Om namā bhujanggā bħuddayā.

Om awighnam astu namā śidyam. Om prânamyam sirā sang widyam, bhukti bhukti hitartwatam, prêwaksyā tatwam widayah, wişņu wangsā pādāyā śiwanêm, sirā ghranā sitityam waknyam. Rajastryam mahā bhalam, sāwangsanirā mongjawam, bhupa-lakam, satyamloka. Om namadewayā, pānamaskaraning hulun, ri bhatarā hyang mami. Om kara panga bali puspanam. Prajā pasyā. nugrah lakam, janowa papā wināsayā, dirgha premanaming sang ngadyut, sembahing ngulun ri sanghyang bhumi patthi, hanugrahaneng hulun, muncar anākna ikang tatwa, prêtthi entananira sang bhujanggā wişņawa, tan katamanan ulun hupadrawa, tan kêneng tulah pāmiddi, wastu pari purņā hanmu rahayu, ratkeng kulā warggā sāntanannirā, mamastu jagatitayā. Ong namasiwaya, ong nama bhuddayā. Om namā bhujanggā bħuddayā.

Minggu, 20 Juli 2014

GARIS PERGURUAN MARKANDEYA DI BALI

Orang-orang keturunan Austronesia telah menyebar di seluruh wilayah Bali. Mereka tinggal berkelompok-kelompok dengan Jro-jronya (pemimpin-pemimpinnya masing-masing). Kelompok-kelompok inilah nantinya yang menjadi desa-desa di Bali mereka adalah Orang Bali Mula, dan mereka dikenal dengan nama Pasek Bali. Ketika itu, orang-orang Bali mula belum menganut Agama, mereka hanya menyembah leluhur yang mereka namakan Hyang. Menurut para ahli, kondisi spiritual masyarakat Bali pada saat itu masih kosong. Keadaan yang demikan ini berlangsung hingga awal tarih masehi kurang lebih sekitar abad pertama masehi. Dengan keadaan Bali yang demikian maka mulailah berdatangan orang-orang dari luar Bali ke pulau ini. Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, mereka juga ingin memajukan Bali dalam segala sektor kehidupan. Untuk hal tersebut datanglah seorang rsi ke Bali yang bernama Maharsi Markandeya. Menurut sumber – sumber berupa lontar, sastra, dan purana, Maharsi Markandeya berasal dari India. Seperti dinyatakan sebagai berikut dalam Markandeya Purana, “Sang Yogi Markandeya kawit hana saking Hindu” yang artinya “sang yogi Markandeya asal mulanya adalah dari India”. Dari data-data yang di dapatkan nama Markandeya bukan nama perorarangan, melainkan adalah nama perguruan atau nama pasraman seperti halnya juga nama Agastya. Perguruan atau pasraman adalah lembaga yang mempelajari dan mengembangkan ajaran-ajaran dari guru-guru sebelumnya. Kebiasaan secara tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi untuk melanjutkan tradisi dari guru sebelumnya, yaitu dari guru ke murid dan seterusnya. Garis perguruan turun temurun ini di sebut Parampara, dan tiap-tiap parampara menyusun pokok-pokok ajarannya, dari parampara yang telah mengangkat guru dan murid untuk melanjutkan garis perguruan ini dinamakan Sampradaya. Dari tiap-tiap sampradaya menyusun pokok-pokok ajarannya dari sumber-sumber yaitu, Catur Weda, Purana, Upanisad, Wedanta Sutra, dan Itihasa. Walaupun memiliki pandangan yang berbeda, namun mereka mengambilnya dari Weda dengan tradisi turun-temurun yang sama dalam menafsirkan dan mengajarkan pokok-pokok ajaran di dalam Weda. Demikian akhirnya, pustaka-pustaka suci tersebut disebarkan, dimana di antaranya adalah Markandeya Purana, Garuda Purana, Siva Purana, Vayu purana, Visnu Purana dan lain sebagainya. Bahkan dari tiap generasi ke generasi terdapat nama diksa (inisiasi) yang sama dengan nama pendahulunya. Jadi sang Maharsi Markandeya adalah seorang rsi dari garis perguruan yang namanya sama dengan nama pendahulunya di India, beliau datang ke Indonesia untuk menyebarkan agama Hindu, terutama paham Waisnava (pemuja Wisnu). Ketika tiba di Indonesia, Maharsi Markandeya berasrama di wilayah Pegunungan Dieng, Jawa Tengah. Lalu beliau ber-dharmayatra ke arah timur, dan tibalah di Gunung Raung, Jawa Timur. Disini beliau membuka pasraman dimana beliau di dampingi oleh murid-murid beliau yang di sebut Wong Aga (orang-orang pilihan). Beberapa tahun kemudian beliau melanjutkan perjalanan ke timur, tepatnya ke pulau Bali yang ketika itu masih kosong secara spiritual. Disamping untuk mengajarkan agama Hindu, beliau juga ingin mengajarkan teknik-teknik pertanian secara teratur, bendungan atau sistem irigasi, peralatan untuk yajna dan lain-lain. Perjalanan beliau diiringi oleh 800 orang murid-muridnya. Saat datang pertama kali ke Bali, beliau datang ke Gunung Tohlangkir. Disana beliau dan murid-muridnya merabas hutan untuk lahan pertanian, tetapi sayangnya banyak murid-muridnya terkena penyakit aneh tanpa sebab, ada juga yang meninggal diterkam binatang buas seperti mranggi (macan), ada yang hilang tanpa jejak, bahkan ada yang gila. Melihat keadaan demikian, Maharsi Markandeya memutuskan untuk kembali ke Gunung Raung, lalu beliau beryoga untuk mengetahui bencana yang menimpa murid-muridnya ketika ke Bali. Akhirnya beliau mendapatkan petunjuk bahwa terjadinye bencana tersebut adalah karena beliau tidak melaksanakan yajna sebelum membuka hutan itu. Setelah mendapatkan petunjuk, Maharsi Markandeya kembali lagi datang ke Bali tepatnya ke Gunung Tohlangkir. Kali ini beliau hanya mengajak 400 orang muridnya. Tapi sebelum merabas hutan dan kembali mengambil pekerjaan sebelumnya, Maharsi Markandeya melakukan upacara ritual, berupa yajna, agni hotra, dan menanam panca datu di lereng Gunung Tohlangkir, Nyomia, dan upacara Waliksumpah untuk menyucikan dan mengharmoniskan tempat tersebut. Demikianlah akhirnya semua pengikut beliau selamat tanpa kurang satu apapun. Oleh karena itu, Maharsi Markandeya kemudian menamakan wilayah tersebut dengan nama Wasuki, kemudian berkembang menjadi nama Basukian dan dalam perkembangan selanjutnya orang-orang menyebut tempat ini dengan nama Basuki yang artinya keselamatan. Hingga saat ini, tempat ini dikenal dengan nama Besakih dan tempat beliau menaman panca datu akhirnya di dirikan sebuah pura yang diberi nama Pura Besakih. Dan Maharsi Markandeya mengganti nama Gunung Tohlangkir dengan nama Gunung Agung. Tidak hanya itu saja, Maharsi Markandeya akhirnya menamakan pulau ini dengan nama Wali yang berarti persembahan atau korban suci,  dan dikemudian hari dikenal dengan nama Bali Dwipa atau sekarang dikenal dengan nama Bali, dimana semua akan selamat dan sejahtera dengan melaksanakan persembahan yajna atau korban suci. Setelah beberapa tahun lamanya beliau akhirnya menuju arah barat untuk melanjutkan perjalanan dan sampai di suatu daerah datar dan luas, sekaligus hutan yang sangat lebat. Disanalah beliau dan murid-muridnya merebas hutan. Wilayah yang