dalem Solo menjadi Murka (marah) kepada Adiknya, karena kesalahan yang dilakukan oleh Adiknya tersebut, maka diturunkanlah gelar Satrya Dalem Tamblingan menjadi Arya Dalem Tamblingan. Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan diperintah oleh Ida Bhatara Dalem Solo untuk menggali sebuah sumur di Solo, setelah sumur digali, lalu ditimbunlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan dengan batu, namun semua batu kembali naik ke atas. Di dalam sumur, Ida Bhatara Dalem Tamblingan menemukan lubang semacam goa kecil dan di dalamnya terdapat akar Pohon Timbul yang sudah dimakan rayap (tetani), kemudian dipeganglah akar pohon timbul tersebut sebagai pegangan menelusuri goa tersebut. Akhirnya sampailah Ida Bhatara Dalem Tamblingan di atas permukaan goa yang disebut dengan nama Goa Naga Loka, letaknya diperbukitan (Bukit Gunung Raung) di atas Danau Tamblingan. Goa Naga Loka ini dibuat oleh Ida Bhatara Sorang Dana (Ida Bhatara Dalem Naga Loka). Berhasilnya Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai dipermukaan goa tidak terlepas dari bantuan Akar Pohon Timbul dan Tetani (rayap), oleh sebab itu bersumpahlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan kepada seluruh Keturunan-Nya agar tidak makan Buah Timbul dan tidak membunuh serta mengutuk Tetani (rayap). Disini secara garis besar juga saya sampaikan beberapa sebutan Ida Bhatara menurut Prasasti Gobleg, Babad Hindu Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan beberapa sumber media informasi lainnya, yakni: 1. Ida Bhatara Puseh (Ida Bhatara Sanghyang Aji Sakti), Beliau meraga Tiga, yakni sebagai Sanghyang Siwa (Merah), Sada Siwa (Putih/Kuning), dan Parama Siwa (Hitam). Beliau Melinggih ring Pura Puseh, ring Pelinggih Piyasan Tiga Sakti, ring Pelinggih Padma Tiga (ring Penataran Agung Pura Besakih). 2. Ida Bhatara Siwa Guru (Ida Bhatara Aji Sakti / Ida Bhatara Dewa Dalem Majapahit), Melinggih ring Pura Bukit Sinunggal (Desa Tajun), ring Gunung Agung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Pitu. 3. Ida Bhatara Raja Berawa Murti (Ida Bhatara Dewa Dalem Tiongkok), Melinggih ring China/Tiongkok, ring Pelinggih Konco. 4. Ida Bhatara Sanghyang Srimandi (Ida Bhatara Sanghyang Kendi), Melinggih ring Gunung Batur (Pura Batur-Kintamani), ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga. 5. Ida Bhatara Dalem Solo (Ida Bhatara Dewa Dalem Bremang), Melinggih ring Surakarta-Solo, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 6. Ida Bhatara Dalem Kelungkung (Ida Bhatara Dewa Dalem Bahem), Melinggih ring Kelungkung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 7. Ida Bhatara Dalem Tamblingan (Ida Bhatara Dewa Dalem Mas Madura Sakti), Melinggih ring Pura Dalem Tamblingan, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 8. Ida Bhatara Surya (Ida Bhatara Dewa Dalem Dasar), Melinggih ring Pura Dalem Dasar, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga.

MAHARSI MADHURA DI SEPUTARAN DANAU BERATAN BEDUGUL BALI

Menurut Raja Purana Pura Puncak Pengungangan, Bedugul. Menyebutkan tentang perjalanan Ida Rsi Madura dengan diiring sekitar 400-800 orang pengikut beliau datang dari jawa ke daerah seputaran Danau Beratan untuk melakukan pertapaan dan untuk membangun tempat-tempat suci. Begitu juga seperti tersebut dalam Bhuana Tattwa Rsi Markandeya, dimana dinyatakan bahwa Ida Rsi Madura memperistri anak dari Ida Dalem Tamblingan yang bernama Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. Dari dua sumber tertulis ini dapat ditelusuri bahwa Ida Rsi Madura pernah lama bertempat tinggal di daerah seputaran Bedugul. Di seputaran tempat ini, beliau banyak membangun tempat suci atau pura yang banyak mengadopsi arsitektur Jawa disesuaikan dengan tempat kelahiran dan asal Ida Rsi Madura yaitu dari daerah Madura. Pura-pura ini kalau kita telusuri dari daerah selatan adalah: Pura Puncak Sari, Pura Puncak Kayu Sugih, Pura Puncak Pengungangan, Pura Batu Meringgit, Pura Puncak Terate Bang (Pura Puncak Bukit Tapak), Pura Penataran Beratan, Pura Candi Mas, Pura Puncak Rsi, Pura Puncak Taman Sebatu (Pura Ulun Danu Beratan yang asli). Pura-pura ini terletak diseputaran Danau Beratan. Kemudian di Danau Buyan beliau membangun Pura Ulun Danu Buyan. Di samping di seputaran Danau Beratan dan Banau Buyan, pada jaman itu beliau juga memugar dan memperbaiki serta menandai pura-pura diseputaran Danau Tamblingan seperti : Pura Ulun Danu Tamblingan, Pura Pengubengan, Pura Endek, Pura Dalem Tamblingan, Pura Tirta Mengening, Pura Puncak Lesung, Pura Naga Loka. Ida Rsi Madura merupakan seorang Maharsi sakti yang berasal dari tanah Jawa. Beliau merupakan kombinasi antara karakter seorang brahmana dan ksatria. Dulu di India karakter ini dimiliki oleh salah satu dari 10 awatara dari Dewa Wisnu yaitu Parasu Rama Awatara. Parasu Rama merupakan seorang brahmana yang terlahir sebagai anak dari Rsi Jamadagni. Meskipun beliau terlahir sebagai seorang brahmana akan tetapi karakter utama yang muncul dalam diri beliau justru sifat seorang ksatria, dimana kemana-mana beliau membawa kapak dan memerangi para ksatria yang berbuat tidak adil di muka bumi ini. Begitu juga Ida Betara Lingsir Rsi Madura. Beliau terlahir sebagai putra dari Ida Maharsi Sunia Murti. Dari kecil beliau dibentuk dengan karakter seorang brahmana, akan tetapi semakin mendekati dewasa, justru sifat ksatria yang semakin jelas kelihatan dari diri beliau. Beliau sangat senang berkelahi terutama untuk membela kaum yang tertindas. Beliau sangat senang bertapa untuk mendapatkan wahyu ilmu kedigjayaan. Sampai suatu saat beliau mendapatkan pusaka keris dari hasil bertapa beliau pada waktu remaja mendekati dewasa di pesisir pantai Madura. Semenjak saat itu ida Maharsi Madura tidak pernah terpisahkan dengan keris seumur hidup beliau. Beliau merupakan satu-satunya pendeta brahmana yang setiap saat menyelipkan keris dipinggang beliau. Karena kesaktian beliau yang sangat tinggi, sehingga banyak orang yang berguru kepada beliau. Salah satu murid beliau adalah Arya Wiraraja, yang nantinya akan menjadi penguasa pulau Madura. Ketika Raden Wijaya meminta bantuan kepada Arya Wiraraja untuk membantu menumbangkan kerajaan kedirinya Jaya Katwang, Ida Rsi Madura juga yang memberikan petunjuk-petunjuk perang, bekal-bekal aji kesaktian sehingga akhirnya pasukan Raden Wijaya dan pasukan Arya Wiraraja dibantu oleh pasukan dari negeri Cina bisa menumbangkan pemerintahan Jaya Katwang. Hingga akhirnya Majapahit berdiri. Setelah Majapahit berdiri beliau ditawarkan jabatan untuk menjadi kepala pendeta kerajaan Majapahit, akan tetapi beliau menolak karena pada waktu itu beliau mendapat wahyu dari leluhur beliau Ida Maharsi Markandeya untuk datang ke pulau Bali, melakukan suatu tugas suci membangkitkan tempat-tempat suci serta memperkuat pondasi keagamaan di Bali. Pada waktu keberangkatan beliau dari Jawa menuju Bali beliau banyak diiringi oleh para pengikut beliau, terutama disertai oleh beberapa para mpu pembuat keris yang memang sengaja diajak ikut oleh Ida Rsi Madura untuk membuatkan beliau keris-keris, baik untuk pribadi maupun untuk persenjataan disepanjangan perjalanan. Pada waktu itu belum ada klan atau soroh Pande di Bali. Para pembuat keris yang diajak oleh Ida Rsi Madura beserta para keturunannya inilah yang kelak akan dikenal sebagai klan atau soroh pande di Bali. Singkat cerita sampailah pada perjalanan beliau di daerah seputaran Danau Beratan, disini pertama beliau bermalam di daerah yang sekarang menjadi lokasi pura Penataran Beratan. Karena dinginnya kondisi alam membuat beliau dan para pengikutnya cukup sulit untuk bisa beradaptasi, kemudian beliau mencari tempat yang cocok untuk bersemedi serta untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan alam diseputaran Danau Beratan. Kemudian beliau berjalan ke arah selatan dan sampai dilokasi Pura Puncak Pengungangan. Disini beliau bertapa di atas sebuah batu bundar yang sampai sekarang masih ada di pura itu. Di sini beliau memuja kekuatan trimurti dengan mengucapkan japa mantra.. OM ANG UNG MANG OM..berulang kali, mendengar doa pemujaan Ida Rsi Madura yang begitu tulus dan murni maka salah satu Dewa Tri Murti yaitu Dewa Brahma berkenan turun di puncak bukit yang berhadapan dengan lokasi bertapa Ida Rsi Madura ini. Dari atas puncak bukit itu mengalir udara hangat sehingga Ida Rsi Madura dan para pengikut beliau bisa selamat dari bahaya cuaca ekstrim yang sangat dingin pada waktu itu. Lokasi tempat Ida Maharsi Madura bertapa memuja kekuatan Sanghyang Tri Murti itu sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan. Dimana kata pengungangan itu berasal dari kata ANG UNG MANG. Puncak bukit dimana Dewa Brahma berkenan turun untuk memberkati doa Ida Rsi Madura, sekarang dikenal dengan nama Bukit Puun. Kenapa dinamakan Bukit Puun? karena khusus hanya di bukit ini, setiap beberapa tahun sekali pasti terjadi kebakaran di puncak bukitnya, sesuatu yang seharusnya sangat susah terjadi di daerah dengan cuaca dingin dan berkabut setiap hari seperti di daerah Bedugul. Akan tetapi menurut beliau hal itu terjadi untuk mengingatkan warga masyarakat di Bedugul bahwa puncak bukit itu dahulu pernah di pake Dewa Brahma untuk menurunkan kehangatan di daerah seputaran Danau Beratan sehingga manusia bisa bertempat tinggal dan hidup menetap ditempat itu. Dan anehnya, setiap kali terjadi kebakaran di puncak Bukit Puun maka apinya sangat susah untuk dipadamkan. Apinya baru bisa dipadamkan jika masyarakat mau berkaul dan melakukan pemujaan di batu bundar tempat bertapa Ida Rsi Madura, setelah itu pasti turun hujan lebat bisa sampai berhari-hari, barulah kebakaran di atas puncak bukit itu bisa padam. Selama bertapa di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan, beliau juga membangun Pura Puncak Sari dan Pura Puncak Kayu Sugih, dimana pada tempat ini dipuja sakti dari istri-istri beliau. Setelah beliau dan para pengikut beliau mulai bisa beradaptasi dengan cuaca di seputaran Danau Beratan, barulah beliau memutuskan untuk menetap untuk beberapa waktu yang cukup lama diseputaran daerah itu. Mulailah kehidupan sosial masyarakat berkembang di daerah Bedugul. Sesuai dengan petunjuk Ida Sanghyang Jagatnata ( Ida Maharsi Markandeya). Beliau mulai menata daerah tersebut. Karena sudah mulai ada kehidupan sosial, maka mulailah diperlukan Pasar ( ekonomi ), Sekolah/Pesraman ( Tempat pendidikan dan pengobatan ), Tempat Pertapaan dll. Lokasi pasar jaman itu sekarang dikenal dengan Pura Candi Mas. Lokasi Pesraman Agung jaman itu tempat untuk mendidik manusia supaya siap untuk menghadapi hidup dunia nyata berada di lokasi Kebun Raya Bedugul. Lokasi pesraman agung Ida Rsi Madura di Kebun Raya Bedugul ini dibagi menjadi tiga, yaitu tempat tinggal para murid pesraman, tempat tinggal para guru yang dipimpin oleh Ida Maharsi Madura, dan tempat berlatih para murid. Lokasi tempat tinggal para murid pada jaman itu sekarang dikenal dengan nama Pura Batu Meringgit dan Lokasi tempat tinggal Ida Maharsi Madura dan para guru lainnya sekarang dikenal dengan Pura Puncak Terate Bang. Sedangkan areal tempat latihan dari pesraman agungnya adalah lokasi yang dikenal sekarang ini dengan nama Kebun Raya Bedugul. Untuk areal pemukiman penduduk pada jaman itu adalah dari areal Pura Candi Kuning sampai seputaran areal Pura Puncak Pengungangan. Setelah membangun tempat-tempat untuk perkembangan kehidupan dunia nyata. Kemudian Ida Maharsi Madura, mencari tempat untuk bertapa dalam rangka peningkatan kehidupan spiritual beliau dan para pengikut beliau. Berdasarkan petunjuk dari Ida Maharsi Markandeya yang telah lebih dahulu menapak tempat itu pada jaman sebelumnya, lokasi yang dipilih ada bagian utara dan timur dari danau beratan. Tempat bertapa beliau adalah di Puncak Gunung Beratan yang jaman sekarang dikenal dengan nama Puncak Mangu ( terkait dengan pendiri kerajaan mengwi pernah bertapa disana ) atau dikenal sekarang ini dengan nama lain Puncak Tinggan karena salah satu sisi gunung ini berada di desa tinggan. Selesai bertapa disini beliau akan turun untuk mengajarkan semua wahyu yang beliau dapatkan kepada para murid yang ingin meningkatkan kehidupan rohani menjadi seorang pendeta dan menuntut ilmu pengetahuan rohani yang jaman sekarang dikenal dengan Brahma Widya. Lokasi Pesraman tempat pembentukan para calon pendeta ini sekarang dikenal dengan Pura Puncak Resi, karena tempat ini merupakan tempat para rsi memohon tuntunan spiritual kepada beliau. Disebelah timur pura puncak rsi ini berstana sakti beliau dan pura ini bernama Pura Puncak Taman Sebatu yang merupakan pura ulun danu beratan yang sebenarnya. Inilah sekilas informasi tentang perjalanan Ida Maharsi Madura diseputaran Danau Beratan. Mudah-mudahan informasi ini bisa berguna untuk para semeton sareng sami terutama para semeton yang masih mau meluangkan waktu untuk menapak tilas perjalanan Ida Maharsi Madura sebagai leluhur orang Bhujangga. Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra – Denpasar.