datar dan luas itu dinamakan Puwakan, kemudian dari kata puakan berubah menjadi Kasuwakan, lalu menjadi Suwakan dan akhirnya menjadi Subak. Di tempat ini beliau menanam berbagai jenis pangan dan semuanya bisa tumbuh dengan subur dan menghasilkan dengan baik. Oleh karenanya tempat ini di namakan Sarwada yang artinya serba ada. Karena keadaan ini dapat terjadi karena kehendak Tuhan lewat perantara sang maharsi. Kehendak bahasa Balinya kahyun, kayu bahasa sansekertanya taru, kemudian dari kata taru tempat ini dikenal dengan nama Taro dikemudian hari, yang terletak di kabupaten Gianyar. Di wilayah ini Maharsi Markandeya mendirikan pura sebagai kenangan terhadap pasramannya di gunung raung. Pura ini dinamakan Pura Gunung Raung, bahkan hingga saat ini di bukit tempat beliau beryoga juga di dirikan sebuah pura yang kemudian dinamakan Pura Luhur Payogan, yang letaknya di Campuan, Ubud. Pura ini juga disebut pura Gunung Lebah. Selanjutnya Mahasri Markandeya pergi ke arah barat dari arah Payogan dan kemudian membangun sebuah pura yang diberi nama Pura Murwa, sedangkan wilayahnya dan sebagainya di beri nama Parahyangan kemudian orang-orang menyebutnya dengan sebutan Pahyangan. Dan sekarang tempat tersebut dikenal dengan Payangan. Orang-orang Aga, murid-murid maha rsi markandeya menetap di desa-desa yang dilalui oleh beliau, mereka membaur dengan orang-orang Bali mula, bertani dan bercocok tanam dengan cara yang sangat teratur, menyelenggarakan yajna seperti yang di ajarkan oleh Maharsi Markanadeya. Dengan cara demikian terjadilah pembauran orang-orang Bali mula dan orang-orang Aga, kemudian dari pembauran ini mereka dikenal dengan nama Bali Aga yang berarti pembauran penduduk bali mula dengan orang-orang aga, murid Maharsi Markandeya,  dengan adanya hal ini, maka Hindu dapat diterima dengan baik oleh orang-orang Bali mula ketika itu. Sebagai rohaniawan (pandita) orang-orang Bali Aga dimana Maharsi Markandeya menjadi pendirinya, maka orang-orang Bali Aga dikenal dengan nama Warga Bhujangga Waisnava. Dalam jaman kerajaan Bali, terutama zaman Dinasti Warmadewa. Warga Bhujangga Waisnsava selalu menjadi purohito (pendeta utama kerajaan) yang mendampingi raja, antara lain Mpu Gawaksa yang dinobatkan oleh sang ratu Sri Adnyadewi tahun 1016 M, sebagai pengganti Mpu Kuturan. Ratu Sri Adnyadewi pula yang memberikan wewenang kepada sang guru dari Warga Bhujangga Waisnava untuk melaksanakan upacara Waliksumpah ke atas, karena beliau mampu membersihkan segala noda di bumi ini, bahkan sang ratu mengeluarkan bhisama kepada seluruh rakyatnya yang berbunyi : “Kalau ada rsi atau wiku yang meminta-minta, peminta tersebut sama dengan pertapa, jika tidak ada orang yang memberikan derma kepada petapa itu, bunuhlah dia dan seluruh miliknya harus diserahkan kepada pasraman. Dan apa bila terjadi kekeruhan di kerajaan dan di dunia, harus mengadakan upacara Tawur, Waliksumpah, Prayascita (menyucikan orang-orang yang berdosa), Nujum, orang-orang yang mengamalkan ilmu hitam haruslah sang guru Bhujangga Waisnava yang menyucikannya, sebab sang guru Bhujangga Waisnava seperti angin, bagaikan Bima dan Hanoman, itu sebabnya juga sang guru Bhujangga Waisnava berkewajiban menyucikan desa, termasuk hutan, lapangan, jurang. Oleh karena sang guru Bhujangga Waisnava sebaik Bhatara Guru, boleh menggunakan segala-galanya dan dapat melenyapkan hukuman”. Kemudian pada masa pemerintahan Sri Raghajaya tahun 1077 M yang diangkat menjadi purohito kerajaan adalah Mpu Andonamenang dari keluarga Bhujangga Vaisnava. Lalu Mpu Atuk di masa pemerintahan raja Sri Sakala Indukirana tahun 1098 M, kemudian Mpu Ceken pada masa pemerintahan raja Sri Suradipha tahun 1115 – 1119 M, kemudian Mpu Jagathita pada masa pemerintahan Sri Jayapangus tahun 1148 M. Untuk raja-raja selanjutnya selalu ada seorang purohito raja yang diambil dari keluarga Bhujangga Waisnava dan seterusnya hingga masa pemerintahan Sri Dalem Waturenggong di Bali. Saat itu yang menjadi purohito adalah dari griya Takmung dimana beliau melakukan kesalahan selalu acharya kerajaan yang telah mengawini Dewi Ayu Laksmi yang tidak lain adalah putri Dalem sendiri selaku sisyanya. Atas kesalahannya ini sang guru Bhujangga akan dihukum mati, tapi beliau segera menghilang dan kemudian menetap di daerah Buruan dan Jatiluwih, Tabanan. Semenjak kejadian tersebut, dalem tidak lagi memakai purohito dari Bhujangga Waisnava. Sejak itu dan setelah kedatangan Danghyang Nirartha di Bali, posisi purohito di ambil alih oleh Brahmana Siwa dan Budha. Bahkan setelah strukturisasi masyarakat Bali ke dalam sistem wangsa oleh Danghyang Nirartha atas persetujuan Dalem, keluarga Bhujanggga Waisnava tidak dimasukkan lagi sebagai warga brahmana. Namun peninggalan kebesaran Bhujangga Waisnava dalam perannya sebagai pembimbing awal masyarakat Bali, terutama dari kalangan Bali Mula dan Bali Aga masih terlihat sampai sekarang. Pada tiap-tiap pura dari masyarakat Bali Aga, selalu ada sebuah pelinggih sebagai sthana Bhatara Sakti Bhujangga. Alat-alat pemujaan selalu siap pada pelinggih itu. Orang-orang Bali Aga/Mula cukup nuhur tirtha, tirtha apa saja, terutama tirta pengentas adalah melalui pelinggih ini. Sampai sekarang para warga ini tidak pernah/berani mempergunakan atau nuhur Pedanda Siva. Selain itu, para warga ini tidak pernah mempersembahkan sesajen dari daging ketika diadakan pujawali dan biasanya mereka menggunakan daun kelasih sebagai salah satu sarana persembahan selain bunga, air, api dan buah. Warga Bhujangga Waisnava, keturunan Maharsi Markandeya sekarang sudah tersebar di seluruh Bali, pura pedharmannya ada di sebelah timur penataran agung Besakih di sebelah tenggara pedharman Dalem. Demikian juga pura-pura kawitannya tersebar di seluruh Bali, seperti di Takmung, kabupaten Klungkung, Batubulan, kabupaten Gianyar, Jatiluwih di kabupaten Tabanan dan di beberapa tempat lain di Bali. Demikianlah Maharsi Markandeya, leluhur Warga Bhujangga Waisnava penyebar agama Hindu pertama di Bali dan warganya hingga saat ini ada yang melaksanakan dharma kawikon dengan gelar Rsi Bhujangga Waisnava. Sedangkan orang-orang Aga beserta keturunakannya telah membaur dengan orang-orang Bali Mula atau penduduk asli Bali keturunan Bangsa Austronesia, dan mereka dikenal dengan nama orang-orang Bali Aga. Sumber: I Gede Agus Suprapto

Minggu, 11 Mei 2014

SEMETON BHUJANGGA RING DESA ADAT DENKAYU (DAYANKAYU / DADYANKAYU /DAJANKAYU/ DAHENKAYU)

Maosang parindikan kawentenan Desa Adat Denkayu, kasinahanne tadah sukil pisan, sakewanten kruna Denkayu punika sampun wenten munggah ring sajeroning prasasti tembaga (Tambra Prasasti), sane wawu kapanggih sasih Kesanga (Maret), warsa 1964, kawastanin Prasasti Dayan Kayu, sane mangkin prasastine punika magenah ring Pura Dalem Majapahit, ring Banjar Gambang, Desa Mengwi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Prasastine punika kasurat ring lempengan tembaga, ngangge aksara Bali Kuno lan basanipun taler Basa Bali Kuno. Wenten kabaos asapuniki : ” …tka ring magha mahadiwasa, ring kartikantara purwabhyasa kalayaran salwirannya, ateher karaman i dayankayu, tkapira rakryan rajaputra raja putri, tan pintana pirak …” (Ring sasih kepitu dewasa becik lan sasih kapat sekadi sane sampun-sampun, parindikan palayaran, karaman dayankayu, kapica cihna tulis, maka cihna pikolih panumbas, olih rakryan pangeran, putra putrin sang raja, tan kakenen pajak marupa pirak). Dayan Kayu, yening manut sesuratan Jawa Kuno, dayan dados kawacen den. Dayan dados dajan, kaja, kadya, teges gunung, genah sane kasengguh suci, sane mangkin sampun kaloktah kaja “arah gunung“, ring Bali Selatan mateges kaler (utara). Bandingang ring kruna Den Pasar, Den Jalan, Den Bukit, Den Tiis, Den Carik. Nanging sane sampun kalumrah sane sampun kalumrah ring pambiaran, wenten carita sane munggah ring Babad Brahmana Kemenuh : Kacarita ri sampun jagat Ki Panji Sakti ring Den Bukit, kakuasa olih Mengwi, kala irika ida sang amurweng Kawyapura Ida Cokorda Madhe Agung, nunas Bhagawanta ring Ki Panji, raris katurang warih Ida Padanda Wiraga Sandhi, tereh Kemenuh, sane mapepasih Ida Padanda Sakti Wayan Bukian, kairing olih para panjak, kalinggihang ring Jenggala Kekeran. Ring Jenggala Kekeran, ngawentenang putra catur diri, tur madiksa mapulang rah, makadi; Ida Padanda Wayan Kekeran, Padanda Madhe Kekeran, Ida Padanda Nyoman Kekeran lan Padanda Ktut Kekeran. Suening asue ida malinggih ring Kekeran, dados wenten pikayunan Ida Cokorda Agung Sakti (Blambangan), pacang ngalinggihang Bhagawanta Puri ring huluning Puri. Punika mawinan Ida Padanda Wayan Kekeran kalinggayang genah ring hulu Puri, kawastanin Smi Arum, sane mangkin kabaos Geria Ageng, tur wewidangan desa punika kawastanin Dahenkayu. Jagate ring Dahenkayu sampun wenten sane malinggih irika, "SEMETON BHUJANGGA", nanging sapangrawuh Ida Padanda, panjake katur sami, punika taler panjak-panjak sane wenten ring Kekeran, akeh sane ngiringang, taler sangkaning katitah olih sang ngawisesa jagat. Kirang langkung ring warsa 1856, wenten rawuh saking jagat Leba, kesahe saking Banjar Tunon, saking irika wenten kabaos Dajan Kayu Banjar Tunon, sane mangkin Banjar Denkayu Delodan. Kadadosan sane mangkin Desa Adat Denkayu, wantah mawiwit saking 2 Banjar : Banjar Denkayu Baleran lan Banjar Denkayu Delodan. Manut pangeling-eling ring Desa Adat Denkayu, sane kamanggehang dados Kelihan Desa, inggih punika : Kapertama saking sameton Bhujangga, kaping kalih I Gusti Ngurah Putu Gadhung, kaping tiga Ida Bagus Murdha, kaping papat, Ida Bagus Arnawa, kaping lima Ida Bagus Gede Santhica, kaping nenem Ida Bagus Bawa, kaping pitu I Nyoman Suka, kaping kutus Ida Bagus Ketut Jelantik. Ri kala punumadegan Kelihan Desa Ida Bagus Gede Santhica, raris makarya nyasa simbul, marupa ali-ali. Simbul ali-aline punika, kanirgamayang mamata mirah bolong, sane maka bebaktan Ida Padanda Sakti Wawurawuh, punika mangge ring sajeroning stempel, matetujon pangiket karama Desa Adat Denkayu, madasar pikayunan sane suci. Cutetipun : Desa Adat Denkayu sane mangkin, wastannya sampun wenten saking karihinan manut babahan sane ring ajeng. Manut prasasti sawatara abad 14, sampun wenten kruna Dayan Kayu, ngalantur Dahen (Don) Kayu, pamekas sane kalumrah ring pambiaran Desa Adat Denkayu. Asapunika atur piuning titiang kirang langkung ampurayang, dumogi kabenjang pungkuran kategepang malih mangda dados paripurna.

Senin, 10 Februari 2014

PURA PETALI JATILUWIH DANG KAHYANGAN PENINGGALAN IDA RSI CANGGU (PUTRA IDA RSI WAISNAWA MUSTIKA)