Jejak Perjalanan Maharsi Madhura (abad 12 - 13 M)

Perjalanan Ida Rsi Madura ( abad 12 M - 13 M ) Ida Rsi Madura merupakan seorang rsi maha sakti yang berasal dari Madura, tepatnya ida berasal dari suatu daerah di Madura yang seluruh tanah disekitarnya berwarna merah yang sekarang dikenal dengan daerah Tanah Merah. Lokasi griya beliau disana berupa rumah panggung yang berada di suatu tanah lapang luas yang dekat dengan sumber air seperti danau kecil yang sampai sekarang keberadaannya tetap dikeramatkan dan disucikan di sana. Ida Rsi Madura merupakan guru suci dan guru silat dari Arya Wiraraja, semua ide diBalik kebangkitan Majapahit, termasuk kenapa Arya Wiraraja dari tanah Madura mau membantu Raden Wijaya berasal dari beliau. Akan tetapi keberadaan beliau sebagai pendeta alam yang lebih senang dekat dengan alam terutama alam laut dibandingkan duniawi menyebabkan jarang orang yang mengenal beliau. Dan mungkin tidak ada yang menyangka bahwa beliau adalah aktor utama diBalik kebangkitan Majapahit. Setelah majapahit berdiri beliau ditawarkan kedudukan sebagai pendeta utama penasihat raja, akan tetapi beliau memilih merantau ke tanah Bali untuk menapak tilas dan melanjutkan perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya untuk menata pulau Bali. Dalam perjalanan beliau dari Jawa menuju Bali, beliau singgah di beberapa tempat seperti kediri ( Pura Agung Sekartaji ), dan yang paling lama beliau singgah adalah Alas Purwo. Tempat pertapaan beliau jaman itu, sekarang ini dikenal dengan nama Pura Situs Kawitan di Alas Purwo yang letaknya didekat Pura Giri Slaka. Disini beliau bertapa tahunan untuk menemukan petunjuk tentang pulau Bali umumnya dan untuk menemukan jejak perjalanan leluhur beliau ida maharsi Markhandeya di tanah Bali khususnya. Selama pertapaan di alas purwo ini beliau didatangi oleh seekor babi hutan besar yang merupakan raja hutan alas purwo yang bernama celeng cemalung. Celeng cemalung meminta ida rsi Madura untuk menata sisi spiritual alas purwo. Oleh karena itu, ida rsi Madura selama pertapaan beliau di alas purwo ini banyak sekali melakukan penataan-penataan tempat spiritual di alas purwo. tempat-tempat yang beliau tapak dan beliau tata inilah yang zaman berikutnya dipakai tempat bertapa oleh Gajah Mada sampai ke jaman Soekarno. Setelah beliau mendapatkan petunjuk tentang tanah Bali. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke tanah Bali. Singkat cerita ditanah Bali, beliau lama berdiam diri didaerah seputaran danau Tamblingan bahkan beliau memperistri putri dari Ida Dalem Tamblingan ( penguasa daerah seputaran Bali Utara pada jaman itu). Selama beliau bertapa didaerah seputaran Bedugul, beliau membuat sebuah padepokan silat yang sangat besar yang terletak di areal kebun raya bedugul. Di tempat ini beliau banyak mengangkat murid yang berasal dari berbagai etnis yaitu, Bali, cina, dan Jawa. Selama berdiam diri disini beliau banyak mendirikan pura-pura yang pada jaman sekarang telah ditemukan sumber bukti tertulis ( purana/prasasti ) bahwa Beliaulah pendiri pura-pura tersebut. Pura-pura tersebut antara lain : Pura Dalem Tamblingan, Pura Puncak Rsi ( bukit sangkur ), Pura Penataran Beratan, Pura Puncak Pengungangan, Pura Terate Bang, Pura Baru Meringgit dll. Setelah lama berdiam diri disini beliau kemudian melanjutkan perjalanan untuk menelusuri jejak perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya di tanah Bali. selama perjalanan menelusuri jejak leluhur bhujangga di Bali inilah beliau banyak mendirikan Pura Dalem Pauman Bhujangga ditempat berkumpulnya keluarga bhujangga di daerah-daerah tertentu di Bali. Pada saat menelusuri jejak perjalanan leluhur inilah beliau mendapatkan petunjuk tentang tempat moksanya Ida Rsi Markhandeya yaitu di Gunung Bhujangga Bali. kemudian beliau pergi kesana untuk memohon restu hendak melanjutkan tugas leluhur bhujangga di Bali sebagai penjaga dan pendoa keseimbangan pulau Bali beserta segala isinya. Setelah sungkem di tempat moksa Ida Rsi Markhandeya di puncak sepang bujak (gunung bhujangga) kemudian Ida Rsi Madura turun hendak melanjutkan perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan beliau membuat pura di sekitar tempat itu untuk sebagai tempat pengayatan ke Puncak Sepang Bujak ( tempat moksa Ida Rsi Markhandeya yang sangat dikeramatkan, sehingga disana tidak boleh dibangun bangunan apapun juga). Pura pengayatan ini yang jaman sekarang ini dikenal dengan Pura Asah Danu. Singkat cerita setelah memohon restu kepada Ida Maharsi Markhandeya beliau kemudian melanjutkan perjalanan mengelilingi Bali. Perjalanan beliau mengelilingi Bali terutama sekali dilalui dengan mengelilingi pantai-pantai di Bali. Di sepanjang pantai-pantai ini beliau bertapa dan membangun pura-pura. Pura-pura inilah yang pada jaman sekarang ini dikenal dibangun oleh Ida Peranda Sakti Wawu Rauh. Setelah selesai mengelilingi pantai Bali ternyata beliau belum menemukan kekuatan dalem segara yang sebenarnya. Dari hasil tapa beliau ternyata beliau menemukan kekuatan dalem segara gni di Bali berpusat di lautan seputaran kepulauan Nusa Penida. Oleh karena itu beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida. Pada tahun-tahun terakhir usia beliau di dunia ini, beliau memilih kepulauan Nusa Penida sebagai tempat bertapa dan tempat untuk kembali ke sang pencipta. Pada awalnya beliau memilih tempat untuk moksa atau kembali ke sang pencipta di Puncak Tunjuk Pusuh, Nusa Penida. Akan tetapi setelah beliau bertapa sekian lama akhirnya beliau mendapat jawaban bukan di sana tempat yang cocok. Akhirnya beliau berjalan ke selatan dan akhirnya menemukan suatu batu berbentuk lingga di tengah laut dengan diameter 3 meter dan tinggi sekitar 33 meter, dimana batu ini sampai sekarang masih berada disana. Sesampainya ditempat ini beliau kemudian bertapa, dan hasil tapanya beliau mendapat petunjuk untuk membuat rakit dan mengayuh rakit ke tengah laut dimana ditengah laut di atas rakit inilah akhirnya beliau moksa dan diberi gelar Ida Rsi Dalem Segara (Ida Betara Lingsir Dalem Segara), berketu hijau berselempang hijau. Dilokasi tebing dekat dengan batu lingga itu sekarang berdiri Pura Sekartaji yang diempon oleh seluruh warga bhujangga yang berdomisili di dusun Sekar Taji, Nusa Penida. Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra.

Minggu, 10 Juli 2011

LONTAR PIWELAS

IDENTITAS LONTAR

Judul : Piwelas

Lontar milik : Ida Rsi Bujangga, Gria Tegal Cangkring, Negara.

Jumlah lempir : 82 lempir

Ukuran Naskah : Panjang 25,5 cm; Lebar 3 cm

Dialihaksarakan oleh : I Gde Wayan Soken Bandana, S.S.,M.Hum.

Selesai diketik : 20 Maret 2009

ISI LONTAR

Piwelas adalah jenis lontar kediatmikan yang tergolong ilmu hitam. Piwelas adalah kata bahasa Bali yang berarti pengasihan. Lontar tersebut tidak hanya memuat aji pengasihan atau guna-guna, tetapi juga ilmu hitam yang lainnya, yaitu aji pengiwa dan pangliyakan.

Aji pengasihan atau guna-guna yang dimaksud adalah: 1) Piwelas Ni Rangdéng Dirah, 2) Piwelas Bhatara Ghana, 3) Piwelas Jarring Sutra, dan 4) Piwelas Kama Tantra.

Aji pangiwa dan pangliyakan yang dimuat dalam lontar tersebut adalah: 1) Kaputusan Bhatari Dhurga, 2) Kaputusan Siwa Sumdhang, 3) Kaputusan Batur Klika, 4) Waringin Mas, 5) Tumpang Wredha, 5) Brahma Sumeru, 6) Pangliyakan Kandhaphat, 7) Kaputusan Sang Hyang Aji Lawéyan, dan 7) Kaputusan Léyak Gundul.

Selain ajian-ajian tersebut, lontar yang diberi judul piwelas milik Ida Rsi Bujangga, Geriya Tegal Cangkring, Negara itu, juga memuat ajian-ajian yang lain, seperti: Pamancut Guna, Tungkub Buwana, Tutulak Pangraksa Jiwa, Paséwakan, Tutulak Sakti, Pametuwan Bhuta ring awak, Sasirep Kaputusan Maling Maguna, dan sebagainya.

PIWELAS

1a. Iti Piwelas Ni Rangdéng Dirah, úarana, sekar pulet, wé amangan, mantra: Ong segara mumbul, gunung rubuh, segara asat, gégér, gégér, gégér, prawatek déwata kabéh, gandharwa, gandharwi, paran sangkaning gégér, Ni Randéng Dirah, amasang guna wisésa, turun Sang Hyang Prajapati, Bhaþari Dhurga angetus atma jiwané si anu, lengleng bungeng si anu aningalin awak sariranku, aku masusupan ring surya candra, rahina sih, wngi sih, …(lontar putus)… Ni Rangdéng …

1b.Dirah apasang guna tandruh ring rat si anu, aku juga angen, Ong gento akasa osah si anu lawan ingsun, méré… (lontar putus), dén asih, Ong manik kresna Ni Rangdéng Dirah, mulaning asih, sida sih nama swaha.

Nyan Piwelas Bhaþara Ghana, úarana, sarining sekar, sipatakna ring alista, mantra: idhepaku smaranggana rumasuk ring awak sariranku, wanih sira andaluh Ki Bhaþara Smara, wanih sira andalu ingsun, pangawakku Bhaþara Ghana, aku andawut,…

2a. atma jiwané si anu, ring nétra marganira, mulih ring karnasula, marén si anu, aturu lawan ingsun, poma, poma, poma.

Iti Piwelas Jarring Sutra, ngaran, úarana, toyo, wéh inum, mantra: Ong thirthanku kumrenyes kidalaanga, masuking jaring sutra, saking ibu pretiwi, énak to ya pangrarawupaningulun, wésih tekén aku, si anu sih maring aku, tka kédep sidhi mandhi mantranku.

Jaran guyang, úarana … (lontar putus), 11, bidang, …

2b. …(tak terbaca), ulig wdakna, mantra: Ong wdakku luhuring akasa, tuntunen lawéné, papasanganing sora soré, suri suri, Sang Hyang Aditya kawuh runtuh, mnék aku ke swargan, tuwun aku ke gumi pretiwi, katinggalan aku baan Sang Hyang Widyadara Widyadari, genter pater gégér prawatek déwata kabéh, paran sangkaning gégér, Ki Jaran Guyang amasang guna, wastu sih Bhatara Hyang Asmara, Bhatara Hyang Asmari, putih tka uli kaja kangin, angbirakna atmané si anu, angétan, angidul, angulon…

3a. angalor, satus nawun si anu, lengleng tumingalin awak sariranku, tka buduh édan atiné si anu tumingalin awak sariranku, kédep sidhi mandi mantranku.

Iti Pamancut Guna, úarana, toya sugiang muah inum, mantra: idhepaku Sang Hyang Sada Siwa amancut guna, amancut piwelas, mulih maring pantara waya, tka sinang, luya jati, hning sarirané pun anu, tka sinang, tka sinang, tka sinang.

Piwelas Kama Tantra, úarana, temako wéh pangan, mantra: ih Nini Kamaratih, sumurup ring Kamajaya, si anu sumurup ring aku, sira kama bang, ingsun kama putih…

3b.abang mulih ring putih, leng leng si anu aturua lawan ingsun,

sih, 3x.

Paséwakan, úarana, sisig, mantra: Ong muncar akasa, mumbul pretiwi, Sang Hyang Taya masang gunna, rupanku kadi smara, téjanku surya candra, suaranku madhu drawa, pakepku manik astagina, sing andulu pada welas dén asih, lengleng bungeng tumingalin aku, sih sih sih, ket puliket.

Iti Tutulak Sakti, úarana, saka wnang, sakayunta wenang, lkas wenang, sagenah mantra wenang, babayon kawasa, úarana, maswi, bañu, lemah, sembar, ping 3, phalanya…

4a.salwiring ala mangsul dénta, salwiring tamba mantra wenang, mantra: Ong indhata kita kamung sarwa bhutha pisacca, pulung dengen sanak sakwéhta, singgah singgah sangkéng ungguwanta, raksa, kemit aku, ring tegal ring alas, ring ukir, ring segara, ring kayangan, ring pancuran, ring lwah, ring sendang, ring sumur, ring kubuwan, ring panglahan, ring pasar, ring pomahan, dén dengen sanak-sanakta, tan panarik kaming kita, hapan aku mawak Sang Hyang Tri Purusa Sakti, Ong sarwa bhutébyo duratah dhuratah, A, I, U, A, tlas. Pingiten aja wéra.

4b. Iti Guru Wisésa, maka panembahan léyak kabéh, úarana, saka wnang, mantra: ih léyak gundul metu saking sapta petala, Sang Anthabhoga gurun sira, hda ki léyak gundul mai marakang kawisésan maring siyaku, salingké ki léyak gundul tara nembah maring si aku, Sang Ananthabhoga ja nembah ring siyaku. Ih léyak ireng, metu saking wisnu loka, I Jong Biru gurun sira, hda ki léyak ireng mai marakang kawisésan maring siyaku, salingké ki léyak ireng tara nembah maring siyaku, I Jong Biru ja nembah maring siyaku.

5a. Ih léyak anggrék, metu saking gunung agung, Indrapatti gurun sira, hda ki léyak anggrék mai marakang kawisésan maring siyaku, salingké ki léyak anggrék tara nembah maring siyaku, Indrapatti ja nembah maring siyaku, Ong Ong Ong, mulih sira maring sapta patala, maka katiga, wus mangkana mantuk sira ring wisnu loka, maka katiga, wus mangkana, mantuk sira maring indra loka, maka katiga, aminta sarwa sari, léyak gundul, léyak ireng, léyak anggrék, medal idha ratu iring, poma, 3x, Hyang Bhaþara Guru tumurun ring gu…

5b. nung agung, matatakan kala cakra, macacupu mas, sabda swaranta tapakan siyaku, gni murub ring arepku, aku mangalah sakti, jeng, 3x.

Iti Tungkub Buwana, ngaran, utama dahat, aja wéra, mantra: mas putih mandadi mas kuning, aku anganggon pasron Bhaþara Guruné, maléd-léd pasthan ibapané blang, matanceb ka pratiwiné, ngajingit tiktik i méméné teked ka langité, i bapa tan kena dhinésthi, i mémé tan kna dhinésthi, tka satru musuhkuné lanang wadon, tan kawasa tumin…

6a. dak, poma, 3x. Sarana, buk sanggah kamulan.

Nyan Tutulak Pangraksa Jiwa, ngaran, úarana, wija kuning, 3 bsik, wus minantran, untal, tigang taun sira wisésa, sagunaning léyak tan tumamaha, réhnya ngarepin sanggah kamulan, mapras dhaksina, yan amantra ring tanggal pisan, mantra: idhepaku Sang Hyang Tiga Déwasa, pramasidhi pinaka ratuning tutulak, mangraksa jiwa wisésa, tigang nawun aku angikir urip, amurthi sakti, Sang Hyang Siwa Gandhu ring pabahan, Siwa Mretthi ring…

6b. lidhah, Siwa Sumedang ring tingal, Candhu Sakti ring sabda, Sang Hyang Wisnu pañara ring tangan, puntang panting ring lepa-lepa, Ki Naga Lomba ring suku, Sang Hyang Mpu Manna ring kulit, raja panulah ring roma, sapa wani léyak lanang punah, léyak wadon punah, léyak kdi punah, léyak mantara punah, acep-acepan punah, papasangan punah, tka sepi sunia sirep, sagunanmu pupug punah tka udhep, 3x, Ong Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya, Ang Ung Mang, Ang Ah Ah Ang.

Nyan Kaputusan Bhaþari Dhurga, ngaran, úarana, saka wenang…

7a. idhepakna Bhaþari Dhurga magenah ring gébéring lidhah, sinembah déning léyak kabéh, sinembah déning bhuta kala dengen, sinembah déning sarwa wisésa, wus mangkana mtu mantra, mantra: Ingsun angidepana Bhaþari Girinatha Sakti, matemahan Bhaþari Sapuh jagat, dadi bhatara metu Dhurga Murthi, pangawak ira sang hyang asih, sarwa baktya, bhutha kala dengen baktya sih, janma manusa baktya asih, déwa bhaþara asih, sakwéhing léyak baktya asih, hapan aku Sang Hyang Bhaþari Dhurga Putus, putusing wisésa, putusing sakti, léyak…

7b. sih, déwa asih, tka patuh ingkup, Ong Dhurgamurthi ya namah.

Iti Kaputusan Siwa Sumdhang, úarana, geni ring panyémbéan añar, tengah siginya sarin bunga, idhepakna Sang Hyang Siwa Sumdang ring siwadwara, turun ka dilahning mata, sinembah déning léyak kabéh, wus mangkana, metu mantra, mantra: Ang Ung Mang, mijil Sang Hyang Siwa, Sadha Siwa, Prama Siwa, ring pantaraning gambur anglayang, dadi Sah Siwa, ring ongkara mula apindha manusa sakti, aran Sang Hyang Siwa Sumdang, amurthi sakti, amugpug sagunaning…

8a. léyak kabéh, Ni Rangda ring Dirah pupug, Ni Larung pupug, Ni Wiksiksa pupug, Ni Misawadhana pupug, Ni Jaran Guyang pupug, Ni Lenddha pupug, Ni Lendya pupug, Ni Gandhi pupug, léyak mantara pupug, léyak nawasanga pupug, matemahan sang déwa ring walé agung, aku Sang Hyang Siwa Sumdang putus, syaku sakti luhuring ardha candra widhu nadha, pangawakku Sang Hyang Sah Siwa, tan kataman ku guna wisésa, tan kataman sarwa wisésa, gni bañu angin luput, lara wisya luput, aku sang hyang lengis licin…

8b. sakti, déwatanira Sang Hyang Siwa Sumdang putus, sakwéhing léyak baktya, tka sepi sunia, sirep, Ang Ah, Ong Yang Mang Siwa Sumdang murthi saktyem, sarwa satru winasanem, Ong Mang Siwa murthi saktyem, sarwa léyak winasanem, Ang Ung Mang.

Nyan Japa Sakti, ngaran, Sarasija Kusuma, úarana, patraning sekar, bungayang, mantra: Ong bantar akasa, empug pretiwi, mijil Sang Hyang Sarasija Kusuma, ring pantaraning surya, apindha manusa sakti rupanku kadi angin, aku sakti licin, sing ila kira-kirané urung, bhuta dewata punah, gring wi…

9a. sya moksah, aku Sang Hyang Sarasija Kusuma sakti ajapa mantra, sing tka pada udhep, 3x, Ong Sri jaghat padhukébyo namaswaha, kwéh pangraksania, sakti ring sariranta.

Nyan Ratuning Wisésa, makuwéh pangraksania, wisésa, Kaputusan Batur Klika, ngaran, úarana, nasi akalopok, mabé karangan, uyah areng, arak brem, dhaksina 1, uncarakna, wusamantra, pangan carunia, mantra: Idhepaku Sang Hyang Mrajapatimurthi, aranku Ki Batur Klika, anadah tastra, anadah wisésa,…

9b. anadah léyak, angrik aku kadi glap, rupanku kadi gni sumeru, pangawakku maya angin, wisésa sang hyang sunia, cét katon cét tan katon, aku muksah tan katingalan, aku sarining Batur Klika, murub ring awak sariranku, kadi gunung sumeru, bhuta ngeb, sarwa marya mantuha, mati kang ngeb, ghni bañu ngeb, aku Yang Batur Klika Sakti, lumaku aku tan kasahalangan, tan kaslettan, sing maya rep, 3x, aku kasiliran déning pawana ghni, sing ala paksané ring aku, tka gseng, tka sirna, aku Yang Mraja…

10a. Pati murthi, pangawakku Ki Batur Klika, sasaran sakwéhing satru baktya, wisésa nembah, tka ngeb, 3x, Ong Ang Mang, Batur Klika, pramasaktya bhur bhwah swah jwah tas mat, Ang Ang, Tang, Ah Ang.

Nyan Waringin Mas, mantra: Ong indahta kita kamung Sang Hyang Panca Maha Bhutha, wus sinurupan dénira Bhaþara Guru, ingasungan dénira Bhaþari Dhurgha, maring sétra gandamayu, witting nglekas déwék, lwiring guna ingaran Sang Hyang Waringin Mas, aku wisésa sakti, malesat aku ka sapta patala, emdek aku Nini…

10b. Subhagawati, atapan aku bedawang nala, sinembah aku déning léyak gundul, Ong Ang Ang Ung Ung Mang, metu aku ring gunung agung, akalihan aku ring Bhaþara Indra, wong aku mdek Bhaþara Indra, atapan aku garudha putih, kang sinembah aku léyak anggrék, Ong anjeleg aku saka wétan, metu ghni ring pupusuhan, anjeleg aku saka kidul, metu ghni ring ungsilan, Ong anjeleg aku saka lor, metu ghni ring ngampru, Ong anjeleg aku saka kulon, metu ghni ring ati, Ong anjeleg aku…

11a. ring tengah, metu ghni ring patumpuking ati, anunggal kang ghni, metu kang ghni ring wunwunan, murub makatartaran, ngbeking jagat, tan kacokan aku, tan kaunggulan aku déning manusa kabéh, arepaku asiluman ring sang hyang dhedhet, asiluman ring sang hyang tanana, asiluman ring manusa sakti, rumangsuk aku ring bhuta kabéh, déwa dengen bhuta bhuti, tumurun aku ring wisnu loka, angadeg aku tngahing langit, atapakan aku watu kumalasa, mandadi aku waringin mas, sinembah aku déning Ki Lendha muah I Lendhi, I Sawadhana, I …

11b. Gandrawang, i acep-acepan, I Guyang, I Larung, I Ratna Manggali, sami pranakanira ñumbah pada makaspa satus kutus atapakan aku jampana mas, metu kang umbul-umbul mas, ring arepanku, metu kang lalancang mas, talémpék mas, ingiringan aku léyak kabéh, Ong Sang Hyang Surya ring nétranku kalih, Sang Hyang Ayu ring angen-angenku, I Calonarang iringanku kalih, Ong Wang Ung, Ong pretiwi sirep, langit rep, déwa sirep, lah, 3x, kala sirep, sarwa kumatap-kumitip pada sirep, asu sirep, Kang lang, manusa sirep, 3x. Ong kala bungkem 3x, asu bungkem 5x…

12a. manusa bungkem 5x, Ong mayan-mayanku, Sanghyang enduh, etis atiné banyu rah pawarnané, tka enduh etis atiné wong kabéh, tka enduh, 3x.

Nyan Kaputusan Bhaþari Dhurga, úarana, lontar tulis mantra, gawa ya jugha, lunga jati tka jati, wisésa sira, sakwéhing satru baktya, sagunaning léyak baktya, mantra: Ong idhepaku Sang Hyang Tiga Murthi, Sang Hyang Bhaþari Sapuh Jagat, tedun ring madya padha, sapa wani ring aku, hapan aku Bhaþari Sapuh jagat, hapan aku mulaning guna pangaruh, léyak baktya ring aku, léyak putih …

12b. baktya ring aku, léyak bang baktya ring aku, léyak kuning baktya ring aku, léyak ireng baktya ring aku, léyak mancawarna bhaktya ring aku, léyak katon léyak tan katon nembah ring aku, sakwéhing léyak nembah ring aku, sakwéhing satru baktya ring aku, sakwéhing manusa marupa Dhurga Wurung, 3x, Ong yan hana marupa dhurga, rupan aku Bhatari Girinatha…

13a. lewih, aku sakti, gering wisya lara wisya katulak dénaku, tan kataman aku sakti, tan katamaning satru, Mang Ong, Na, Ra, La, dhikel 3x, Ong sah.

Iki rajahnia Dhurga, aja wéra.

Nyan Panyengker, úarana, sakawnang, mantra: Ong panes bara, panes kebus, pretiwiné tampakmu, di tengah di sisi pasih, ring luwur watu, ring sor pawana baret, asing paksa pada sih.

Iti Ratuning Pangiwa, ngaran, Tumpang Wredha, maka wisésaning pangiwa, mantra: Ong aku sang araning tumpang wredha, Ang Ung Mang, Ong Ang awak sariranku, asirah ku tung…

13b. gul, Sang Hyang Eka Kala ta pinaka aranku, asirah lima Sang Hyang Pancasona, ta pinaka aranku, asirah nem, Sang Hyang Sadripu ta pinaka aranku, asirah pitu, Sang Hyang Rsibuwana ta pinaka aranku, asirah ulu, Sang Hyang Asta Buwana, ta pinaka aranku, asirah sanga, Sang Hyang Nawa Kandha, ta pinaka aranku, asirah puluh, Sang Hyang…

14a. Dasa Kala ta pinaka aranku, asirah ika satus siyu, Sang Hyang Pangkungning Bwana, ta pinaka aranku, asirah laksa keti bharaodran, murub téjaningulun, hapan aku sakti amepeking buwana kabéh, malédléd layahku teked ke oodku, tka repsirep kumangkang kumingking, kumdap kumdip, hapan aku ngaraning Tupang Wredha, wenang agung wenang alit, wenang muksah tan katon, sinembah aku luput, 3x telas.

Ika Sri Kayangan, ngarepin sungéngé, ngranasika, masuku tunggal, maneleng tungtunging grana, muah ring sor ring luhur, hana…

14b. tungtunging irungta, kala wengi angarepin sungéngé, ngarepin ulan, tan hana ulan, sungéngé tlah ika glengan, nglekas ika, nuju, purnama, Ti., Ka., úarana, tumpeng kuning, 1, bé balung gagding mawadah klatkat sudhamala, aledan sénté bang, rumbah gilé, bawah jahé, ngranasika ngarepin caru, 3x. Ang Ong Ong. Iti panglesuania, mantra: Ung Ang Ong Ong, Hryang Mryung, Ang Ah.

Malih Hana Ratuning Pangiwa, Kaputusan Sang Hyang Siwa, ngaran, Brahma Suméru, utamaning utama, sarining pangiwa kabéh, wenang panganggon sang ratu nyakréng bhwana, muang sang…

15a. brahmana, pingitakna, aja wéra, haywa cawuh, tan sidhi phalania, upadrawa, mantra: Ong idhepaku rumawak Sang Hyang Kala Rudra Murthi, asirah aku sanga, anetra aku siyu, surya candra locananku, bhusananku lintang tranggana, romanku mégha ireng, anting-atingku ratna surya komala, asamayut ku Hyang Basuki, apinggel aku Naga Taksaka, atangan aku sarpa siyu, asuku aku rong iyu, pangadeganku Gunung Suméru, bayu bajra uswasanku, sarwa téja pinaka téjan awak sariranku, sarwa déwata…

15b. rumawaking sariranku, Bhatari Dhurga pinaka krura rupanku, adhodhot aku mégha swéta, asabuk aku byanglalah, hapan aku rumawak Brahma Suméru, metu ghni putih ring pupusuhanku, metu ghni pitha ring ungsilanku, metu ghni kresna ring amprunku, metu ghni prabhuta ring nabinku, Ang mapupul tngahing ati, anerus ring siwadwara, murub dumilah mijil ikang ghni andhed ring ngakasa, sinusun-susun tumpang siyu, dumilah téjanku ngebeking rat, Ong sajagat sirep, ngeb bhwana kabéh, idhepaku ngrangkus bhuwana kabéh, sarwa mambekan tan kwasa …

16a. mambekan, sunia sepi ikang rat kabéh, miber aku ring akasa, dhatengakna aku ring surya loka, candra loka, amangan aku mretha sanjiwani, amor sarwa gagana ring awak sariranku, kacakra dén aku kñar sang hyang candra katakep dén ku, knyar sang hyang surya , ming sor aku muwah, alunggung aku ring pucuking Gunung Agung, sinembah aku déning Gandarwa Gandarwi, sarwa déwa ring awak sariranku, bhuta léyak sarwa bhuta nembah ring aku, hapan aku rumawak Sang Hyang Brahma Sumeru, Ang, 3x.

16b. Pametuwan Bhuta ring awak, mantra: enggang bulun awak, metu Ki Bhuta Kakawa, enggang siwadwara, metu Ki Bhuta Rudira, ring I Bhuta Ari-Ari. Palesuania, mantra: Ong catur brahma mulih ring sarira, tka udhep, 3x. Ong sarwa bhuta mulih ring sapthadwara, tlas. Réhnia ring sanggar, úarana, banten tumpeng bang, adanan, iwaknia satha wiring pinanggang, raka sarwa bang, suci asoroh, dén agnep, malih haywa ima, pagehakna ikang ati, malih rikala ngréhaken, masangkuwub wastra putih, masurat ludra murthi, langit, tlas.

17a. Iti Pangliyakan Kandhaphat, ngaran, luirnia, nihan, mantra: Ong siwa swadipem ya namah swaha, Ong raditya swadipem ya namah swaha, Ong yama swadipem ya namah swaha, Ong Dhurga swadipem ya namah swaha, Ong idhepaku anjaluk aji limunan, aku anjaluk rupané I Calonarang, metu aku ring natar, patungganganku cicing selem, patapakanku windhu sagghara, tatekenku sarwa sanjatha, iringanku déwa siyu, metu aku ring lebuh, patungganganku naga anglayang, patapanku cakra sudarsana, atateken aku trisula, iringanku dhurga…

17b. siyu, metu aku ring parempatan agung, patungganganku weksudha malung, patapakanku raditya ulan, tatkenku swemédha, iringanku kala siyu, metu aku ring sétra gandha mayu, patungganganku banaspatiraja, patapakanku ghni angarab-arab, patekenku gadha lalitha, iringanku bhuta siyu, aku alekas andéwasraya, kala sraya, aku apayas tirtha gamana, akramas aku getih wong, asasayut aku limpa, asekar aku kembang waru, agunala aku papusuhan, agunitri aku babwahan, acundang aku ati, aku…

18a. kudung aku jajaringan, alekas aku ngranasika, mantra: Ang Ung Mang Ang, mtu dhilahku kadi bingin, angrampayak, pelud matankuné angliwatin irungkuné, malédléd layahkuné angliwatin entud, kukul tangankuné, ngiring pajalankuné, tan kawasa nolih, dhilahku catur warna, hapan aku angrangsukang kandhaphat, marep aku mangétan, putih rupankuné, marep aku mangidul, abang rupankuné, marep aku angulon kuning rupankuné, marep aku angalor ireng rupankuné, hapan aku sakti amaya siluman, amédha…

18b. rupa, sapa wani ring aku rupanaku aéng, yan hana wong amulan lan awakku, tka ngeb bungkem, aningalin awak sariraningsun, idhepaku angaji limunan, tan katingalan aku déning wong kabéh, teka peteng dedet triyat-triyut, tan katon daratan, aku angwetokaken prawésia, Ong jadma bungkem, paksi bungkem, aningalin prawésianingulun, tka ulap sunglap matané wong kabéh, tumingalin awak sariranku, hapan aku angaji limunan, klimun madeg ingsun wétan, klimun madeg ingsun kidul…

19a. katon lor, klimun madeg ingsun kulon katon wétan, klimun madeg ingsun lor, katon kidul, déné sing wong kabéh, msat aku angagana, akampid aku gringsing wayang, palingganku tumpang salu, atapakan aku tendasing wong, marawup aku getih, muncrat téjankuné, béda rupankuné, tka rep ngeb, 3x, atiné sing wong kabéh, anonton rupankuné, hapan aku angekep raditya ulan, lintang taranggana, tka remrem surem, 3x. Ong Ang hapan aku sakti mawisésa, aku wenang andhawut atmané wong kabéh, mantra: Ong siwa…

19b. raditya ya namah swaha, sidhi swaraningulun, tlas. Nglekas manéngténg jambot, natakin purus, nglekas ring pampatan, ring sétra, ring le, ngawa sanggah cukcuk, sga, 5 warna, mileh, ping 3, ñumbah ping 5, mider, metu dhilah ring cangkem, ring nétra, ring pungsed, ring purus, haywa cawuh, wisésa dahat, haywa wéra, mati phalania. Iti Sasirepnia, mantra: Ong gunung rubuh kasangga dénku, ghni murub mati dénku, wong sakuren meneng dénku, hapan aku kaliwat sakti, amupug gunané satru musuhku wong kabéh, tka repsirep, úarana, katik …

20a. basé, sebit pah telu, bedbedin lawé ireng, 3 ler, tibakakna ring lemah, saking natar, sirep dénia.

Iki Pamalingania Kandhaempat, mantra: engko babatang lumah ring sma, aku anglagar angrubung awakkuné, masa kwasa ring aku, hapan engko babatang lumah ring sma, tka rep sirep, 3x, yan hana wong atangi, tukupakna matané, impusakna sukuné, sato bungkem, jagad bungkem, ireng cemeng ajako ring aku, silitmu maka cangkemmu, cangkemmu maka silitmu, hoséné akara sénékep, Ong tungkul-tungkul, rep-sirep,…

20b. asu tan pawuk, ayam tan pakukuruyuk, aku sang tikus putih, pamali ngiring Sang Hyang Taya Wisésa, tan katingalanku déné satrunku wong kabéh, teka peteng dedet triyat triyut, tan katon daratan, hapan payoganira Sang Licin, tka sep, 3x, úarana, laler, 1, usapakna ring raga, nglekas ring pempatan, caru, sega minaka wong-wongan, raris babar, ping 3, pangan raris.

Iti Sasirep, ngaran, Kaputusan Maling Maguna, maka ratuning sasirep, úarana, padang maling-maling, mantra: idhepaku sang pretaméng wisésa, Sang Hyang Tri Dewata Suksma, prasanak ira catur…

21a. arané Ki Maling Maguna, Ki Bratékahot, Ki Maling Saji, Ki Maling-Maling Manglayang, pada sakti añirep bhwana kabéh, pretiwi, bayu, teja, apah, akasa, pada sirep, sirep, hapan aku sakti ring jagat, spi mulih ring paparu, sunia mulih ring pupusuh, suwung mulih ring jajah, sirep mulih ring nyali, sarwa satru mulih ring ati, Sang Hyang Nirapraya andawut bayu, Sang Hyang Prataméng Wisésa andawut sabdha, Sang Hyang Cintya andawut idhep, lah aturu awak sira, aja atangi, uripta matimbun ring sunianta, atmanta mangajar-ajar, jadma wétan kidul sirep, jadma kulon lor sirep, jadma madya sirep, kadi mati paturuanta, tka rep-sirep tka meneng, bayu sirep, sunia, sepi, jeng. Sekarakna. Malih…

21b. Pigmeng, Pangalahana Satru Wisésa, mantra: duh bapa Sang Mleng, raksa uripku sakti, duh ibu Sang Hyang Sleng, raksa uripku sakti, Sang Hyang Tunggal manukup uripku ring kori mpat, pangawakku Sang Hyang Licin, kumlap katon, kumlap tan katon, hapan mayanku angin, luput aku ring sarwa lalandep, luput aku ring bancana, luput aku ring satru sandhi, lepas, jeng, cét katon, cét tan katon, Ah, 3x, jeng, sarana, wari bang, skarakna.

Panungkul Agung, úarana, buk basma akna, mantra: aku angidhepana Sang Hyang Prajapati, akira ta rupa dhanawa, sing ngamara ring mukanku, macan angaréng ring dhadanku, ghni murub ring prabanku, surya candra dayung ingsun, gelap sakoti ring uswasanku, sapa wani ring aku, komara komari ngeb, sonna sato…

22a. ngeb, tumbal, taksu ngeb, jadma manusa ngeb, dhésthi léyak ngeb, bhuta bhuti ngeb, sing tka satrunku padha nembah, kukul, tka sirep kukul dungkul, rep sirep, 3x, jeng.