Pura Luhur Pucak Petali terletak di Desa Adat Jatiluwih, Penebel, Tabanan. Menurut beberapa catatan sejarah, pura ini dibangun oleh Bhagawan Rsi Canggu bersama Arya Wangbang pada zaman pemerintah Adhipati Samprangan Sri Kresna sekitar saka warsa 1272 atau 1350 masehi. Salah satu sumber yakni Tattwa Maharsi Markandya diuraikan pembangunan pura ini berhubungan dengan kisah Ida Bagus Angker yang merupakan putra dan Rsi Wesnawa Mustika. Setelah Rsi Mustika wafat di Besakih karena bertapa cukup lama memohon kestabilan negara, Bagus Angker pindah dari Sengguhan Klungkung ke Giri Kusuma. Beliau melakukan yoga samadhi, mempersatukan pikiran sucinya. Tempat beliau beryoga akhirnya dinamakan Gunung Sari, sementara tempat tinggal Ida Bagus Angker dinamakan Jatiluwih, sebab sudah melakukan dwijati dengan bhiseka Ida Bhujangga Rsi Canggu. Beliau bersama Arya Wangbang dibantu oleh masyarakat sekitar membangun khayangan yang diberi nam Pura Petali. Bhujangga Rsi Canggu sangat tersohor dalam satra agama, ilmu kebatinan, baik buruknya hari hingga ilmu pengobatan beliau kuasai. Tentu saja keberadaan Pura Petali ini menjadi pusat kegiatan spiritual Rsi Canggu beserta pengikut dan masyarakat di sana saat itu. Menurut keyakinan masyarakat sekitar Pura Petali sesuai dengan namanya, pura ini merupakan pengikat bumi atau pengikat jagat raya. Jadi pura ini merupakan, pusat produksi gelombang spiritual yang mampu memberikan perlindungan kepada umat manusia dan alam semesta. Awalnya ketika ditemui, pura ini hanya berupa susunan bebatuan berbentuk tugu, terletak di tengah hutan yang berada pada ketinggian ( gunung). Masyarakat sekitar setelah melakukan permohonan kemudian membangun pura di tempat tersebut. Namun berdasarkan petunjuk gaib yang didapatkan, tinggi bangunan pura tidak boleh melebihi batang pohon yang tumbuh juga secara misterius di lokasi tersebut. Di tempat ditemukannya semacam bangunan tugu yang terbuat dari batu dan diretakan dengan tanah liat tersebut, kini telah dibangun beberapa pelinggih. Pelinggih tertinggi merupakan gedong tamblingan dengan tumpang lima, sementara gedong berikut kerinan dan gedong simpen. Selain itu, terdapat beberapa piyasan. Pada tanah seluas sekitar 10 hektar ini, lokasi pura tertata dengan indah berupa jada tandeg, jaba tengah dan jeroan. Di jaba tengah terdapat beberapa pelinggih dan beji. Desa Adat Jatiluwih sejak turun temurun telah menjadi pengempon dan pura peninggalan zaman kuno. Sementara Puri Tabanan sebagai pengenceng. Piodalan di pura ini jatuh pada Buda Kliwon Ugu. Lima banjar Adat di Desa Adat Jatiluwih yakni Jatiluwih Kawan, Jatiluwih Kanginan, Kasambahan Kaja, Kesambahan Kelod dan Kesambi bahu-membahu dalam penyelenggara upacara yadnya. Lokasi pura ini masih berdekatan dengan Pura Luhur Maha Warga Bhujangga Waisnawa, namun dengan posisi lebih rendah. Demikian pula kedua pura ini masih terdapat kaitan sejarah. Hanya Pura Luhur Waisnawan kini berstatus kawitan yang disungsung oleh Maha Warga Bhujangga Waisnawan. Sementara Pura Petali menjadi sungsungan jagat. Pusat Aktivitas Spiritual Para pendiri pura di Bali telah menyalakan semangat yoga, persatuan dengan Tuhan pada berbagai titik-titik nadi Bali. Sebagaimana halnya Pura Petali yang merupakan pusat dari aktivitas spiritual Rsi Canggu dan segenap pengikiutnya. Aktivitas spiritual seperti ini upacara-upacara agama, tapa yoga samadhi dipusatkan pada zaman itu di pura ini, dengan maksud untuk memohon kerahayuan jagat dan kemurnian hati. Selain sebagai pusat aktivitas pemujaan, menurut beberapa catatan sejarah, tempat ini juga merupakan pusat pengkajian dan pengajaran sastra agama bagi para pengikut Rsi Canggu dan masyarakat sekitar Jati Luwih. Terlebih mengingat Rsi Canggu merupakan ahli dalam hal pengajaran Weda dan sastra-sastra agama. Tempat ini hendaknya juga dijadikan sebagai tempat pengkajian ajaran Weda di samping pelaksanaan yadnya sesuai dengan petunjuk satra-sastra suci. Dibangun untuk Kegiatan Asrama Pura Petali sejak awal memang dirancang untuk kegiatan ashram. Dalam pustaka Bhuwana Tattwa Maharesi Markandeya dinyatakan antara lain, “Apa sira wus putus, mangke sira Ida Bagus Angker ingaranan Ida Bhagawan Resi Canggu. Ngkana sira Bhagawan Resi Canggu kalawan Arya Wang Bang iniring wang wadwa akweh akarya Parahyangan ngaran Pura Patali.” Maksudnya : Setelah beliau mencapai tingkatan rohani yang lebih tinggi ( wus putus ) sebagai Dwijati, selanjutnya beliau Ida Bagus Angker bergelar Ida Bhagawan Resi Canggu. Demikianlah beliau Bhagawan Resi Canggu bersama dengan Arya Wang Bang diikuti oleh masyarakat banyak mendirikan tempat suci bernama Pura Patali. Menurut tokoh Hindu, Drs. I Ketut Wiana, M.Ag, tradisi aguron-uuron dalam sistem pendidikan Hindu di Bali bertujuan untuk meningkatkan rohani umat bahkan sampai mencapai status dwijati melalui proses diksa. Setelah berstatus dwijati, proses selanjutnya mendirikan pasraman untuk menuntun masyarakat yang bersedia menjadi murid atau sisya. Lewat proses guron-guron itulah seorang dwijati yang juga disebut Sang Meraga Putus melakukan Panadahan Upadesa artinya menyebarkan pendidikan kerohanian dan menjadi Sang Patirthan. Mengutip Saramuscaya 40, lebih lanjut Ketut Wiana mengatakan, Pasraman itu merupakan tempat umat mohon penyucian, di samping sebagai Sang Satyavadi dan Sang Apta Lebih lanjut Wiana yang juga dosen di IHD Negeri Denpasar itu mengatakan, pendidikan kerohanian itu bertujuan agar masyrakat dapat hidup mengikuti proses berdasarkan konsep Catur Asrama. Tiap- tiap Asrama memiliki batasan-batasan disiplin hidup tertentu. Pada tahap Brahmacari, prioritas hidup adalah untuk mendalami dharma. Pada tahapan hidup Grhastha priorits hidup untuk mewujudkan Artha dan Kama. Sedangkan dalam tahapan Wanaprastha dan Bhiksuka prioritas hidup adalah untuk mewujudkan tujuan hidup tertinggi yaitu moksha. Demikianlah beliau melaksanakan konsep itu dengan membangun pasraman. Setelah Ida Bagus Angker meraga putus dengan gelar Bhagawan Resi Canggu, beliau menjadi Adi Guru Loka. Artinya menjadi gurunya masyarakat luas. Bukan semata-mata guru dari warga atau w3angsanya saja. Bukan di-diksha sebagai seorang dwijati terlebih dahulu melangsungkan upacara mapamit pada sanak keluarganya. Secara formal beliau tidak lagi menjadi milik keluarga saja. Artinya beliau tidak lagi sebagai ayah, kakek, kakak, adik, dst. Besoknya setelah berstatus dwijati beliau menjadi gurunya masyarakat luas, tentunya termasuk mantan keluarganya. Itulah sebabnya, menurut Wiana, keberadaan Pura Patali di Desa Jati luwih Kecamatan Penebel ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dengan Pura Resi dan Pura Jati Luwih Kawitan Bujangga Waisnawa tersebut. Dinyatakan pula, putra Ida Bhagawan Resi Waisnawa Canggu, Ida Bhagawan Guru menikah dengan putra Dalem Watu Renggong yang bernama I Dewa Ayu Laksemi. Ini artinya Pura Patali di bangun oleh Ida Bhagawan Canggu pada zaman pemerintah Dalem Watu Renggong yang memerintah Bali tahun 1460-1550 Masehi. Pelinggih utama di Pura Patali ini adalah berbentuk bebaturan atau terpasang sebagai stana Ida Batara Luhur Pura Patali. Di pura ini terdapat stu benda peninggalan tradisi megalitikum berupa bat persegi yang sisinya tidak beraturan. Peninggalan inilah yang diebut Pejenengan Ida Batara Pucak Patali. Dan proses pendirinya, kita akan melihat bahwa Pura Patalu ini merupakan Pasraman Ida Bagus Angker, leluhur wangsa Bujangga Waisnawa. Karena itu tepat sekali kesimpulan peneliti pura dari IHD ( UNHI sekarang ) tahun 1982 yang menyatakan bahwa Pura Patali sebagai Pura Dang Kahyangan, artinya pura sebagai pasraman suci dan rsi. Di Pura ini terdapat juga berbagai pelinggih pasimpangan seperti meru Tumpang Lima di sudut timur laut oada areal Jeroan Pura Utama Mandala. Meru Tumpang Lima ini sebagai media pemujaan Bhatara Dewi Danu di Danau Tamblingan. Upcara Pujawali di Pura Patali ada;ah setiap emnam bulan wuku, yakini tiap Buda Kliwon Wugu. Dengan adanya pemujaan pada Dewi Danu,berarti Pura Patali di samping sebagai pura pasraman juga sebagai pura untuk memohon keselamatan pertanian dan arti luas. Dengan adanya pelinggih pesimpangan Ida Bhatara Dewi Danu, di Pura Patali ini umat diingatkan untuk menjaga kelestarian danau sebagai sumber air. Kalau melestarikan danau sebagai sumber air tentunya tidak mungkin tidak melakukan upaya Wana Kerti artinya menjaga kelestarian hutan. Di luar areal pura, yakni di sebelah utara temnok penyengker pura terdapat pelinggih Beji. Di Pelinggih inilah umat memohon bahab tirtha yang digunakan di pura Patali pada saat ada upacara baik upacara piodalan atau pujawali maupun saat hari raya upacara-upacara keagamaan lainnya. Oke,,,ulasan tentang Pura Pucak Petali diatas mengukuhkan keberadaan pura ini sebagai sumbernya kekuatan dan inspirasi,karena memang dari awal di Pura ini adalah pesraman yang dibangun sebagai oleh Putra dari Rsi Wesnawa Mustika yang bernama Ida Bagus Angker,,, Semoga bermanfaat, dan mampu memberikan pencerahan untuk kita semua,,, SUMBER By : Abdi Negara