Iti Pangiwa Utama Temen, wus kapralindha dénira Bhaþari Dhurga, Kaputusan Sang Hyang Aji Lawéyan, réhakna ring sanggar pawittan, ring dina, A., Ka., Bya., idhep tan hana paran-paran, parama sunia ingisti ring ati, aja obah ring pangastiti, cendek tuwuh phalania, sarana, canang, 3 tanding, dhaksina, 3, dénagnep, pirak gung artha, 777, sowang-sowang, malih tawurakna ring kala pati, sgehan agung, 11, tandhing, maiwak bawi, pajalan, urab barak urab putih, dulurania babakaran matah, bawi matah, isin jajeron…

22b. gnep, sajeng rateng, toya, réh megeng bayunia, mantra: Ong déwa sakti suksma ta ya, prama sakti, kawijilanira ring tungtunging ongkara sakti mukti, mungguh ring nirbhana sunia, ikasa ngambara, atapakan bayu bayu sapatihabara, ingulesanira nila bajra, mahlar basakaranta sakti mahabara, aghni pralinna suksma ring ngawak sariranku, aku uluning bawana traya, aku uriping akasa, sarining sakti mahabhara, amijilaken déwa manusa, raksasa pissacca sarwa dhurga wisésa ring rat, Ong déwa suksma Sang Hyang Windhu Maya, amijilaken angga sariraning bhwana, amurthi sakti ring bhwana, bajra metu ring pupuning tanganku tengen, dhandha metu ring pupuning tanganku kiwa, trisula metu ring tujuhku tengen, kontha …

23a. metu ring dhadhanku ring arep, aghni suksma metu ring sarwa sandinku, sarwa dhurga wisésa, léyak, dhésthi, teluh, tranjana, sarwa bhuta ganna wisésa, salwiring, yéning janma manusa, rep sirep tka nembah, ring awak sariranku, hapan aku kamulan bapa akasa, ibu pretiwi, hapan aku sarining léyak sakti, hapanaku rumawak ring tatwa sarasswati, kaputusan aji lawéyan, asirah aku sang hyang akasa, awakku sang hyang Ong pretiwi, sakti, 3x, bapanku akasa, ibunku pretiwi, Ang Ong Sah Tang ya namah, putih awak sariranku, ghni adnyana wisésa, Ong Mang Sah Tang ya namah, Ong bhuta suksma kala suksma, ring sukunku tengen, bhuta yaksiraja ring jarring sukunku kiwa, I Bhuta Dhurgapati, talapakan sukunku tengen, I Léyak Gundhul talapakan sukunku kiwa,…

23b. I Léyak Anggrék sarwa Dhurga sakti tinapak ring sukunku, hapan aku guruning léyak sakti, hapan aku mawak Sang Hyang Ongkara Murthi, akasa, Ong sarwa Dhurga wisésa nembah, léyak désthi, teluh teranjana, tka rep sirep, ring awak sariranku, sing tka kabéh nembah, Ang léyak bang nembah, Ong léyak ireng nembah, Mang léyak kuning nembah, wryong sah léyak putih nembah, miber aku tan katon, 3x, dwaraning awak, Hung, 3x, amor aku ring déwata kabéh, Tang, tungganganku anilambara, sarwa tumbuhing bhwana, rep umrem, tka ulap, tka rarem, 3x, Ong sidhiswatha, 3x. Iti Panglesuania, mantra: Ong Sang Hyang Nilamara, malih ring Sang Hyang Akasa, sarwa wisésa malih ring sabda, bayu idhep, Ang Ung Mang, jeng, Wryong Ah, hre, cra, co, ba., dyem, ga, cor, lu,…

24a. jeng, wryong ah, tlas.

Iti Sang Hyang Aji Lawéyan, uttama dahat, wnang panganggén sang brahmana, muang ratu añakrawreti, haywa ima-ima, yapwan kita pejah, mantukira ring swarghanira Sang Brahma Déwa, pinapa gdéning widyadara-widyadari, siyu tahun lawasta mukti ring swarga, manjadma ta kita ring sang wiku putus sidhi mantra, kinasihan déning rat, tlas.

Malih hana pangiwa, ngaran, Kaputusan Léyak Gundul, mantra: Ong génjong kiwa bhwana kabéh, sun anyana Pudak Sategal, ketug linduh genter pater, engkab kita Sang Hyang Pretiwi, metu aku Léyak Gundul, aku angregepana Pudak Sategal, amusthi asuku tunggal, marep aku wétan, Mahiswara kinasungan, malédléd layahkuné, pasirat paheskuné, metu aku endih putih, tumu…

24b. runku ring sapta patala, Sang Hyang Antabogha nembah ring aku, msat aku angagana, akampid aku kombala ptak, aku sakti mawisésa, déwa nembah maring aku, dadhari nembah ring aku, tumurun aku ring jadma padha, iringanku bhuta siyu, kala siyu, dengen siyu, aku angisep puspa kabéh, amangan sari, tka mretha ring wtengku, idhepaku angadhakaken papteng, aku ngeseng bhwana kabéh, tka gseng, 3x, jeng, ésuk gring soré mati, soré gring ésuk mati, kabrasat wong kabéh, tan hana wong mawisésa, hapan aku amupug gunané satru musuhku wong kabéh, aku tan kenéng pañengker, tan kenéng tatulak, tan knéng pangolih-olih, hapan aku sarining bhwana kabéh…

25a. aku guruning léyak kabéh, sisiyan aku léyak siyu, mrik sumirit ghandaningulun, hapan aku angrangsuk Pudak Sategal, Ong déwa bhatara linglung, dhadhari linglung, jadma linglung, dhété dhété, Ong Rang Rang Rem ya namah swaha, Ong jingkrang jingkrang gélé gélok, metu aku ring pretiwi, tka rep sirep, 3x. Lekasakna ring pasar agung, anyepsep bok, masuku tunggal, úarana, canang rébong, ñumbah ping 3. Iti Pasirepnia, mantra: Ong gunung rubuh kasangga dénku, geni murub mati dénku, wong sakuren meneng dénku, hapan aku liwat sakti, amupug gunané satru musuhku wong kabéh, repsirep, 3x, úarana, katik basé, sebit pah telu, binebed déning lawé, 3 ler, tibakna ring umah wong kabéh, tlas.

25b.

Lebih jelas tentang gambar tersebut, perhatikan gambar berikut!

SEGEHAN

Ritual Segehan Pada Masyarakat Bali

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang dan Masalah

Koentjaraningrat (1986: 203) menjelaskan bahwa bahasa adalah unsur terpenting dari tujuh unsur kebudayaan yang lain, seperti sistem mata pencaharian, organisasi sosial, sistem peralatan hidup dan teknologi, sistem mata pencaharian hidup, sistem relegi, dan kesenian. Unsur kebudayaan yang lain, baru akan bermakna dan dapat dipahami lewat bahasa. Dengan kata lain, hanya dengan bahasalah unsur-unsur kebudayaan itu akan bermakna.

Honigman (1959: 11—12) membedakan adanya tiga gejala kebudayaan, yaitu (1) ideas, (2) activities, dan (3) artifact. Sebagai hasil karya manusia, kebudayaan memiliki tiga wujud, yaitu (1) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya, (2) wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan (3) wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia (Kontjaraningrat, 1986: 186—187).

Berdasarkan uraian tersebut, sěgěhan adalah wujud kebudayaan yang merupakan hasil karya manusia dalam hubungannya dengan masalah keagamaan. Sěgěhan sebagai sebuah wujud ritual dalam keagamaan umat Hindu di Bali baru akan bermakna kalau dideskripsikan dengan bahasa. Sěgěhan adalah sebuah wacana berbahasa Bali dan Kawi-Bali dalam hubungannnya dengan fungsi ritual.

Berbicara masalah fungsi bahasa, secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu (1) fungsi bahasa sebagai alat komunikasi dan (2) fungsi bahasa sebagai sarana dalam ritual keagamaan. Malinowski (dalam Sibarani, 2004: 44) menyebut fungsi bahasa itu sebagai (1) pragmatic use dan (2) magical use. Sebagai sebuah wacana, sěgěhan memiliki wujud ritual yang beragam, struktur saa (doa), dan makna yang berbeda pula, yang digunakan dalam hubungannya dengan ritual Butha Yadnya ‘kurban untuk butha kala’.

Sěgěhan sebagai sebuah wujud ritual dalam masyarakat Hindu di Bali berasal dari kata sěga ‘nasi’ , lalu mendapat sufiks –an. Sěga adalah kata dalam bahasa Jawa Kuna yang berarti ‘nasi’. Segeh berarti ‘penyambutan’, dan sěgěhan berarti ‘menyuguhkan sesuatu (pada tamu terhormat) (Zoetmulder dan S.O. Robson, 2004: 1064—1065). Dalam hal ini sěgěhan dapat diartikan sebagai sebuah suguhan kepada para bhuta kala yang sangat dihormati, karena sesungguhnya bhuta kala itu adalah Tuhan sebagai wujud-Nya yang berbeda dalam hubungannya dengan pemberian anugerah kepada pemuja-Nya.

Sěgěhan adalah sebuah wujud ritual umat Hindu Bali kepada Tuhannya yang berupa nasi dalam berbagai bentuk. Sěgěhan adalah caru dalam wujud yang lebih kecil (Arwati, 1992: 3). Sěgěhan adalah sajen yang digunakan dalam upacara bhuta yadnya; alas taledan; isi nasi, lauk-pauk, bawang, jahe, dan garam (Kamiartha, 1992: 58). Sejalan dengan itu, dalam Kamus Bali-Indonesia (1991: 622) dijelaskan bahwa sěgěhan adalah sajen kurban yang paling kecil dibuat dari nasi dengan lauk-pauk bawang, jahe, dan garam.

Berdasarkan uraian tersebut tampak beberapa masalah yang perlu dikaji dalam tulisan ini. Permasalahan tersebut dapat dirumuskan sebagai berikut: 1) bagaimanakah struktur mantra dan saa dalam wacana ritual sěgěhan?, 2) bagaimanakah wujud ritual sěgěhan tersebut?, 3) bagaimanakah makna kontekstual wacana ritual sěgěhan tersebut?

1.2 Tujuan

Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk melestarikan, membina dan mengembangkan kebudayaan Bali melalui media bahasa. Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk kebudayaan Bali sendiri dan kebudayaan nasional pada umumnya. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk memperkaya khazanah pengetahuan ilmiah.

Di samping tujuan umum, penelitian ini juga memiliki tujuan khusus. Adapun tujuan khusus yang ingin dicapai adalah sebagai berikut: 1) mendeskripsikan dan mendalami struktur mantra dan saa dalam wacana ritual sěgěhan, 2) mendeskripsikan dan mendalami wujud ritual sěgěhan, dan 3) mendeskripsikan dan mendalami makna kontekstual wacana ritual sěgěhan.

1.3 Ruang Lingkup dan Sumber Data

Ruang lingkup pembicaraan dalam tulisan yang berjudul: “Wacana Ritual Sěgěhan pada Masyarakat Hindu di Bali, adalah struktur mantra dan saa wacana ritual sěgěhan, makna struktur wacana ritual sěgěhan, dan makna kontekstual wacana ritual sěgěhan. Wacana ritual sěgěhan yang dimaksud dalam tulisan ini mencakup wacana ritual yang dilaksanakan umat Hindu sehari-hari atau yang disebut nitya karma, dan yang dilaksanakan setiap lima hari, lima belas hari sekali atau saat-saat tertentu sesuai keperluan, yang dikenal dengan naimitika karma. Wacana ritual yang dilaksanakan setiap hari disebut wacana ritual sěgěhan saiban atau wacana ritual banten jotan. Sedangkan yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu meliputi wacana ritual sěgěhan secara umum yang biasanya dipersembahkan oleh masyarakat kebanyakan dan wacana ritual sěgěhan khusus yang dipersembahkan dalam hubungannnya dengan mara bahaya yang sifatnya insidental. Wacana ritual sěgěhan yang dimaksud adalah wacana ritual: sěgěhan saiban, sěgěhan pulangan, sěgěhan putih kuning, sěgěhan sah-sah, sěgěhan cah-cahan, sěgěhan agung, sěgěhan wong-wongan, sěgěhan kěpěl gedé, sěgěhan tuutan, sěgěhan tumpěngl, dan sěgěhan tulak.

Sumber data dalam tulisan ini dibedakan menjadi dua, yaitu (1) sumber data primer, dan (2) sumber data sekunder. Sumber data primer atau data utama dalam penelitian ini adalah data yang didapat berdasarkan pengamatan langsung di lapangan. Dalam pengumpulan data dan informasi mengenai makna yang terdapat di dalam maupun di balik wacana ritual sěgěhan, dipilih sejumah praktisi sebagai informan dengan kriteria yang telah ditentukan sebelumnya. Data juga diperoleh dari beberapa informan kunci. Sedangkan data sekunder atau data kedua sebagai penunjang adalah data yang diperoleh di dalam buku-buku, naskah, dan lontar yang terkait dengan masalah yang diteliti.

Sebagai data sekunder adalah data yang diperoleh dari buku, naskah, dan lontar yang memuat masalah yang diteliti. Adapun buku, naskah, dan lontar yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Lontar “Jaya Kasunu”

2. Salinan lontar Pegal Mangsa

3. Buku Upacara Bhuta Yadnya

4. Buku Panca Yadnya

5. Buku Caru Palemahan dan Sasih

6. Buku ”Kandapatsari”

BAB II

MANTRA DAN SAA SĚGĚHAN

2.1 Pengertian

Mantra adalah Weda, sehingga Kitab Catur Weda disebut Kitab Mantra (Wiana, 2000: 124), (Pudja, 1978: 13) Mantra digolongkan menjadi empat bagian dengan nama Rig, Yajur, Sama, dan Atharwa (Pandit, 1953: 10). Mantra pada umumnya adalah untuk menyebut syair-syair yang merupakan wahyu Tuhan Yang Maha Esa, yang disebut Sruti. Dalam hal ini, yang termasuk dalam pengertian mantra adalah seluruh syair dari kitab-kitab Samhita, Brahmana, dan seluruh. Di samping pengertian mantra seperti itu, syair-syair untuk pemujaan yang diambil dari sebagian kitab-kitab Itihasa, Purana, Agama dan Tantra, termasuk pula mantram pandita Hindu di Bali, juga disebut mantra (Titib, 1997: 29--30).

Mantra atau mantram menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2002: 713--714) adalah: (1) perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib (misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya); (2) susunan kata berunsur puisi yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain.

Menurut Suroso dkk., (1982: 14) mantra termasuk jenis puisi lama. Mantra berada satu kelompok dengan bidal, pantun, seloka, gurindam, syair, teromba, dan rubai. Pada umumnya, puisi lama memiliki ciri-ciri yang terdiri atas dua bagian, yaitu sampiran dan isi dan mementingkan kaidah bunyi atau permainan bunyi.

Mantra dalam tulisan ini adalah sarana komunikasi antara masyarakat Hindu Bali dengan Tuhannya dan bhuta kala. Sarana tersebut berupa bahasa Kawi-Bali, yaitu bahasa Kawi atau Jawa Kuno bercampur dengan bahasa Bali. Sedangkan saa sěgěhan adalah bahasa sebagai sarana komunikasi antara masyarakat Hindu dengan bhuta kala berupa bahasa Bali. Dilihat dari strukturnya, saa sebagai sebuah wacana tersusun atas kosa kata bahasa Bali.

2.2 Mantra dan Saa Sěgěhan

Ritual sěgěhan adalah sebuah ritual dalam masyarakat Hindu di Bali yang termasuk dalam ritual bhuta yadnya ’persembahan kepada bhuta kala’. Ritual Sěgěhan adalah sebuah komunikasi masyarakat Hindu Bali dengan Tuhan atau manifestasi-Nya sebagai bhuta kala dan pengikut-Nya. Ritual tersebut dilaksanakan pada sasih kenem ’bulan keenam’ dan sasih kesanga ’bulan kesembilan’ pada penanggalan Bali (Pemda Provinsi Bali, 2005: 44). Kenyataannya di masyarakat, wacana ritual sěgěhan dilaksanakan setiap hari (sěgěhan saiban), setiap lima hari sekali, atau setiap kliwon, setiap lima belas hari sekali (kajeng kliwon), purnama, tilem atau hari-hari yang dianggap perlu. Berikut adalah wacana yang dikutif dari Lontar Siwagama.

“Mojar Sri Gondhararaja, lingira: lahya kamung tanda mantri sadaya, rengwaken wacana mami, yeki pranidanangku, kateka-tekéng pratisantananta hlom, haywa wismrti, haywa kita tan sthiti bhakti ring déwa, mwang ri sang mahabrahmana, ikang sinanggah pangupadhyayan, hisnira Sang Rsi Siddhayoga, sahitya ri sang prabhu, maka wungkalang dharma satya, muwah ri sedangta amangan, haywa tan pabanten, yajnasésa ngaranya, ikang sěga pinanganta lana. Kunang wédanata, kanista ring trisiwa byantara, madya ring ékacandra, mottama ring sad sasih, sahitya abhyakala ning dunghulan. Muwah ri tekaning satahun, tawuren Hyang Kadurgadéwi, pratama ning asalin sirah, ri tilem ing cétramasa.”(Siwagama: 134)

Terjemahan bebas:

‘Raja Gondharapati berkata, katanya: “Wahai para menteri sekalian, dengarkanlah perintahku, ini merupakan hasratku, termasuk kepada seluruh keturunanmu di kemudian hari, janganlah lupa, janganlah kalian tiada berbakti kepada dewa dan kepada para brahmana, yang disebut perguruan, keturunan Bagawan Siddhayoga, tiada henti-hentinya kepada sang raja, sebagai dasar pelaksanaan ajaran agama, dan pada saat kau makan, jangan tidak membuat sesajen, yadnya sésa namanya, dari nasi yang kau makan setiap hari. Adapun aturan pelaksanaan upacara yang patut dilakukan olehmu adalah pada tingkatan sederhana dilakukan setiap Kajeng Kliwon. Upacara pada tingkat menengah dilakukan setiap bulan. Upacara tingkat utama dilakukan setiap enam bulan. Tiada henti-hentinya melakukan upacara peruwatan untuk Bhuta Kala Tiga pada wuku Dungulan. Dan pada setiap tahun wajib melakukan upacara tawur kepada Hyang Durgadéwi, pada saat pergantian tahun Saka, pada bulan mati kesembilan’ (Suarka dkk., 2005: 285—286).

2.2.1 Mantra Sěgěhan Saiban

“Sa Ba Ta A I,

Panca Maha Bhutaya namah suaha,

éndahta Kita watek tiryak,

gumatap-gumitip,

kumratap-kumritip,

muah sarwa prani,

sarwa mletik,

ingsun ki manusa anyupat papanta,

tinebusan déning mertha,

muah anebusaken dosan ingsun amati-mati,

riwekasan yan Sira manumadi,

menadi Sira manusa mautama,

Ong sah wésat namah suaha” (Sudarsana, 2001: 95—96).

Terjemahan bebas:

‘Ya Tuhan yang dilambangkan dengan aksara Sa Ba Ta A I,

yang disebut sebagai Sang Hyang Panca Maha Bhuta,

berbahagialah Engkau para binatang,

semua yang bergerak,

kumratap-kumritip

dan sěgala yang hidup,

sěgala yang tumbuh,

aku manusia yang akan meruwat-Mu,

mengubah menjadi kebaikan,

dan menebus dosaku yang telah membunuh,

suatu saat apabila Kau menjelma,

menjadilah Engkau manusia yang utama,

ya Tuhan semoga sirna’.

2.2.2 Mantra Sěgěhan Saiban di Dapur

“Singgih Ratu Bhatara Brahma,

titiyang ngaturang banten nasi,

sakasida antuk titiyang maturan,

mangda lédang I Ratu amuktisari,

riwus amukti mangda lédang ngamijilang kasidian,

titiyang sekeluarga nunas kerahayuan,

suksma aturang titiyang”.

Terjemahan bebas:

‘Hormatku Paduka Dewa Brahma,

hamba menghaturkan suguhan nasi,

sebisanya yang hamba haturkan,

sudi kiranya Engkau menikmati,

selesai menikmati sudi kiranya memberi anugerah,

hamba sekeluarga mohon keselamatan,

terima kasih’.

2.2.3 Mantra Sěgěhan Pulangan/Kěpěl Mancawarna

“Sa, Ba, Ta, A, I,

Panca Maha Bhutaya namah suaha,

ih Kita Sang Bhuta Putih,

metu Sira saking wétan,

Bhuta Abang metu saking kidul,

Bhuta Kuning metu saking kulon,

Bhuta Ireng metu saking lor,

Bhuta Brumbun metu saking madya,

mari Sira mona,

saksinin ingsun pawéh Sira tadah saji ganjaran,

maka sěga manca warna,

lelaban bawang jahé uyah areng,

pilih kabélanira soang-soang,

iki tadah sajinira,

wus anadah saji,

raksanen kang bhuwana kabéh,

manadi trepti paripurna,

riwus amuktisari,

pamantuk Sira ring déwatan Sira soang-soang,

Ang Ah mertha bhutaya namah suaha” (Sudarsana, 2001: 95).

Terjemahan bebas:

‘Ya Tuhan yang disimbolkan deng aksara Sa, Ba, Ta, A, dan I,

terpujilah Engkau sebagai Sang Hyang Panca Maha Bhuta,

wahai Engkau Sang Bhuta Putih,

keluarlah Engkau dari Timur,

Bhuta Abang keluar dari Selatan,

Bhuta Kuning keluar dari Barat,

Bhuta Ireng keluar dari Utara,

Bhuta Brumbun keluar dari tengah,

datang dan diamlah Engkau,

saksikanlah hamba memberikan Engkau suguhan,

sebagai nasi lima warna,

dengan lauk bawang jahe garam dan arang,

ambillah bagian-Mu masing-masing,

nikmatilah persembahan untuk-Mu,

selesai menikmati hidangan persembahan,

jagalah seluruh dunia ini,

agar aman tentram damai,

selesai bersantap,

kembalilah ke asal-Mu masing-masing,

Ya Tuhan yang disimbolkan dengan aksara Ang Ah

anugerahkanlah berkat-Mu melalui wujud para bhuta’.

2.2.4 Saa Sěgěhan Pulangan

“Singgih Ratu Sang Hyang Panca Maha Bhuta,

Ratu Ngurah, Ratu Wayan, Ratu Madé, Ratu Nyoman, Ratu Ketut,

titiyang ngaturang sěgěhan pulangan,

durusang amuktisari sareng sami,

wéhin taler Sang Catur Sanak,

Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspatiraja,

risampun amuktisari,

mangda lédang ngamijilang kesidian,

titiyang nunas keselametan kerahayuan sekeluarga,

antuk kekirangan atur miwah aturanipun,

titiyang nunas geng sinampura”.

Terjemahan bebas:

‘Hormatku Paduka Sang Hyang Panca Maha Bhuta,

Ratu Ngurah, Ratu Wayan, Ratu Madé, Ratu Nyoman, Ratu Ketut,

hamba haturkan sěgěhan pulangan,

silakan nikmati bersama-sama,

berikanlah juga kepada empat bersaudara,

Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspatiraja,

setelah menikmati,

sudi kiranya menganugerahkan kesaktian,

hamba sekeluarga mohon keselamatan,

atas sěgala kekurangannya,

hamba mohon maaf’.

2.2.5 Mantra Sěgěhan Kěpěl Putih Kuning

“Sa, Ba, Ta, A, I,

sarwa bhutaya namah swaha,

ih Kita Sang Butha Narésswari,

metu Kita saking sunia,

angadeg ring madyaning bumi,

iki saksinin ingsun pawéh Sira tadah,

maka saji sěga putih kuning,

lalaban bawang jahé,

uyah areng,

iki tadah sajinira,

wus anadah saji,

angawé suka subagia Sira maring bhumi,

muah ring sanak keluarganku,

ngeraris Sira amuktisari,

wus amuktisari,

sumurup Sira ring Dangkahyangan Sira,

Ang Ah mertha bhutaya namah suaha” (Sudarsana, 2001: 93—94).

Terjemahan bebas:

Sa, Ba, Ta, A, I,

semua yang disebut sebagai bhuta,

wahai Engkau Sang Bhuta Naresswari,

keluarlah Engkau dari kesunyian,

berdiri di tengah-ten gah dunia,

saksikanlah aku memberi Engkau makanan,

sebagai suguhan adalah nasi putih kuning,

lauk bawang jahe,

garam (dan) arang,

nikmatilah makanan untuk-Mu,

selesai makan makanan,

buatlah kesenangan oleh-Mu di dunia,

dan terhadap sanak saudaraku,

silakan Engkau menikmati,

selesai menikmati,

kembalilah Engkau ke asal-Mu,

ya Tuhan yang disimbolkan dengan aksara Ang Ah

anugerahkanlah berkah-Mu melalui wujud para bhuta’.

2.2.6 Saa Sěgěhan Putih Kuning

“Singgih Ratu sesuhunan titiyang,

Raja Dewata-Dewati leluhur sareng sami,

titiyang ngaturang sěgěhan putih kuning,

mangda lédang amuktisari sareng sami,

riwus amuktisari,

ledang I Ratu mapaica kesidian,

mangda lédang nuntun titiyang sekeluarga,

ngrereh sandang pangan kinum muah artha brana,

mangda titiyang nénten kirangan sandang pangan kinum lan artha brana,

asapunika pinunas titiyang,

antuk kekiranganipun titiyang nunas pangampura”.

Terjemahan bebas:

‘Hormat kepada-Mu junjungan hamba,

para leluhurku semuanya,

hamba haturkan sěgěhan putih kuning,

sudi kiranya menikmati bersama-sama,

selesai menikmati,

sudilah Engkau memberi anugerah,

sudi kiranya Engkau menuntun hamba sekeluarga,

mencari sandang pangan minuman dan harta benda,

agar hamba tidak kekurangan sandang pangan minuman dan harta

benda,

begitulah permohonan hamba,

atas kekurangannya hamba mohon maaf’.

2.2.7 Mantra Sěgěhan Sasah

“Ong Ang Durgha Bhucari yanamah suaha,

ih Kita Durgha Bhucari,

metu Sira saking sunia,

ingsun pawéh tadah,

saji ganjaran sěga sasah,

iki tadah sajinira,

ngraris amuktisari,

wus Sira amuktisari,

aja angadakaken lara roga kageringan,

angadakaken urip kekarén waras,

dirghayusa ring manusa,

mantuk Sira maring Dang Kahyangan Sira” (Sudarsana, 2001: 82).

Terjemahan bebas:

‘Ya Tuhan yang lambangkan dengan aksara Ang

yang disebut Durgha Bhucari,

wahai Engkau Durga Bhucari,

keluarlah Engkau dari kesunyian,

aku berikan makanan,

upah makanan berupa nasi sasah,

nikmatilah makanan-Mu,

silakan menikmati,

setelah Engkau menikmati,

janganlah membuat berbagai macam penyakit,

ciptakanlah kehidupan yang tertib,

panjang umur pada manusia,

pulanglah Engkau ke asal-Mu’.

2.2.8 Mantra Sěgěhan Sasah Brumbun

“Sa, Ba, Ta, A, I,

Panca Maha Bhutaya namah suaha,

ih Sira Dhurga Bhucari,

metu Kita saking madya,

iki ingsun pawéh sira tadah saji ganjaran,

maka sěga sasah brumbun,

iki tadah sajinira,

wus anadah saji,

aja Sira angadakaken lara roga,

kageringan ring jagaté,

angadakaken Sira urip waras dirghayusa,

ngraris Sira amuktisari,

sumurup Sira ring Bhetari Dhurga,

Ang Ah mertha bhutaya namah suaha” (Sudarsana, 2001: 95)

Terjemahan bebas:

‘Sa, Ba, Ta, A, I,

yang dikenal dengan Panca Maha Bhuta,

wahai Engkau Durga Bucari,

keluarlah Engkau dari tengah,

aku berikan Engkau upah makanan,

berwujud nasi berwarna brumbun,

nikmatilah makananmu,

selesai menikmati,

janganlah Engkau membuat berbagai penyakit,

kesengsaraan di dunia,

ciptakanlah kehidupan yang wajar dan umur panjang,

silakan menikmati,

kembalilah Engkau ke Dewi Durga,

ya Tuhan yang disimbolkan dengan aksara Ang Ah anugerahkanlah

berkah-Mu melalui wujud para bhuta’.

2.2.9 Saa Sěgěhan Cah-Cahan

“Singgih Ratu Sang Bhuta Raja, Kala Raja, Yaksa Raja,

Sang Bhuta Bala, Kala Bala, Yaksa Bala,

puniki titiyang ngaturang sěgěhan nasi cah-cah,

mangda lédang ngwehin para ancangan, bala, wadwa druwéné,

risampun pada amukti saji,

mangda lédang ngamijilang kesidian,

titiyang sekeluarga nunas kerahayuan,

antuk kekiranganipun titiyang nunas pangampura.”

Terjemahan bebas:

‘Hormat kepada raja para Bhuta, Kala, dan Yaksa,

pengikut para bhuta, kala, dan yaksa,

ini hamba persembahkan sěgěhan nasi cahcah,

sudi kiranya Engkau memberikan para pengikut-Mu,

setelah semua menikmati,

sudi kiranya Engkau memberikan anugerah,

hamba sekeluarga mohon keselamatan,

atas kekurangannya hamba mohon maaf’.

2.2.10 Mantra Sěgěhan Agung

“Ong Sang Hyang Purusangkara anugraha ring Sang Kala Sakti,

Sang Hyang Rudra anugraha ring Sang Kala Wisésa,

Sang Durga Dewi anugraha ring Sang Kala Dengen,

ameng-ameng padanira Paduka Bhatara Sakti,

anunggu ri bhumi,

ri pura parhyangan,

ring natar paumahan,

salwir lemah angker,

manusa aweh tadah saji Sira watek Kala Bhuta kabéh,

iti tadah sajinira,

sěga iwak sambléh,

asing kirang asing luput,

nyata pipis sabundel patukune Sira ring pasar agung,

pilih kabélanira ajaken Sang Kalanira kabéh,

nyah Kita saking kéné,

hapan Sira sampun sinaksénan,

wéhana manusanira urip waras,

dhirgayusa,

Ong Kala bhoktaya namah,

bhuta bhoktaya namah,

pisaca bhoktaya namah,

dhurga bhoktaya namah” (Arwati, 1992: 35-36; PY, 2005: 117).

Terjemahan bebas:

‘Ya Tuhan sebagai Sang Hyang Purusangkara menjelma sebagai

Sang Kala Sakti,

Sang Hyang Rudra menjelma sebagai Sang Kala Wisesa,

Sang Durgha Dewi menjelma menjadi Sang Kala Dengen,

bersenang-senanglah Engkau Paduka Bhatara Sakti,

menjaga dunia,

di tempat suci,

di pekarangan rumah,

setiap tempat yang angker,

hamba menghaturkan sajen kepada-Mu Bhuta Kala sekalian,

nikmatilah persembahan (untuk)-Mu,

nasi lengkap dengan lauk yang dipotong,

atas kekurangan dan kelebihannya,

ini adalah uang satu bendel berbelanjalah Engkau di pasar agung,

ajaklah semua pengikut-Mu,

pergilah Engkau dari sini,

karena Engkau sudah hadir,

berikanlah hamba kesehatan,

umur panjang,

ya Tuhan sebagai kala restuilah,

bhuta restuilah,

pisaca restuilah,

durga restuilah’.

2.2.11 Mantra Sěgěhan Agung

“Ih Kita Sang Kala Bala,

Sang Yaksa Bala,

Sang Kala Bhumi,

muah raksasa bala,

mari Sira,

ingsun pawéh Sira sěga ganjaran sěga agung,

muah ganjaran rah ayam ireng,

iki tadah sajinira,

ngraris muktisari,

wus Sira muktisari,

aja lupa ring tutur-tutur Sang Hyang Dharma,

muah pawéha manusanira kedirghayusan,

sumurupa Sira manadi prawatek widyadara-widyadari,

Ong Ing namah” (Sudarsana, 2001: 84)

Terjemahan bebas:

‘Wahai Engkau Sang Kala Bala,

Sang Yaksa Bala,

Sang Kala Bhumi,

dan pengikut para raksasa,

berbahagialah Engkau,

hamba berikan Engkau persembahan sěgěhan agung,

dan persembahan darah ayam hitam,

nikmatilah persembahan untuk-Mu,

silakan menikmati,

setelah Engkau menikmati,

janganlah lupa kepada ajaran Sang Hyang Dharma,

dan anugerahkanlah kepada hamba umur yang panjang,

menjelmalah Engkau menjadi bidadara dan bidadari,

terpujilah Tuhan yang disimbolkan dengan aksara Ing’.

2.2.12 Saa Sěgěhan Wong-Wongan Putih

“Singgih Ratu Sang Bhuta Raja Bhuta Bala,

titiyang ngaturang sěgahan wong-wongan putih,

maiwak bawang jahé jajeron matah,

pinaka pengantin jiwa pramanan titiyang sekeluarga,

durus pada amuktisari,

riwus amuktisari,

lédang sareng sami micayang kesidiyan,

titiyang nunas keselametan,

dirgahayu dirgayusa,

luput ring sehananing pancabaya,

asapunika pinunas titiyang,

kirang langkung antuk titiyang,

mogi lédang I Ratu ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Hormat Tuanku Sang Bhuta Raja dan Bhuta Bala,

hamba menghaturkan sěgěhan wong-wongan berwarna putih,

dengan lauk bawang jahe dan jeroan mentah,

sebagai pengganti jiwa hamba sekeluarga,

silakan menikmati,

setelah menikmati,

sudilah Engkau sekalian mengeluarkan kesaktian,

hamba mohon keselametan,

selamat dan panjang umur,

bebas dari sěgala mara bahaya,

begitulah permohonan hamba,

kurang lebih oleh hamba,

semoga Engkau memaafkan’.