Selasa, 28 Januari 2014

DALEM TAMBLINGAN LELUHUR I DEWA AYU SAPUH JAGAT (ISTRI IDA MAHARSI MADHURA)

Sejarah Singkat Arya Dalem Tamblingan "Om Awighnam Astu Nama Siwaya" Menurut Prasasti Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan Babad Hindu Gobleg diceritakan bahwa Ida Bhatara Siwa memiliki 3 Putra yang turun ke Bumi yakni: Ida Bhatara Dalem Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung, dan Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Ketiga Ida Bhatara ini sering disebut sebagai Ida Bhatara Sanghyang Tiga Sakti, Melinggih ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima ngaran Gedong Kusuma Jati Ning. Semua Keturunan Beliau bergelar Satrya Dalem. Dari sinilah kemudian pengelompokan Keturunan Bali Mula (Bali Kuno/Bali Aga) dibagi menjadi 2 bagian besar yakni: 1. Kelompok Dalem, terdiri dari: Satrya Dalem, Arya Dalem, dan Pasek Dalem 2. Kelompok Abdi Dalem, terdiri dari: Arya, Pasek, dan Pande Ida Bhatara Dalem Solo melinggih ring Solo, Ida Bhatara Dalem Kelungkung melinggih ring Kelungkung, dan Ida Bhatara Dalem Tamblingan melinggih ring Alas Mertajati-Tamblingan (sekitar Danau Tamblingan) . Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan merabian ring Dewa Ayu Mas Ngencorong (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) yang kemudian mempunyai 2 Putra dan 1 Putri yakni: 1. Dewa Dalem Maojog Mambet 2. Dewa Dalem Juna (Nyukla Brahmacari) 3. Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan (Merabian ring Ida Bhatara Dalem Ped ring Nusa Penida) Dewa Dalem Maojog Mambet (Bhatara Guru Nabe) melinggih ring Meru Tumpang Lima di Pura Pejenengan-Gobleg, Keturunan Beliau bergelar Arya Dalem Tamblingan, Beliau mempunyai 2 Istri yakni: 1. Dewa Ayu Manik Subandar (Putri dari Ida Bhatara Dalem Solo) sebagai Siwa ring Tengen melinggih ring Pura Siwa Muka Bulakan-Gobleg, Solo ngaran Jawa yang artinya Piodalannya ring Sugian Jawa. Beliau mempunyai Putra: 1.1.Ngurah Bendesa (Penyarikan Agung), 1.2.Ngurah Nyrita (Penyarikan Gong), 1.3.Ngurah Kubayan (sebagai Kubayan), 1.4.Dewa Ayu Dalem Tamblingan (Dewa Ayu Sapuh Jagad yang kemudian menikah dengan Ida Rsi Gede Madhura)menurunkan sentana Rsi Bhujangga Bali trah Ida Rsi Madhura. 2. Dewa Ayu Ibu (Putri dari Ida Bhatara Dalem Kelungkung) sebagai Siwa ring Kiwa melinggih ring Pura Siwa Muka Suukan-Gobleg, Kelungkung ngaran Bali yang artinya Piodalannya ring Sugian Bali. Beliau mempunyai Putra: Ngurah Pasek (Balian Agung / melinggih ring Bale Agung sebagai Hulu) , Ngurah Ngeng (Balian Banten), Ngurah Mangku (Mangku Agung / Mangku Gede / Mangku Puseh) Selanjutnya diceritakan Ngurah Bendesa mempunyai Putra: Ngurah Pangenter (Pangenter Agung), Kubayan, dan Dewa Ayu Merta Sari. Semua Keturunan Arya Dalem Tamblingan ini tidak diperkenankan memakan Buah Timbul ataupun menebang Pohon Timbul dan membunuh Tetani (rayap), hal ini dikarenakan Ida Bhatara Dalem Tamblingan pernah berhutang jasa terhadap Pohon Timbul dan Tetani. Sebelumnya diceritakan Ida Bhatara Dalem Solo pada waktu turun ke Bumi dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, kemudian Ida Bhatara Dalem Kelungkung juga dianugrahkan Tepak Besi Kuning yg isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kidang, dan 2 ekor Macan, sedangkan Ida Bhatara Dalem Tamblingan dianugrahkan Tepak Besi Kuning oleh Aji-Nya yang isinya terdiri dari: 16 parekan, 1 ekor Kerbau Putih, dan 2 ekor Macan yg bernama Gringsing Wayang dan Gringsing Kuning. Setelah Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai di Alas Merta Jati (sekitar Danau Tamblingan) dibukalah Tepak Besi Kuning tersebut, kemudian keluarlah ke-16 parekan tersebut dan diperintahkan oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk membuat Puri atau tempat pemukiman di pesisir Danau Tamblingan. Ke-16 parekan ini diberi nama sebagai Pasek Tamblingan yg dikemudian hari berpindah tempat dan berganti nama menjadi 2 bagian yakni: 1. Delapan parekan pergi ke daerah Sai (Pupuan) dan berganti nama menjadi Pasek Sai 2. Delapan parekan lagi pergi ke daerah Batur Sari dan berganti nama menjadi Pasek Batur Sari Ciri dari ke-2 Pasek ini dapat dilihat dari Pura Kawitannya yg di dalamnya terdapat: 1. Pelinggih Meru Tumpang Tiga 2. Pelinggih Gedong Sari 3. 1 buah Bale Piyasan 4. Warna Gama-nya adalah Merah-Putih Ke-2 Pasek ini Pathirtaan-nya ring Gusti Mancawarna (ring Gobleg). Kemudian Daging Tepak Besi Kuning yang lainnya ikut juga keluar yakni 1 ekor Kerbau Putih dan 2 ekor Macan (Gringsing Wayang & Gringsing Kuning). Setelah selesai membuat Puri/Pasraman serta membuka lahan pertanian, Ida Bhatara Dalem Tamblingan pada waktu itu bergelar sebagai Satrya Dalem Tamblingan. Setelah selesai membangun pasraman di Tamblingan, kemudian ada Pemastu (perintah berisi bisama/kutukan) dari Sanghyang Aji Tiga Sakti agar semua Keturunan Satrya Dalem Tamblingan agar membangun Pura tempat berbakti kepada Ida Bhatara Kawitan. Pura ini terdiri dari beberapa Pelinggih sbb: • Gedong Kunci, dengan 3 (tiga) anak tangga (undagan) • Meru Tumpang Lima (Gedong Kusuma Jati Ning), dengan 5 (lima) anak tangga • Bale, dengan 5 tiang penyangga (adegan/tampul), ditengah Bale diberi 3 (tiga) anak tangga Kalau tidak membangun Pura seperti yang di atas, maka seluruh Keturunan Satrya Dalem Tamblingan akan mendapat Bisama/Kutukan: sengsara terus-menerus tidak bisa diobati/diampuni dan tidak ada kerja/pekerjaan dengan hasil yang baik. Kalau membangun Pura seperti di atas, maka Bisama/Kutukan itu akan terhapuskan. Pada waktu menghaturkan bhakti di Pura ini sebaiknya tidak sembarangan (berhati-hati), sebelumnya harus menghaturkan sembah sebanyak tiga kali dengan Mantram sbb: “ Om Atur ing ulun Ang Eng Syang, Ong Sanghyang Tiga Sakti Yam, Ong Am Om dwa telu papat lima enam dasa syia kutus sada pitu Yam” Singkat cerita, Ida Bhatara Dalem Solo sudah memiliki Istri dengan 2 Putri dan 1 Putra, Ida Bhatara Dalem Kelungkung sudah memiliki Istri dengan 2 Putra dan 1 Putri, Ida Bhatara Dalem Tamblingan belum mempunyai Istri. Kemudian dianugrahkanlah seorang Putri Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan untuk diangkat sebagai Putri Angkat, namun setelah dewasa, Putri Ida Bhatara Dalem Solo diambil sebagai Istri oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Kemudian menurunkan 2 Putra dan 1 Putri yang bernama : Dewa Dalem Maojog Mambet, Dewa Dalem Juna, Dewa Ayu Mas. Dewa Dalem Maojog Mambet memiliki 2 Istri (Kiwa-Tengen) dan memperoleh Anugrah untuk menciptakan Mata Air Suci yang disebut sebagai Tirta Pradana Urip dan Tirta Pradana Pati di Pura Pejenengan-Gobleg, Tirta ini diperuntukan bagi alam beserta isinya baik yang berupa benda hidup (urip) ataupun benda mati (pati), Penguasa/Pemilik Tirta ini adalah Ida Bhatara Ibu Sakti (Sanghyang Panca Maha Bhuta), Melinggih ring Pura Pejenengan, Piodalan ring Tumpek Landep. Dewa Dalem Juna tidak memiliki Istri (Nyukla Brahmacari). Dewa Ayu Mas Dalem Tamblingan Merabian (Menikah) Ring Ida Dalem Sakti Dalem Ped (Nusa Penida). Lama kelamaan, berita ini diketahui oleh Ida Bhatara Dalem Solo, dan dipanggilah Ida Bhatara Dalem Tamblingan menghadap ke Solo. Sesampai di Solo bertanyalah Ida Bhatara Dalem Solo kepada Ida Bhatara Dalem Tamblingan, apakah benar Putrinya diambil Istri oleh Adiknya, dan dijawab benar oleh Ida Bhatara Dalem Tamblingan. Akhirnya Ida Bhatara Dalem Solo menjadi Murka (marah) kepada Adiknya, karena kesalahan yang dilakukan oleh Adiknya tersebut, maka diturunkanlah gelar Satrya Dalem Tamblingan menjadi Arya Dalem Tamblingan. Kemudian Ida Bhatara Dalem Tamblingan diperintah oleh Ida Bhatara Dalem Solo untuk menggali sebuah sumur di Solo, setelah sumur digali, lalu ditimbunlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan dengan batu, namun semua batu kembali naik ke atas. Di dalam sumur, Ida Bhatara Dalem Tamblingan menemukan lubang semacam goa kecil dan di dalamnya terdapat akar Pohon Timbul yang sudah dimakan rayap (tetani), kemudian dipeganglah akar pohon timbul tersebut sebagai pegangan menelusuri goa tersebut. Akhirnya sampailah Ida Bhatara Dalem Tamblingan di atas permukaan goa yang disebut dengan nama Goa Naga Loka, letaknya diperbukitan (Bukit Gunung Raung) di atas Danau Tamblingan. Goa Naga Loka ini dibuat oleh Ida Bhatara Sorang Dana (Ida Bhatara Dalem Naga Loka). Berhasilnya Ida Bhatara Dalem Tamblingan sampai dipermukaan goa tidak terlepas dari bantuan Akar Pohon Timbul dan Tetani (rayap), oleh sebab itu bersumpahlah Ida Bhatara Dalem Tamblingan kepada seluruh Keturunan-Nya agar tidak makan Buah Timbul dan tidak membunuh serta mengutuk Tetani (rayap). Disini secara garis besar juga saya sampaikan beberapa sebutan Ida Bhatara menurut Prasasti Gobleg, Babad Hindu Gobleg, Kandan Sanghyang Mertajati, dan beberapa sumber media informasi lainnya, yakni: 1. Ida Bhatara Puseh (Ida Bhatara Sanghyang Aji Sakti), Beliau meraga Tiga, yakni sebagai Sanghyang Siwa (Merah), Sada Siwa (Putih/Kuning), dan Parama Siwa (Hitam). Beliau Melinggih ring Pura Puseh, ring Pelinggih Piyasan Tiga Sakti, ring Pelinggih Padma Tiga (ring Penataran Agung Pura Besakih). 2. Ida Bhatara Siwa Guru (Ida Bhatara Aji Sakti / Ida Bhatara Dewa Dalem Majapahit), Melinggih ring Pura Bukit Sinunggal (Desa Tajun), ring Gunung Agung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Pitu. 3. Ida Bhatara Raja Berawa Murti (Ida Bhatara Dewa Dalem Tiongkok), Melinggih ring China/Tiongkok, ring Pelinggih Konco. 4. Ida Bhatara Sanghyang Srimandi (Ida Bhatara Sanghyang Kendi), Melinggih ring Gunung Batur (Pura Batur-Kintamani), ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga. 5. Ida Bhatara Dalem Solo (Ida Bhatara Dewa Dalem Bremang), Melinggih ring Surakarta-Solo, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 6. Ida Bhatara Dalem Kelungkung (Ida Bhatara Dewa Dalem Bahem), Melinggih ring Kelungkung, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 7. Ida Bhatara Dalem Tamblingan (Ida Bhatara Dewa Dalem Mas Madura Sakti), Melinggih ring Pura Dalem Tamblingan, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Lima. 8. Ida Bhatara Surya (Ida Bhatara Dewa Dalem Dasar), Melinggih ring Pura Dalem Dasar, ring Pelinggih Gedong/Meru Tumpang Tiga.