2.2.13 Saa Sěgěhan Wong-Wongan Brumbun

“Singgih Ratu Sang Kala Raja Kala Bala,

titiyang ngaturang sěgahan wong-wongan brumbun,

maiwak bawang jahé jějěron matah,

pinaka pengantin jiwa pramanan titiyang sekeluarga,

durus pada amuktisari,

riwus amuktisari,

lédang sareng sami micayang kesidian,

titiyang nunas keselametan,

dirgahayu dirgayusa,

luput ring sehananing pancabaya,

asapunika pinunas titiyang,

kirang langkung antuk titiyang,

mogi lédang I Ratu ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Hormat Tuanku Sang Bhuta Raja dan Bhuta Bala,

hamba menghaturkan sěgěhan wong-wongan berwarna putih,

dengan lauk bawang jahe dan jeroan mentah,

sebagai pengganti jiwa hamba sekeluarga,

silakan menikmati,

setelah menikmati,

sudilah Engkau sekalian mengeluarkan kesaktian,

hamba mohon keselamatan,

selamat dan panjang umur,

bebas dari sěgala mara bahaya,

begitulah permohonan hamba,

kurang lebih oleh hamba,

semoga Engkau memaafkan’.

2.2.14 Saa Sěgěhan Kěpěl Gede

“Singgih Ratu sasuhunan titiyang Sang Adikala,,

lédang I Ratu rawuh,

titiyang ngaturang sěgěhan kěpěl gedé,

maiwak bawang jahé miwah jějěron matah,

durus I Ratu amuktisari,

risampun amuktisari,

mangda lédang ngamijilang kasidian,

titiyang nunas kerahayuan lan panjang yusa,

antuk kekirangan titiyang,

lédang I Ratu ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Hormat pada Paduka junjungan hamba yang disebut Sang Adikala,

sudi kiranya Engkau datang,

hamba persembahkan sěgěhan kěpěl gedé,

dengan lauk bawang jahe (dan) jeroan mentah,

silakan Engkau menikmati,

setelah bersantap,

sudi kiranya Engkau menganugerahkan kekuatan,

hamba mohon keselamatan dan panjang umur,

atas kekurangan hamba,

sudilah Engkau memaafkan’.

2.2.15 Saa Sěgěhan Tuutan

“Singgih Ratu sasuhunan titiyang Ratu Gedé Mecaling,

mangda lédang I ratu rawuh,

puniki titiyang ngaturang sěgěhan don biyah,

mabé bawang jahé miwah sere,

durusang amuktisari,

sareng ancangan, bala, wadwa sami,

risampun wusan amuktisari,

mangda ledang I Ratu mapaica kesidian,

titiyang nunas mangda luput ring sehananing gring,

grubug ngutah bayar,

muah ring sasab mrana,

wantah asapunika atur titiyang,

antuk kekirangan lan kaiwangan titiyang,

lédang I Ratu ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Hormatku Paduka junjungan hamba Ratu Gedé Mecaling’

sudi kiranya Engkau datang,

ini hamba persembahkan sěgěhan don biyah,

dengan lauk bawang jahe dan terasi,

silakan menikmati,

bersama para senapati, bala tentara, dan rakyat semunya,

kalau sudah selesai bersantap,

sudi kiranya Engkau menganugerahkan kekuatan,

hamba mohon agar terbebas dari sěgala penyakit,

wabah dan muntah darah,

dan virus (serta) mara bahaya,

hanya itu permohonan hamba,

atas sěgala kekurangan dan kesalahan hamba,

sudilah Engkau memaafkan’.

2.2.16 Saa Sěgěhan Tumpěngl Putih Kuning

“Singgih Ratu Sang Hyang Nawaruci,

titiyang ngaturang sěgěhan nasi tumpěngl pucak kuning,

maiwak bawang jahe muah jějěron matah,

ledang I Ratu amuktisari,

risampun amuktisari,

mangda lédang micayang keselametan,

titiyang sekeluarga nunas dirgahayu dirgayusa,

asapunika atur titiyang,

lédang I Ratu mantuk ring dang kahyangan soang-soang,

antuk kekiranganipun,

mangda lédang ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Hormatku ya Tuhan sebagai Sang Hyang Nawaruci,

hamba menghaturkan sěgěhan nasi tupeng puncak kuning,

dengan lauk bawang jahe dan jeroan mentah,

sudilah Engkau menikmati,

selesai menikmati,

sudilah menganugerahkan keselamatan,

hamba sekeluarga mohon keselamatan dan umur panjang,

begitulah permakluman hamba,

sudilah Engkau kembali ke asal-Mu masing-masing,

atas kekurangannya,

sudi kiranya memaafkan’.

2.2.17 Saa Sěgěhan Tulak

2.2.17.1 Saa Sěgěhan Sliwah

“Ratu sasuhunan titiyang Sang Bhuta Sliwah,

titiyang ngaturang sěgěhan sliwah,

mabé bawang jahé muah jějěron matah,

durus amuktisari,

wus punika lédang ngamijilang kesidian,

mangda sehananing wisya tan ngawisyanin,

sehananing cetik dadi tawar,

sehananing lara tan ngalaranin ring angga sariran titiyang,

asapunika pinunas titiyang,

yaning wénten kekiranganipun mangda lédang ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Tuanku sesembahan hamba Sang Bhuta Sliwah,

hamba mempersembahkan sěgěhan sliwah,

dengan lauk bawang jahe dan jeroan mentah,

silakan menikmati,

setelah itu sudilah mengeluarkan kesaktian,

agar sěgala bisa tidak menyebabkan sakit,

sěgala racun menjadi tawar,

sěgala penyakit tidak terasa sakit di dalam tubuh hamba,

begitulah permohonan hamba,

kalau ada kekurangannya hamba mohon maaf’.

2.2.17.2 Saa Sěgěhan Kěpěl Poleng

“Ratu sasuhunan titiyang Sang Bhuta Poléng,

titiyang ngaturang sěgěhan kěpěl poléng,

mabé bawang jahé muah jějěron matah,

durus amuktisari,

wus punika ledang ngamijilang kesidian,

mangda lédang I Ratu mancut kesidian pagawé ala,

minakadi cetik, wisya, papasangan, acep-acepan,

sané katiba ring angga sariran titiyang

asapunika pinunas titiyang,

yaning wénten kekiranganipun mangda lédang ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Tuanku sesembahan hamba Sang Bhuta Poléng,

hamba mempersembahkan sěgěhan kěpěl poléng,

dengan lauk bawang jahe dan jeroan mentah,

silakan menikmati,

setelah itu sudilah mengeluarkan kesaktian,

sudilah Engkau menghilangkan pengaruh hal yang tidak baik’

seperti racun, bisa, pepasangan, teluh,

yang ditujukan kepada diri hamba,

begitulah permohonan hamba,

kalau ada kekurangannya sudi kiranya memaafkan’.

2.2.17.3 Saa Sěgěhan Tulak

“Ratu sasuhunan titiyang Sang Bhuta Mandi,

titiyang ngaturang sěgěhan tulak,

mabé bawang jahé muah jějěron matah,

durus amuktisari,

wus punika lédang ngamijilang kesidian,

mangda lédang I Ratu nulak sehananing ala,

minakadi cetik, wisya, papasangan, acep-acepan,

sané katiba ring angga sariran titiyang

mangda mawalik ring sang agawé ala,

asapunika pinunas titiyang,

yaning wénten kekiranganipun mangda lédang ngampurayang”.

Terjemahan bebas:

‘Tuanku sesembahan hamba Sang Bhuta Mandi,

hamba mempersembahkan sěgěhan tulak,

dengan lauk bawang jahe dan jeroan mentah,

silakan menikmati,

setelah itu sudilah mengeluarkan kesaktian,

sudi kiranya Engkau menolak sěgala hal yang tidak baik,

seperti racun, bisa, pepasangan, teluh,

yang ditujukan kepada diri hamba,

agar kembali kepada orang yang berbuat tidak baik,

begitulah permohonan hamba,

kalau ada kekurangannya sudi kiranya memaafkan’.

2.2.18 Mantra Sěgěhan Kěpěl Sliwah

“Sa Ba Ta A I,

sarwa bhutaya namah swaha,

ih Kita Sang Butha Naréswari,

metu Kita saking sunia,

angadeg ring madyaning bumi,

iki saksinin ingsun pawéh Sira tadah,

maka saji sěga kěpěl sliwah,

lelaban bawang jahé,

uyah areng,

iki tadah sajinira,

wus anadah saji,

angawé suka subagia Sira maring bhumi,

muah ring sanak keluarganku,

ngeraris Sira amuktisari,

wus amuktisari,

sumurup Sira ring dang kahyangan Sira,

Ang Ah mertha bhutaya namah suaha” (Sudarsana, 2001: 94).

Terjemahan bebas:

‘Sa Ba Ta A I,

semua yang disebut sebagai bhuta kala,

wahai Engkau Sang Butha Naresswari,

keluarlah Engkau dari kesunyian,

berdiri di tengah-tengah dunia,

saksikanlah aku memberikan-Mu suguhan,

suguhan berupa nasi kěpěl sliwah,

lauknya bawang jahe,

garam dan arang,

nikmatilah suguhan-Mu

silakan menikmati,

setelah makan suguhan,

ciptakanlah kesenangan ketentraman di dunia,

dan kepada sanak keluargaku,

silakan Engkau menikmati,

selesai menikamti,

kembalilah Engkau ke asal-Mu,

ya Tuhan yang disimbolkan dengan aksara Ang Ah anugerahkanlah

berkah-Mu melalui wujud para bhuta’.

2.2.19 Mantra Sěgěhan Sěgěhan Kěpěl Poleng

“Sa Ba Ta A I,

sarwa bhutaya namah swaha,

ih Kita Sang Butha Narésswari,

metu Kita saking sunia,

angadeg ring madyaning bumi,

iki saksinin ingsun pawéh Sira tadah,

maka saji sěga kěpěl poléng,

lalaban bawang jahé,

uyah areng,

iki tadah sajinira,

wus anadah saji,

anggawé suka subagia Sira maring bhumi,

muah ring sanak keluarganku,

ngeraris Sira amuktisari,

wus amuktisari,

sumurup Sira ring dang kahyangan Sira,

Ang Ah mertha bhutaya namah suaha” (Sudarsana, 2001: 94).

Terjemahan bebas:

‘Sa Ba Ta A I,

semua yang disebut sebagai bhuta kala,

wahai Engkau Sang Butha Naresswari,

keluarlah Engkau dari kesunyian,

berdiri di tengah-tengah dunia,

saksikanlah aku memberikan-Mu suguhan,

suguhan berupa nasi kěpěl poleng,

lauknya bawang jahe,

garam dan arang,

nikmatilah suguhan-Mu

silakan menikmati,

setelah makan suguhan,

ciptakanlah kesenangan ketentraman di dunia,

dan kepada sanak keluargaku,

silakan Engkau menikmati,

selesai menikamti,

kembalilah Engkau ke asal-Mu,

ya Tuhan yang disimbolkan dengan aksara Ang Ah anugerahkanlah

berkah-Mu melalui wujud para bhuta’.

2.2.20 Mantra Sěgěhan dalam Caru Pancasata

“Pukulun Bhatari Dhurga,

sampun katur bakti caru ring Paduka Bhatari,

mwah sampun kabukti para manca caruné ring pancabuthan Paduka Bhatari,

ica Paduka Bhatari ngaluwarang,

parama bhuta pada budal ring pakayangan,

wusan sampun,

mantuk Paduka Bhatari,

anuwut p ěpénjoran,

Ong Ang Ung Mang,

Dewa bhuta mauwaran,

manusa nglungsur paridan,

duluran rahayu,

Ong Ang Mang “ (KS: 15).

Terjemahan bebas:

‘Hormat (ku) Bhatari Durga,

sudah hamba suguhkan caru kepada-Mu,

dan sudah dinikmati oleh kelima pengikut-Mu,

berkenanlah Engkau bubar,

raja para bhuta semua kembali ke asalnya,

selesai sudah,

kembalilah Engkau,

menuruti pepénjoran,

Ong Ang Ung Mang,

dewa dan bhuta pada bubar,

manusia mohon anugerah,

dengan keselamatan,

terpujilah Tuhan yang disimbolkan dengan aksara Ang dan Mang’.

2.2.21 Mantra Sěgěhan Melaspas Etéh-Etéh Sesaté

“Ih Sang Bhuta Sangapati sarwa wigraha,

iti tadah sajinira soang-soang,

aja salah ulah silih gawé,

poma-poma-poma” (Pegal Mangsa: 15).

Terjemahan bebas:

‘Wahai Sang Bhuta Sangapati sumber bencana,

ini nikmatilah persembahan untuk-Mu masing-masing,

janganlah Engkau berbuat yang tidak semestinya,

bertuah, bertuah, bertuah’.

2.2.22 Mantra Sěgěhan pada umumnya

“Om bhuktyantu Dhurga Katara,

bhuktyantu Kala Mawaca,

bhuktyantu Bhuta Bhutangah.” (Raras, 2004: 39).

Terjemahan bebas:

‘Ya Tuhan inilah suguhan hamba kepada Durgha Katara,

suguhan kepada Kala Mawaca,

dan suguhan kepada Bhuta Butangah’.

2.2.23 Mantra Sěgěhan saat Penampahan Galungan

“Pukulun Sira Kaki Bagawan Galungan,

Bhetara Kala Bhetara Jabung,

iki pasuguhan manusanta lawan Sira,

Sang Kala samadaya,

lan tarimanen,

asing kirang asing luput,

iki pirak 200,

maka panukunia manusa,

aneda rahayu,

suastiastu suaha” (Jaya Kasunu: 23).

Terjemahan bebas:

‘Tuanku Kakek Bagawan Galungan,

Batara Kala dan Batara Jabung,

inilah persembahan hamba kepada-Mu,

kepada semua bhuta kala,

dan terimalah,

kalau ada kekurangan,

ini uang perak 200,

sebagai pengganti manusia,

mohon keselamatan,

semoga selamat’.

BAB III

WUJUD RITUAL DAN MAKNA SĚGĚHAN

3.1 Pengantar

Sěgěhan, oleh sebagian masyarakat Bali, misalnya di Kabupaten Badung juga dikenal dengan sebutan blabaran. Kata blabaran berasal dari kata blabar ’banjir’, mendapat sufiks –an menjadi blabaran berarti ‘kebanjiran’. Konon, sebutan itu digunakan berdasarkan mimpi yang dialami seseorang. Maksudnya, apabila ada orang yang bermimpi terkena musibah banjir atau kebanjiran, itu adalah pertanda buruk. Sehubungan dengan itu, orang yang bersangkutan harus segera mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan atau manifestasi-Nya untuk menangkal mara bahaya yang mungkin akan menimpanya. Persembahan untuk menangkal bahaya tersebut di Bali dikenal dengan sěgěhan. Sěgěhan adalah ritual kurban atau caru dalam tingkatan kecil atau sederhana. Tingkatan yang lebih besar lagi disebut dengan tawur.

Sěgěhan sebagai sebuah wujud ritual dalam masyarakat Hindu di Bali memiliki bentuk yang beraneka ragam, sesuai dengan keperluan. Sěgěhan adalah kurban atau ritual persembahan yang bukan bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur. Secara umum, fungsi sěgěhan ada empat, yaitu 1) untuk sarana persembahan, 2) untuk permohonan, 3) untuk penghormatan, dan 4) untuk membayar hutang (Bhuta Rnam).

Wujud ritual dalam hal ini adalah rupa atau bentuk ritual sěgěhan. Wujud ritual sěgěhan itu bermacam-macam sesuai dengan tujuan pembuatan dan permohonannya. Bagaimanapun wujudnya, bahan utamanya tidaklah berbeda, yaitu nasi atau sěga. Yang berbeda-beda antara di suatu daerah dan daerah lainnya adalah alas yang digunakan. Di beberapa daerah menggunakan daun pisang sebagai alas, dan di daerah yang lainnya menggunakan janur. Selain itu, ada juga masyarakat yang menggunakan daun pohon dadap atau daun pohon yang lain sebagai alasnya.

Seperti telah dijelaskan di depan, sěgěhan adalah wujud ritual kurban yang ditujukan kepada para bhuta kala beserta pengikut-Nya. Sebagai sebuah ritual kurban, sěgěhan adalah wujud ritual berupa nasi yang dibentuk sedemikian rupa yang dilengkapi dengan lauk bawang, jahe, darah, dan sebagainya. Sebagai minumannya adalah lima jenis cairan, yaitu 1) arak, 2) tuak, 3) b ěr ěm, 4) darah, dan 5) air.

Hal itu sejalan dengan pendapat Dhavamony (2002: 214) yang mengatakan bahwa, upacara kurban adalah persembahan ritual berupa makanan atau minuman atau binatang, sebagai konsumsi bagi suatu mahluk supernatural.

Berbicara masalah wujud ritual atau bentuk, dalam hal ini tidak bisa lepas dari fungsi dan makna. Artinya, di dalam wujud ritual atau bentuk-bentuk sěgěhan itu terkemas fungsi dan makna. Dalam tulisan ini fungsi tidak dibahas secara khusus, karena sudah sangat jelas. Makna dalam bab ini adalah makna kontekstual, yaitu makna yang ada di balik wacana ritual sěgěhan masing-masing. Untuk lebih jelasnya, tentang wujud ritual dan makna wacana sěgěhan yang dimaksud akan diuraikan satu persatu berikut ini.

3.2 Sěgěhan Saiban

Saiban adalah sajen kecil setiap habis memasak (Dinas Pendidikan Dasar Propinsi Dati I Bali, 1991: 596). Sěgěhan Saiban adalah sěgěhan yang dipersembahkan oleh masyarakat Hindu Bali setiap hari. Wujud sěgěhan tersebut berupa nasi dengan alas daun pisang atau daun pohon yang lainnya yang berukuran kurang lebih 5 cm. Persembahan tersebut dibuat lengkap dengan lauknya. Lauknya sesuai dengan apa yang dimasak. Artinya, tidak ada suatu keharusan untuk menghaturkan lauk tertentu. Apa yang dimasak oleh masyarakat Hindu Bali, itulah yang menjadi lauknya.

Sěgěhan saiban bagi sebagian masyarakat juga disebut sebagai banten jotan. Menurut Lontar Dharmasastra seorang kepala keluarga mempunyai lima macam penyembelihan, yaitu tempat memasak, batu pengasah, sapu, lesung/lumpang dengan alunya, dan tempayan/tempat air. Sěgěhan saiban hendaknya dipersembahkan hanya kepada alat-alat tersebut (Swarsi, 2003: 84).

Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, alat-alat seperti tersebut di atas memiliki jasa yang amat besar dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, apapun yang dimakan oleh mereka harus dipersembahkan kepada alat-alat tersebut.

Sěgěhan saiban dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Hindu di Bali tidak hanya dipersembahkan kepada peralatan tersebut di atas, tetapi juga kepada dewa-dewa atau manifestasi Tuhan dan bhuta kala di setiap tempat yang umumnya digunakan sebagai tempat persembahyangan seperti tempat beras, pelangkiran, halaman rumah, sanggah/ merajan, lebuh atau jalan.

Sěgěhan saiban mengandung makna sebagai ungkapan terima kasih atau rasa syukur masyarakat Hindu Bali kepada Tuhan, bhuta kala dan sebagai ungkapan terima kasih kepada benda-benda ciptaan-Nya yang telah banyak berjasa dalam kehidupan di dunia ini.

Menurut Sudarsana (2001: 86—87), sěgěhan saiban mengandung makna sebagai sarana pengeruat/penyupatan terhadap mahluk-mahluk selain manusia karena tergolong mahluk papa. Hanya manusialah diharapkan melakukan penyupatan agar nanti kalau reinkarnasi dapat menjadi manusia. Di samping itu, memiliki nilai tinggi terhadap karma manusia karena disadari bahwa sěgala sesuatu yang dimakan adalah berkat ciptaan-Nya. Oleh karena itu, sěgala sesuatu yang akan dimakan hendaknya terlebih dahulu dipersembahkan kepada-Nya.

Pernyataan tersebut terangkum dalam kitab suci Bhagawad Githa Bab III sloka 13 sebagai berikut.

Yajña-sistasinah santo

mucyanté sarva-kilbisaih,

bhuñjaté té tv agham papa

yé pacanty atma-karanat.

Terjemahan:

‘Ia yang memakan siasa yadnya akan terlepas dari dosa, (tetapi) ia yang memasak makanan bagi diri sendiri, sesungguhnya makan dosa.’

Adapun yang dimaksud dengan sisa yadnya adalah semua makanan yang diperoleh setelah terlebih dahulu sebagain disajikan kepada yang patut diberi sajian atau Pribadi Yang paling Utama. Orang yang menyantap makanan sisa dari yang telah disajikan itu, dianggap bebas dari dosa dan kesalahan. Orang yang menanak nasi untuk diri sendiri tanpa ngejot, itulah yang disebut bersalah. Orang yang menyiapkan makanan untuk kepuasan diri tidak hanya menjadi pencuri, tetapi juga memakan sěgala jenis dosa (Pudja, 2005: 86—87), (Sri Srimad, 2000: 178).

3.3 Sěgěhan Pulangan

Sěgahan pulangan adalah salah satu jenis sěgěhan yang terdiri atas lima wujud, yaitu putih, kuning, barak ‘merah’, selem ’hitam’, dan brumbun ’campuran warna merah, putih, dan hitam’. Masyarakat Hindu kebanyakan, menyebutnya sebagai sěgěhan mancawarna ‘lima warna’. Artinya, sěgěhan pulangan disamakan dengan sěgěhan mancawarna. Namun, kalau dikaji lebih jauh, sěgěhan pulangan tidaklah sama dengan sěgěhan mancawarna. Berikut adalah wujud sěgěhan Pulangan.

Sěgěhan pulangan adalah lambang persembahan kepada perwujudan Sang Hyang Panca Dewata sebagai lima bhuta. Bentuknya adalah seperti tersebut di atas. Sedangkan sěgěhan mancawarna adalah lambang persembahan kepada Sang Bhuta Mancawarna. Bentuk dan warnanya berbeda, yaitu memakai satu alas dengan lima warna yang digabung menjadi satu. Berbeda dengan sěgěhan pulangan yang memakai lima alas.

Pemahaman masyarakat tentang warna brumbun itu sendiri pun berbeda-beda. Ada yang mengatakan bahwa warna brumbun itu terdiri atas campuran lima warna, dan ada pula yang mengatakan empat warna. Namun kenyataannya, yang disebut brumbun itu terdiri atas tiga warna, yaitu merah, putih, dan hitam. Begitu pula halnya dengan mancawarna yang sebenarnya terdiri atas 4 warna (merah, putih, kuning, dan hitam). Mengapa pula selanjutnya disebut pancawarna? Karena, ada satu warna lagi sebagai campuran atas keempat warna tersebut.

Sěgěhan pulangan seperti tersebut di atas mengandung makna sebagai wujud persembahan kepada Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai perwujudan Sang Hyang Panca Dewata sebagai lima dewa penjaga penjuru mata angin. Di Timur adalah Dewa Iswara dengan warna putih, di Selatan adalah Brahma dengan warna merah, di Barat adalah Mahadéwa dengan warna kuning, di Utara adalah Wisnu dengan warna hitam, dan di Tengah adalah Siwa dengan warna brumbun. Kelima Dewata itu menjelma sebagai lima bhuta, yaitu Iswara menjadi Sang Bhuta Putih, Brahma menjadi Sang Bhuta Abang ’merah’, Mahadéwa menjadi Sang Bhuta Kuning, Wisnu menjadi Sang Bhuta Ireng ’hitam’, dan Siwa menjadi Sang Bhuta Mancawarna.

Sěgěhan pulangan bagi masyarakat yang mendalami filsafat Hindu, juga diartikan sebagai lambang persembahan kepada Sang Hyang Panca Maha Bhuta (I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, I Ratu Wayan Teba, I Ratu Madé Jlawung, I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, dan I Ratu Ketut Petung), melalui perwujudan-Nya sebagai Sang Catur Sanak (Anggapati, Mrajapati, Banaspati, Banaspatiraja) dan Sang Bhuta Dengen. Sěgěhan warna putih ditujukan kepada Sang Bhuta Anggapati atau I Ratu Ngurah Tangkeb Langit, warna merah ditujukan kepada Sang Bhuta Mrajapati atau I Ratu Wayan Teba, warna kuning ditujukan kepada Sang Bhuta Banaspati atau I Ratu Madé Jlawung, warna hitam ditujukan kepada Sang Bhuta Banaspatiraja atau I Ratu Nyoman Sakti Pengadangan, dan warna brumbun ditujukan kepada Sang Bhuta Dengen atau I Ratu Ketut Petung (Suastana, 2003: 3—6).

3.4 Sěgěhan Putih Kuning

Sěgěhan kěpěl putih kuning adalah sajen sěgěhan kěpěl yang berwarna putih dan kuning, beralaskan taledan, dengan lauk bawang merah, jahe, dan garam (Kamiartha, 1992: 58). Jadi, yang dimaksud dengan sěgěhan kěpěl putih kuning adalah salah satu jenis sěgěhan yang terbuat dari nasi yang dikepal dan diberi warna putih dan kuning. Di bagian atas dilengkapi dengan porosan atau canang, dan di bawahnya dilengkapi dengan lauk bawang merah, garam, dan jahe. Berikut adalah wujud ritualnya.

Warna putih dan kuning pada sěgěhan itu mengandung makna kesucian dan kebijaksanaan. Umumnya sěgěhan tersebut dipersembahkan kepada para pengikut roh-roh leluhur.

Selain untuk persembahan kepada roh leluhur, sěgěhan putih kuning juga dipersembahkan kepada Tuhan atau manifestasi-Nya yang belum diketahui secara pasti. Masyarakat Hindu di Bali menganggap bahwa sěgěhan tersebut bersifat netral atau dapat dipersembahkan kapan saja dan dimana saja kepada roh-roh ataupun manifestasi Tuhan yang dianggap suci.

Menurut Sudarsana (2001: 81), sěgěhan putih kuning mengandung makna sebagai simbol kekuatan Bhuta Nareswari yang dapat mempengaruhi jiwa manusia untuk berperilaku malas dan boros. Untuk menetralkan pengaruh itu pada diri seseorang, perlu dibuatkan sěgěhan putih kuning.

3.5 Sěgěhan Sah-Sah

Kata sah-sah adalah bentuk ulang dalam bahasa Bali yang berasal dari kata asah yang berarti ‘rata’. Kata sah-sah itu sendiri berarti ‘dibuat rata’. Sěgěhan sah-sah adalah sebuah wujud ritual sěgěhan yang nasinya ditaruh begitu saja atau terurai; tanpa warna; beralaskan daun telujungan ‘pucuk daun pisang’; dengan lauk jějěron matah ‘jeroan mentah’, uyah ‘garam’, bawang ‘bawang merah’, dan jahé ’jahe’. Adapun wujud ritualnya adalah sebagai berikut.

Sěgěhan sah-sah adalah sebuah wujud ritual yang biasanya dipersembahkan kepada para mahluk-mahluk halus seperti wong samar, deté, tonya, dan sebagainya. Secara implisit dalam Ajaran Kandapatsari dijelaskan bahwa sěgěhan sah-sah digunakan sebagai persembahan kepada mahluk halus yang berada di bawah kekuasaan Ratu Gedé Mecaling. Pada saat-saat tertentu, sěgěhan sah-sah juga digunakan sebagai lambang persembahan kepada bhuta kala yang berfungsi sebagai penjaga perbatasan yang disebut sebagai Sang Bhuta Pemali Wates.

3.6 Sěgěhan Cah-cahan

Sěgěhan cah-cahan adalah sajen sěgěhan yang beralaskan taledan yang berisi beras, benang putih, uang, base tampél, dan bijaratus (Kamiartha, 1992: 58). Sěgěhan cah-cah atau cah-cahan dalam tulisan ini adalah sebuah wujud ritual sěgěhan dengan nasi berwarna putih, yang dibentuk kecil-kecil seperti di-cah-cah ‘direcah’ dan ditaruh di atas tamas ‘alas daun kelapa yang dibentuk menyerupai piring’. Kata cah-cahan adalah kosa kata bahasa Bali yang berarti ‘recahan’. Wujud ritual sěgěhan tersebut bersama-sama dengan wujud ritual lainnya, umumnya dipersembahkan untuk ritual bhuta yadnya ‘persembahan kepada bhuta kala’ yang sederhana seperti pada saat keliwon, purnama, dan tilem (Pemprov. Bali, 2005: 115). Berikut adalah wujud ritualnya.

Sěgěhan cah-cahan yang utuh seharusnya terdiri atas atau berjumlah 133 buah. Namun, ada kalanya dibuat 108, 66, 33, atau 11 buah. Angka-angka tersebut mengandung makna sebagai berikut. Angka 133 menggambarkan bahwa sěgěhan itu ditujukan kepada bhuta kala yang seluruhnya berjumlah 133. Dalam ajaran kandapatsari dijelaskan bahwa ada 133 bhuta kala yang dikenal dalam ajaran Hindu. Dikenal dalam hal ini mengandung makna ‘diketahui nama, tugas, dan fungsinya’.

Menurut lontar Sundari Siksa, ada 1800 bhuta kala di alam ini. Berikut adalah kutipannya.

“pawilangan kala haneng bhuwana kwehnya siyu domas, yan maring umah séket pat-pat, lwirnya maring purwa pañca tang kala, ring gnéyan kutus tang kala, ring daksina siya, ring nériti tatiga, pascima pitu, ring wayabya siki, ring uttara pat-pat, ring érsanya nem-nem, ring madya kutus, ring lawanging pemesuan siki, ring kiwa tengening pemesuan sama satunggal, pasamodhayanya séket pat-pat…”

Terjemahan:

‘Menurut perhitungan bhuta kala di dunia ini berjumlah 1800, kalau di lingkungan rumah 54, yaitu di Timur berjumlah lima, di Tenggara delapan, di Selatan sembilan, di Barat tujuh, di Barat Daya tiga, di Barat Laut satu, di Utara empat, di Timur Laut enam, di Tengah delapan, di pintu masuk pekarangan satu, di kiri kanan pintu masuk pekarangan rumah sama juga berjumlah satu, seluhnya adalah lima puluh empat…’

Dalam hubungannya dengan sěgěhan cah-cahan adalah bhuta kala itu berjumlah 133. Mengapa jumlah 133 itu justru menjadi 108, 66, 33, dan 11? Hal itu disebabkan sudah ada wujud sěgěhan yang lain sebagai penggantinya, misalnya sěgěhan agung, pulangan, wong-wongan, sah-sah, dan sebagainya. Makin kecil jumlah sěgěhan cah-cahan itu disebabkan oleh makin banyak ada sěgěhan yang lain yang dianggap telah melengkapi jumlah tersebut.

3.7 Sěgěhan Agung

Sěgěhan agung adalah sěgěhan yang beralaskan nyiru yang berisi nasi, bawang merah, jahe, garam, dan uang (Kamiartha, 1992: 58). Biasanya, sěgěhan agung dilengkapi dengan kelapa dan telur itik mentah. Sěgěhan tersebut dibuat di atas alas nyiru yang berisi beras. Di tengahnya diberi tempat sebagai alas kelapa yang di sampingnya susun sebuah kemiri, telor, pangi ‘keluek’, gagantusan, peselan. Di luarnya diisi nasi 11 porsi yang disusun berdasarkan mata angin (Sudarsana, 2001: 83). Sěgěhan tersebut juga dilengpaki canang gantal, dan canang rebong. Sesusai dipersembahkan, beras serta perlengkapannya ditaburkan ke empat penjuru, yaitu Timur, Selatan, Barat, dan Utara (Swarsi, 2003: 79). Lebih jelasnya, perhatikan wujud ritual berikut.

Makna yang terkandung dalam wujud ritual sěgěhan agung adalah sebagai berikut. Kata agung dalam hal ini bukan berarti ‘besar’, tetapi ‘menyeluruh’. Maksudnya, sěgěhan agung bukanlah berarti sěgěhan besar seperti pemahaman masyarakat Hindu pada umumnya, melainkan sěgěhan yang ditujukan kepada seluruh bhuta kala dan pengikut-Nya. Hal itu tercermin dari nasi 11 porsi yang ditaruh berdasarkan mata angin dan beras serta perlengkapan yang ditaburkan ke empat penjuru mata angin. Nasi yang ditaruh disetiap arah mata angin itu mengandung makna bahwa sěgěhan itu ditujukan kepada suluruh bhuta kala yang ada di sěgala penjuru mata angin. Penaburan beras dan perlengkapan yang lain mengandung makna sebagai pemberian kepada seluruh bhuta kala yang menempati keempat penjuru yang mungkin tidak dapat hadir saat ritual dilaksanakan.

3.8 Sěgěhan Wong-Wongan

Sěgěhan wong-wongan adalah sebuah wujud ritual berupa nasi yang dibentuk menyerupai orang atau manusia. Kata ulang wong-wongan ‘orang-orangan’ berasal dari kata wong ‘orang/manusia’. Sěgěhan tersebut dilengkapi dengan lauk jějěron matah ‘jeroan mentah’, bawang merah, jahe, dan garam. Adapun warna nasi yang digunakan adalah bermacam-macam, ada yang berwarna putih, merah, dan brumbun, sesuai dengan keperluan masyarakat. Berikut adalah wujud ritualnya.

Secara kontekstual, makna sěgěhan wong-wongan adalah lambang persembahan sebagai pengganti diri dan nyawa orang yang mempersembahkannya. Wujud sěgěhan berupa manusia adalah wujud ritual yang dipersembahkan kepada bhuta kala dengan harapan memperoleh keselamatan. Jeroan mentah memiliki makna sebagai jeroan/ isi perut manusia sebagai pelaku persembahan. Sedangkan, bawang merah, garam, jahe adalah pelengkap persembahan yang membuat suguhan kepada bhuta kala tersebut menjadi lebih enak.

3.9 Sěgěhan Kěpěl Gedé

Sěgěhan kěpěl gedé adalah sebuah wujud ritual sěgěhan yang beralaskan don telujungan ‘pucuk daun pisang’ yang dibuat dengan cara dikepal/digenggam. Besarnya nasi kepal sesuai dengan besarnya kepalan tangan pembuatnya. Sebagai lauknya adalah jeroan mentah, bawang merah, jehe, dan garam. Wujud ritual tersebut biasanya dipersembahkan di tempat suci (merajan) dan di lebuh ‘di jalan di depan rumah’. Ritual ditujukan kepada Sang Bhuta Tiaksa. Berikut adalah bentuk atau wujud ritualnya sěgěhan kěpěl gede.

Sěgěhan kěpěl gedé adalah jenis sěgěhan khusus yang tidak semua orang atau masyarakat umum mengenalnya. Sěgěhan itu hanya dipersembahkan pada saat-saat tertentu. Hanya masyarakat Hindu yang mendalami ajaran agamalah yang biasa melaksanakan ritual tersebut.