MAHARSI MADHURA DI SEPUTARAN DANAU BERATAN BEDUGUL BALI

Menurut Raja Purana Pura Puncak Pengungangan, Bedugul. Menyebutkan tentang perjalanan Ida Rsi Madura dengan diiring sekitar 400-800 orang pengikut beliau datang dari jawa ke daerah seputaran Danau Beratan untuk melakukan pertapaan dan untuk membangun tempat-tempat suci. Begitu juga seperti tersebut dalam Bhuana Tattwa Rsi Markandeya, dimana dinyatakan bahwa Ida Rsi Madura memperistri anak dari Ida Dalem Tamblingan yang bernama Ida Dewa Ayu Sapuh Jagat. Dari dua sumber tertulis ini dapat ditelusuri bahwa Ida Rsi Madura pernah lama bertempat tinggal di daerah seputaran Bedugul. Di seputaran tempat ini, beliau banyak membangun tempat suci atau pura yang banyak mengadopsi arsitektur Jawa disesuaikan dengan tempat kelahiran dan asal Ida Rsi Madura yaitu dari daerah Madura. Pura-pura ini kalau kita telusuri dari daerah selatan adalah: Pura Puncak Sari, Pura Puncak Kayu Sugih, Pura Puncak Pengungangan, Pura Batu Meringgit, Pura Puncak Terate Bang (Pura Puncak Bukit Tapak), Pura Penataran Beratan, Pura Candi Mas, Pura Puncak Rsi, Pura Puncak Taman Sebatu (Pura Ulun Danu Beratan yang asli). Pura-pura ini terletak diseputaran Danau Beratan. Kemudian di Danau Buyan beliau membangun Pura Ulun Danu Buyan. Di samping di seputaran Danau Beratan dan Banau Buyan, pada jaman itu beliau juga memugar dan memperbaiki serta menandai pura-pura diseputaran Danau Tamblingan seperti : Pura Ulun Danu Tamblingan, Pura Pengubengan, Pura Endek, Pura Dalem Tamblingan, Pura Tirta Mengening, Pura Puncak Lesung, Pura Naga Loka. Ida Rsi Madura merupakan seorang Maharsi sakti yang berasal dari tanah Jawa. Beliau merupakan kombinasi antara karakter seorang brahmana dan ksatria. Dulu di India karakter ini dimiliki oleh salah satu dari 10 awatara dari Dewa Wisnu yaitu Parasu Rama Awatara. Parasu Rama merupakan seorang brahmana yang terlahir sebagai anak dari Rsi Jamadagni. Meskipun beliau terlahir sebagai seorang brahmana akan tetapi karakter utama yang muncul dalam diri beliau justru sifat seorang ksatria, dimana kemana-mana beliau membawa kapak dan memerangi para ksatria yang berbuat tidak adil di muka bumi ini. Begitu juga Ida Betara Lingsir Rsi Madura. Beliau terlahir sebagai putra dari Ida Maharsi Sunia Murti. Dari kecil beliau dibentuk dengan karakter seorang brahmana, akan tetapi semakin mendekati dewasa, justru sifat ksatria yang semakin jelas kelihatan dari diri beliau. Beliau sangat senang berkelahi terutama untuk membela kaum yang tertindas. Beliau sangat senang bertapa untuk mendapatkan wahyu ilmu kedigjayaan. Sampai suatu saat beliau mendapatkan pusaka keris dari hasil bertapa beliau pada waktu remaja mendekati dewasa di pesisir pantai Madura. Semenjak saat itu ida Maharsi Madura tidak pernah terpisahkan dengan keris seumur hidup beliau. Beliau merupakan satu-satunya pendeta brahmana yang setiap saat menyelipkan keris dipinggang beliau. Karena kesaktian beliau yang sangat tinggi, sehingga banyak orang yang berguru kepada beliau. Salah satu murid beliau adalah Arya Wiraraja, yang nantinya akan menjadi penguasa pulau Madura. Ketika Raden Wijaya meminta bantuan kepada Arya Wiraraja untuk membantu menumbangkan kerajaan kedirinya Jaya Katwang, Ida Rsi Madura juga yang memberikan petunjuk-petunjuk perang, bekal-bekal aji kesaktian sehingga akhirnya pasukan Raden Wijaya dan pasukan Arya Wiraraja dibantu oleh pasukan dari negeri Cina bisa menumbangkan pemerintahan Jaya Katwang. Hingga akhirnya Majapahit berdiri. Setelah Majapahit berdiri beliau ditawarkan jabatan untuk menjadi kepala pendeta kerajaan Majapahit, akan tetapi beliau menolak karena pada waktu itu beliau mendapat wahyu dari leluhur beliau Ida Maharsi Markandeya untuk datang ke pulau Bali, melakukan suatu tugas suci membangkitkan tempat-tempat suci serta memperkuat pondasi keagamaan di Bali. Pada waktu keberangkatan beliau dari Jawa menuju Bali beliau banyak diiringi oleh para pengikut beliau, terutama disertai oleh beberapa para mpu pembuat keris yang memang sengaja diajak ikut oleh Ida Rsi Madura untuk membuatkan beliau keris-keris, baik untuk pribadi maupun untuk persenjataan disepanjangan perjalanan. Pada waktu itu belum ada klan atau soroh Pande di Bali. Para pembuat keris yang diajak oleh Ida Rsi Madura beserta para keturunannya inilah yang kelak akan dikenal sebagai klan atau soroh pande di Bali. Singkat cerita sampailah pada perjalanan beliau di daerah seputaran Danau Beratan, disini pertama beliau bermalam di daerah yang sekarang menjadi lokasi pura Penataran Beratan. Karena dinginnya kondisi alam membuat beliau dan para pengikutnya cukup sulit untuk bisa beradaptasi, kemudian beliau mencari tempat yang cocok untuk bersemedi serta untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi dengan alam diseputaran Danau Beratan. Kemudian beliau berjalan ke arah selatan dan sampai dilokasi Pura Puncak Pengungangan. Disini beliau bertapa di atas sebuah batu bundar yang sampai sekarang masih ada di pura itu. Di sini beliau memuja kekuatan trimurti dengan mengucapkan japa mantra.. OM ANG UNG MANG OM..berulang kali, mendengar doa pemujaan Ida Rsi Madura yang begitu tulus dan murni maka salah satu Dewa Tri Murti yaitu Dewa Brahma berkenan turun di puncak bukit yang berhadapan dengan lokasi bertapa Ida Rsi Madura ini. Dari atas puncak bukit itu mengalir udara hangat sehingga Ida Rsi Madura dan para pengikut beliau bisa selamat dari bahaya cuaca ekstrim yang sangat dingin pada waktu itu. Lokasi tempat Ida Maharsi Madura bertapa memuja kekuatan Sanghyang Tri Murti itu sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan. Dimana kata pengungangan itu berasal dari kata ANG UNG MANG. Puncak bukit dimana Dewa Brahma berkenan turun untuk memberkati doa Ida Rsi Madura, sekarang dikenal dengan nama Bukit Puun. Kenapa dinamakan Bukit Puun? karena khusus hanya di bukit ini, setiap beberapa tahun sekali pasti terjadi kebakaran di puncak bukitnya, sesuatu yang seharusnya sangat susah terjadi di daerah dengan cuaca dingin dan berkabut setiap hari seperti di daerah Bedugul. Akan tetapi menurut beliau hal itu terjadi untuk mengingatkan warga masyarakat di Bedugul bahwa puncak bukit itu dahulu pernah di pake Dewa Brahma untuk menurunkan kehangatan di daerah seputaran Danau Beratan sehingga manusia bisa bertempat tinggal dan hidup menetap ditempat itu. Dan anehnya, setiap kali terjadi kebakaran di puncak Bukit Puun maka apinya sangat susah untuk dipadamkan. Apinya baru bisa dipadamkan jika masyarakat mau berkaul dan melakukan pemujaan di batu bundar tempat bertapa Ida Rsi Madura, setelah itu pasti turun hujan lebat bisa sampai berhari-hari, barulah kebakaran di atas puncak bukit itu bisa padam. Selama bertapa di tempat yang sekarang dikenal dengan nama Pura Puncak Pengungangan, beliau juga membangun Pura Puncak Sari dan Pura Puncak Kayu Sugih, dimana pada tempat ini dipuja sakti dari istri-istri beliau. Setelah beliau dan para pengikut beliau mulai bisa beradaptasi dengan cuaca di seputaran Danau Beratan, barulah beliau memutuskan untuk menetap untuk beberapa waktu yang cukup lama diseputaran daerah itu. Mulailah kehidupan sosial masyarakat berkembang di daerah Bedugul. Sesuai dengan petunjuk Ida Sanghyang Jagatnata ( Ida Maharsi Markandeya). Beliau mulai menata daerah tersebut. Karena sudah mulai ada kehidupan sosial, maka mulailah diperlukan Pasar ( ekonomi ), Sekolah/Pesraman ( Tempat pendidikan dan pengobatan ), Tempat Pertapaan dll. Lokasi pasar jaman itu sekarang dikenal dengan Pura Candi Mas. Lokasi Pesraman Agung jaman itu tempat untuk mendidik manusia supaya siap untuk menghadapi hidup dunia nyata berada di lokasi Kebun Raya Bedugul. Lokasi pesraman agung Ida Rsi Madura di Kebun Raya Bedugul ini dibagi menjadi tiga, yaitu tempat tinggal para murid pesraman, tempat tinggal para guru yang dipimpin oleh Ida Maharsi Madura, dan tempat berlatih para murid. Lokasi tempat tinggal para murid pada jaman itu sekarang dikenal dengan nama Pura Batu Meringgit dan Lokasi tempat tinggal Ida Maharsi Madura dan para guru lainnya sekarang dikenal dengan Pura Puncak Terate Bang. Sedangkan areal tempat latihan dari pesraman agungnya adalah lokasi yang dikenal sekarang ini dengan nama Kebun Raya Bedugul. Untuk areal pemukiman penduduk pada jaman itu adalah dari areal Pura Candi Kuning sampai seputaran areal Pura Puncak Pengungangan. Setelah membangun tempat-tempat untuk perkembangan kehidupan dunia nyata. Kemudian Ida Maharsi Madura, mencari tempat untuk bertapa dalam rangka peningkatan kehidupan spiritual beliau dan para pengikut beliau. Berdasarkan petunjuk dari Ida Maharsi Markandeya yang telah lebih dahulu menapak tempat itu pada jaman sebelumnya, lokasi yang dipilih ada bagian utara dan timur dari danau beratan. Tempat bertapa beliau adalah di Puncak Gunung Beratan yang jaman sekarang dikenal dengan nama Puncak Mangu ( terkait dengan pendiri kerajaan mengwi pernah bertapa disana ) atau dikenal sekarang ini dengan nama lain Puncak Tinggan karena salah satu sisi gunung ini berada di desa tinggan. Selesai bertapa disini beliau akan turun untuk mengajarkan semua wahyu yang beliau dapatkan kepada para murid yang ingin meningkatkan kehidupan rohani menjadi seorang pendeta dan menuntut ilmu pengetahuan rohani yang jaman sekarang dikenal dengan Brahma Widya. Lokasi Pesraman tempat pembentukan para calon pendeta ini sekarang dikenal dengan Pura Puncak Resi, karena tempat ini merupakan tempat para rsi memohon tuntunan spiritual kepada beliau. Disebelah timur pura puncak rsi ini berstana sakti beliau dan pura ini bernama Pura Puncak Taman Sebatu yang merupakan pura ulun danu beratan yang sebenarnya. Inilah sekilas informasi tentang perjalanan Ida Maharsi Madura diseputaran Danau Beratan. Mudah-mudahan informasi ini bisa berguna untuk para semeton sareng sami terutama para semeton yang masih mau meluangkan waktu untuk menapak tilas perjalanan Ida Maharsi Madura sebagai leluhur orang Bhujangga. Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra – Denpasar.