Sěgěhan tersebut mengandung makna sebagai lambang persembahan kepada Sang Bhuta Tiaksa yang dalam kepercayaan umat Hindu adalah salah satu punggawa di Pura Dalem Nusa atau Dalem Péd bersama dengan punggawa-punggawa yang lainnya. Berikut adalah punggawa-punggawa lain yang dimaksud, yang dipetik dari Ajaran Kandapatsari.

“…Sang Bhuta Mecaling dadi déwa sakti di Nusa, kairing antuk Sang Bhuta Tiaksa, Sang Bhuta Keli, Sang Bhuta Bregala, Sang Bhuta Narayana, Sang Bhuta Ladrang, Sang Bhuta Pelar, Sang Bhuta Rendah…, punika pada sakti tan kena winilang. Wenang tunasin gering gerubug, pemati léak muah satru…”

Terjemahan:

‘…Sang Bhuta Mecaling menjadi dewa yang sakti di Nusa, sebagai pengikut-Nya adalah Sang Bhuta Tiaksa, Sang Bhuta Keli, Sang Bhuta Bregala, Sang Bhuta Narayana, Sang Bhuta Ladrang, Sang Bhuta Pelar, Sang Bhuta Rendah…, semua itu memiliki kesaktian yang tak terhingga. Kepada mereka boleh memohon untuk membuat wabah penyakit, pembunuh leak dan musuh’ (Suastana, 2003: 30).

Sěgěhan kěpěl gedé adalah satu wujud rutual sěgěhan yang ditujukan kepada Tuhan atau manifestasi-Nya yang bersthana di Dalem Nusa. Secara lengkap wujud ritual tersebut biasanya dipersembahkan bersama-sama sěgěhan tuutan, sěgěhan sasah, dan sěgěhan pulangan.

Besarnya nasi kepal yang dibuat sesuai kepalan/genggaman tangan pembuatnya, mengandung makna bahwa persembahan kepada-Nya itu benar-benar hasil karya pembuatnya. Akan merupakan kebanggaan apabila kita bisa mempersembahkan hasil karya sendiri kepada orang lain, lebih-lebih kepada Sang Pencipta. Persembahan yang dilakukan juga hendaknya disesuaikan dengan kemampuan. Kemampuan dalam hal ini diartikan sebagai kemampuan material, kesempatan, dan ketulusan hati.

3.10 Sěgěhan Tuutan

Kata tuutan berasal dari kata tuut ‘turut’ dan mengalami afiksasi dengan mendapatkan sufiks –an, menjadi tuutan ’menuruti, mengikuti’. Sěgěhan tuutan adalah sebuah wujud ritual sěgěhan yang dibuat oleh masyarakat Hindu di Bali sehubungan dengan mara bahaya atau kematian. Dengan kata lain, sěgěhan tuutan adalah sěgěhan yang digunakan atau dipersembahkan kepada para bhuta kala saat ada kematian. Sěgěhan tersebut dibuat oleh warga masyarakat rumahnya dilalui oleh mayat yang diusung ke kuburan. Sěgěhan tersebut dipersembahkan saat mayat sampai di jalan di depan pekarangan rumah penduduk. Berikut adalah salah satu model atau bentuk/ wujud ritual sěgěhan tuutan.

Makna yang terkandung di baliknya adalah sebagai berikut. Dengan menghaturkan sěgěhan tuutan kepada seluruh bhuta kala yang mengikuti mayat ke kuburan diharapkan tidak akan mengganggu warga lain disekitarnya. Para penduduk berharap agar bhuta kala tidak mencari korban lain selain nuut ‘menuruti’ mayat yang diusung ke kuburan. Mereka berharap bahwa para bhuta kala sudah cukup puas dengan keberadaan mayat tersebut.

Dalam masyarakat Hindu dikenal ada beberapa wujud ritual sěgěhan tuutan. Tidak samanya wujud ritual di setiap desa atau warga masing-masing disebabkan oleh tingkat pemahaman agama masyarakat yang berbeda-beda. Berdasarkan hasil wawancara yang penulis lakukan kepada beberapa informan, sesungguhnya ada tiga wujud ritual sěgěhan tututan.

Wujud aslinya adalah berupa tumpěngl ‘nasi krucut’ lima warna. Adapun deskripsinya adalah sebagai berikut. Di timur adalah tumpěngl warna kuning, di selatan berwarna merah, di barat berwarna kuning, di utara berwarna hitam, dan di tengah berwarna brumbun. Sěgěhan tersebut dibuat di atas sebuah don biyah ’sejenis daun talas’. Yang dilengkapi dengan bluluk ’buah enau’ atau tibah ’mengkudu’ sebagai buahnya dan porosan dari daun lateng ’jenis daun yang beracun’ yang di dalamnya berisi tain belék ‘kotoran ayam yang encer berwarna hitam’. Sebagai lauknnya adalah bawang jahe dan sere ’terasi’. Pada umumnya dilengkapi dengan api takep ‘api yang dibuat di dalam sabut kelapa’. Wujud ritual tersebut hanya dibuat oleh sebagian masyarakat yang mendalami ajaran kandapat. Sedangkan masyarakat awam lebih memilih wujud yang lebih mudah untuk dibuatnya.

Wujud sěgěhan tuutan yang lain adalah berbentuk orang-orangan/nasi wong-wongan, nasi kěpěl ’nasi kepal’ atau bisa juga nasi sasah. Perbedaan wujud itu mengandung makna perbedaan tujuan persembahan. Sedangkan perlengkapannya sama dengan yang berwujud tumpěngl seperti tersebut di atas.

Wujud ritual sěgěhan tuutan yang berupa tumpěngl mengandung makna bahwa wujud ritual tersebut ditujukan kepada rajanya para bhuta kala yang dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali disebut sebagai Ratu Gede Mecaling yang bersthana di Dalem Nusa/Dalem Péd atau Nusa Penida (Atmadja, 1999: 14). Wujud tumpěngl itu sendiri mengandung makna yang tertinggi. Dalam hal ini adalah penguasa maut yang tertinggi atau rajanya para bhuta kala.Itu pula lah penyebabnya, mengapa Beliau dijuluki sebagai Sang atau Sang Hyang Adi Kala ‘rajanya bhuta kala’.

Wujud ritual yang berupa nasi kěpěl ‘nasi kepal’ adalah lambang persembahan kepada maha patih Beliau yang dalam ajaran Kandapat dikenal sebagai Sang Bhuta Tiaksa. Wujud nasi sasah mengandung makna sebagai lambang persembahan kepada seluruh rakyat atau pengikut-Nya. Sedangkan, wujud nasi wong-wongan adalah sebagai lambang berserah diri orang yang mempersembahkan sěgěhan. Mereka berharap persembahan itu adalah pengganti dirinya. Dengan dinikmatinya wujud ritual tersebut, mereka pun selamat dari gangguan para bhuta kala.

3.11Sěgěhan Tumpěngl

Sěgěhan tumpěngl atau sěgěhan nasi tumpěngl adalah sebuah wujud ritual sěgěhan yang berbentuk tumpěngl ‘krucut’. Sěgěhan tersebut dibuat di atas pucuk daun pisang dan dilengkapi dengan lauk jeroan mentah, bawang merah, jahe, dan garam. Di ujung bagian atas daun diberi bunga atau canang lengkap dengan porosan-nya. Dalam kehidupan masyarakat Hindu Bali sehari-hari sěgěhan model itu sangat jarang ditemukan karena termasuk wujud ritual khusus yang hanya dipersembahkan saat-saat tertentu. Untuk lebih jelasnya tentang wujud ritual sěgěhan yang dimaksud, perhatikan gambar berikut.

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan informan ahli, sěgěhan tumpěngl itu dibuat dengan sarana utama nasi yang berbentuk tumpěngl dengan warna yang berbeda-beda, sesuai keperluan. Ada yang berwarna putih, kuning, merah, hitam, dan mancawarna. Perbedaan warna nasi tersebut disesuaikan dengan tujuan kepada siapa sěgěhan itu dipersembahkan. Misalnya, untuk Sang Bhuta Mancawarna sebagai jelmaan Dewa Siwa di gunakan warna brumbun (campuran warna merah, putih, hitam).

Makna yang terkandung di balik sěgěhan tumpěngl adalah sebagai lambang persembahan kepada puncak-puncak kemahakuasaan Tuhan dalam agama Hindu. Yang dikenal sebagai puncak-puncak kemahakuasaan Tuhan itu adalah Brahma, Wisnu, Siwa, Ghana, Kala, Kumara, Saraswati, dan sebagainya. Maksudnya, Brahma adalah puncak kemahakuasaan Tuhan sebagai pencipta, Wisnu sebagai pemelihara, Siwa sebagai pelebur, Ghana sebagai penolak mara bahaya, Kala sebagai penguasa waktu, Kumara sebagai penguasa sěgala kesenangan, dan Saraswati sebagai penguasa ilmu pengetahuan.

3.12 Sěgěhan Tulak

Sěgěhan tulak adalah sebuah wujud ritual yang terdiri atas tiga buah sěgěhan, yaitu sěgěhan sliwah, sěgahan kěpěl poleng, dan sěgěhan tulak. Kata tulak adalah kosa kata bahasa Bali yang berarti ‘tolak’, ‘balik’. Sěgěhan tulak adalah sebuah wujud ritual yang dibuat oleh masyarakat Hindu Bali, yang bertujuan untuk menolak mara bahaya yang bisa datang kapan saja. Sěgěhan tersebut dibuat di atas pucuk daun pisang yang dilengkapi dengan lauk bawang, jahe, gara, dan jeroan mentah.

Sěgěhan sliwah adalah sěgěhan wong-wongan yang separo badan berwarna putih, separo lagi berwarna merah atau hitam yang di Bali disebut berwarna sliwah. Sěgěhan kěpěl poleng adalah sěgěhan yang dibuat dengan cara dikepal dan diberi warna hitam dan putih (poleng). Dan sěgěhan tulak adalah wujud sěgěhan yang berupa dua buah nasi wong-wongan ‘menyerupai manusia’ terbalik atau beradu kepala. Ketiga sěgěhan tersebut masing-masing dipersembahkan kepada Sang Bhuta Sliwah, Sang Bhuta Poleng, dan Sang Bhuta Mandi. Adapun bentuk atau wujud ritual sěgěhan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

Adapun makna yang terkandung di balik sěgěhan-sěgěhan yang dimaksud adalah sebagai berikut. Sěgěhan sliwah mengandung makna sebagai persembahan kepada Sang Bhuta Sliwah. Warna sliwah itu mengandung makna agar sěgala mara bahaya yang ada atau yang akan datang menjadi netral. Sěgěhan poleng adalah lambang persembahan kepada Sang Bhuta Poleng sebagai bhuta kala penguasa berbagai macam kesaktian. Dengan persembahan sěgěhan poleng diharapkan sěgala kekuatan yang menyertai mara bahaya itu akan lenyap atas izin Sang Bhuta Poleng. Sedangkan, sěgěhan tulak adalah lambang persembahan kepada bhuta kala yang dikenal sebagai Sang Bhuta Mandi. Wujud ritual yang berupa sěgěhan tulak diharapkan sěgala macam mara bahaya akan berbalik atau pulang ke asalnya.

3.13 Perlengkapan Sěgěhan

Sěgěhan sebagai sebuah wujud ritual juga dilengkapi dengan beberapa peralatan yang lain seperti, lauk (bawang merah, jahe, dan jeroan mentah), minuman (arak, berem ‘air tape’, air, tuak ‘nira’, dan darah), api , dan canang. Masing-masing perlengkapan sěgěhan itu memiliki makna sendiri-sendiri. Adapun maknanya adalah sebagai berikut.

(1) Lauk

Bawang merah, jahe, dan jeroan mentah adalah lauk yang selalu menyertai ritual sěgěhan. Bawang merah yang memiliki bau dan rasa yang sangat tajam atau amis; jahe yang memiliki rasa sepat dan pahit; dan jeroan mentah atau isi perut, dalam kepercayaan masyarakat Hindu di Bali adalah kesukaan bhuta kala. Sěgala sesuatu yang berbau menyengat dan amis seperti tersebut di atas, menurut keyakinan umat Hindu disenangi oleh para bhuta kala.

Bawang merah yang berbau amis itu juga sering digunakan oleh masyarakat sebagai penangkal leyak dengan cara dioleskan pada ubun-ubun bayi atau balita. Maksudnya adalah agar leyak tersebut tidak mengganggu si bayi karena sudah cukup puas dengan menjilat bau bawang merah itu. Untuk menolak mara bahaya secara umum, bawang merah itu bisa dioleskan diberbagai tempat, misalnya di badan orang dewasa , di atas pintu kamar, dan di sebelah kiri atau kanan pintu rumah.

Garam dalam keidupan masyarakat memiliki manfaat yang sangat banyak. Garam memiliki peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Benda tersebut sangat akrab dengan kehidupan manusia, sampai-sampai digunakan sebagai pepatah yang berbunyi, bagaikan sayur tanpa garam, yang bermakna ‘hambar’. Dalam hubungannya dengan sěgěhan, garam juga mengandung makna penyedap rasa persembahan. Dengan garam itu diharapkan sěgěhan yang ditujukan kepada bhuta kala itu menjadi lebih enak rasanya, sehingga mereka terlena dan tidak ingat lagi dengan hal-hal yang lain.

(2) Minuman

Minuman (arak, berem ‘air tape’, air, tuak ‘nira’, dan darah), yang digunakan sebagai pelengkap sěgěhan dikenal dengan tetabuhan. Kata tetabuhan itu sendiri berasal dari kata tabuh yang berarti ’tabur’, ‘siram’. Hal itu sesuai dengan cara persembahan minuman itu, yaitu dengan cara disiramkan pada sěgěhan.

Bhuta kala dalam kepercayaan masyarakat Hindu diandaikan sebagai sosok yang mengerikan, menyeramkan, senang mabuk-mabukan, dan sebagainya yang memiliki sifat tidak baik. Berdasarkan keyakinan itu, mereka memandang perlu untuk memanjakannya dengan berbagai minuman keras yang memabukkan. Arak, berem ‘air tape’, tuak ‘nira’, dan darah adalah jenis-jenis minuman yang memabukkan. Dengan minuman (tetabuhan) tersebut di tambah dengan air, diharapkan para bhuta kala sudah merasa puas dan tidak mengganggu manusia.

Persembahan darah dalam ritual Hindu dilaksanakan dengan berbagai cara, misalnya dengan mengadu ayam (tajen), dengan darah ayam atau babi yang langsung ditaruh pada sěgěhan, dan dengan menyembelih anak ayam atau itik saat ritual sěgěhan. Persembahan darah dengan penyembelihan anak ayam atau itik dikenal dengan istilah penyambléh. Dalam praktek sehari-hari, wujud ritual minuman yang berupa darah sering diganti dengan telor. Masyarakat yakin bahwa telor memiliki makna yang sama dengan darah. Pemekaian telor sebagai pengganti darah dapat diljumpai dalam wujud ritual sěgěhan agung

(3) Api

Api dalam keyakinan umat Hindu memiliki peranan dan makna yang sangat penting. Dalam hubungannya dengan kegiatan ritual, api dapat berwujud dupa dan api takep ‘api yang dibuat dalam dua buah sabut kelapa’. Dupa atau api yang digunakan dalam ritual itu mengandung makna sebagai lambang Dewa Brahma sebagai saksi atas ritual yang dilakukan. Brahma adalah Dewa Api yang memiliki fungsi dan peranan sebagai penerang jiwa orang yang menggunakannya. Asap yang ditimbulkan oleh dupa atau api takep yang membumbung ke udara diyakini sebagai penghantar ritual kepada para para dewa dan bhuta kala.

Api yang memiliki sifat yang sama dengan matahari juga diyakini sebagai simbol Dewa Matahari yang dalam masyarakat Hindu dikenal dengan Sang Hyang Surya atau Sang Hyang Tigawelas atau Sang Hyang Triyodasasaksi. Wujud ritual dupa diandaikan bahwa dalam ritual tersebut telah hadir Sang Hyang Triyodasasaksi ‘tiga belas unsur Tuhan sebagai saksi’ yang menyaksikan ritual sehingga menjadi sah adanya.

(4) Canang

Kata canang berasal dari Bahasa Jawa Kuno yang berarti ‘sirih’. Sirih yang di dalamnya dilengkapi dengan kapur dan pinang yang kemudian dikenal dengan porosan adalah unsur utama dari canang. Kalau sebuah canang itu tidak berisi porosan dianggap belum bernilai keagamaan. Porosan itu adalah lambang Tuhan sebagai Tri Murti. Pinang yang berwarna merah adalah lambang Dewa Brahma sebagai pencipta, sirih yang berwarna hijau adalah lambang Dewa Wisnu sebagai pemelihara, dan kapur yang berwarna putih adalah lambang Dewa Siwa sebagai pemusnah (Titib, 2001: 144). Pemujaan Tuhan sebagai pencipta, pemelihara, dan pemusnah bertujuan untuk memohon kepada-Nya agar tercipta sesuatu yang memang patut tercipta, terpelihara sesuatu yang memang semestinya terpelihara, dan bergantinya atau leyapnya sesuatu yang mesti harus berganti atau lenyap (Wiana, 2000: 32; 2001: 9).