Jejak Perjalanan Maharsi Madhura (abad 12 - 13 M)

Perjalanan Ida Rsi Madura ( abad 12 M - 13 M ) Ida Rsi Madura merupakan seorang rsi maha sakti yang berasal dari Madura, tepatnya ida berasal dari suatu daerah di Madura yang seluruh tanah disekitarnya berwarna merah yang sekarang dikenal dengan daerah Tanah Merah. Lokasi griya beliau disana berupa rumah panggung yang berada di suatu tanah lapang luas yang dekat dengan sumber air seperti danau kecil yang sampai sekarang keberadaannya tetap dikeramatkan dan disucikan di sana. Ida Rsi Madura merupakan guru suci dan guru silat dari Arya Wiraraja, semua ide diBalik kebangkitan Majapahit, termasuk kenapa Arya Wiraraja dari tanah Madura mau membantu Raden Wijaya berasal dari beliau. Akan tetapi keberadaan beliau sebagai pendeta alam yang lebih senang dekat dengan alam terutama alam laut dibandingkan duniawi menyebabkan jarang orang yang mengenal beliau. Dan mungkin tidak ada yang menyangka bahwa beliau adalah aktor utama diBalik kebangkitan Majapahit. Setelah majapahit berdiri beliau ditawarkan kedudukan sebagai pendeta utama penasihat raja, akan tetapi beliau memilih merantau ke tanah Bali untuk menapak tilas dan melanjutkan perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya untuk menata pulau Bali. Dalam perjalanan beliau dari Jawa menuju Bali, beliau singgah di beberapa tempat seperti kediri ( Pura Agung Sekartaji ), dan yang paling lama beliau singgah adalah Alas Purwo. Tempat pertapaan beliau jaman itu, sekarang ini dikenal dengan nama Pura Situs Kawitan di Alas Purwo yang letaknya didekat Pura Giri Slaka. Disini beliau bertapa tahunan untuk menemukan petunjuk tentang pulau Bali umumnya dan untuk menemukan jejak perjalanan leluhur beliau ida maharsi Markhandeya di tanah Bali khususnya. Selama pertapaan di alas purwo ini beliau didatangi oleh seekor babi hutan besar yang merupakan raja hutan alas purwo yang bernama celeng cemalung. Celeng cemalung meminta ida rsi Madura untuk menata sisi spiritual alas purwo. Oleh karena itu, ida rsi Madura selama pertapaan beliau di alas purwo ini banyak sekali melakukan penataan-penataan tempat spiritual di alas purwo. tempat-tempat yang beliau tapak dan beliau tata inilah yang zaman berikutnya dipakai tempat bertapa oleh Gajah Mada sampai ke jaman Soekarno. Setelah beliau mendapatkan petunjuk tentang tanah Bali. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke tanah Bali. Singkat cerita ditanah Bali, beliau lama berdiam diri didaerah seputaran danau Tamblingan bahkan beliau memperistri putri dari Ida Dalem Tamblingan ( penguasa daerah seputaran Bali Utara pada jaman itu). Selama beliau bertapa didaerah seputaran Bedugul, beliau membuat sebuah padepokan silat yang sangat besar yang terletak di areal kebun raya bedugul. Di tempat ini beliau banyak mengangkat murid yang berasal dari berbagai etnis yaitu, Bali, cina, dan Jawa. Selama berdiam diri disini beliau banyak mendirikan pura-pura yang pada jaman sekarang telah ditemukan sumber bukti tertulis ( purana/prasasti ) bahwa Beliaulah pendiri pura-pura tersebut. Pura-pura tersebut antara lain : Pura Dalem Tamblingan, Pura Puncak Rsi ( bukit sangkur ), Pura Penataran Beratan, Pura Puncak Pengungangan, Pura Terate Bang, Pura Baru Meringgit dll. Setelah lama berdiam diri disini beliau kemudian melanjutkan perjalanan untuk menelusuri jejak perjalanan leluhur beliau Ida Rsi Markhandeya di tanah Bali. selama perjalanan menelusuri jejak leluhur bhujangga di Bali inilah beliau banyak mendirikan Pura Dalem Pauman Bhujangga ditempat berkumpulnya keluarga bhujangga di daerah-daerah tertentu di Bali. Pada saat menelusuri jejak perjalanan leluhur inilah beliau mendapatkan petunjuk tentang tempat moksanya Ida Rsi Markhandeya yaitu di Gunung Bhujangga Bali. kemudian beliau pergi kesana untuk memohon restu hendak melanjutkan tugas leluhur bhujangga di Bali sebagai penjaga dan pendoa keseimbangan pulau Bali beserta segala isinya. Setelah sungkem di tempat moksa Ida Rsi Markhandeya di puncak sepang bujak (gunung bhujangga) kemudian Ida Rsi Madura turun hendak melanjutkan perjalanan. Sebelum melanjutkan perjalanan beliau membuat pura di sekitar tempat itu untuk sebagai tempat pengayatan ke Puncak Sepang Bujak ( tempat moksa Ida Rsi Markhandeya yang sangat dikeramatkan, sehingga disana tidak boleh dibangun bangunan apapun juga). Pura pengayatan ini yang jaman sekarang ini dikenal dengan Pura Asah Danu. Singkat cerita setelah memohon restu kepada Ida Maharsi Markhandeya beliau kemudian melanjutkan perjalanan mengelilingi Bali. Perjalanan beliau mengelilingi Bali terutama sekali dilalui dengan mengelilingi pantai-pantai di Bali. Di sepanjang pantai-pantai ini beliau bertapa dan membangun pura-pura. Pura-pura inilah yang pada jaman sekarang ini dikenal dibangun oleh Ida Peranda Sakti Wawu Rauh. Setelah selesai mengelilingi pantai Bali ternyata beliau belum menemukan kekuatan dalem segara yang sebenarnya. Dari hasil tapa beliau ternyata beliau menemukan kekuatan dalem segara gni di Bali berpusat di lautan seputaran kepulauan Nusa Penida. Oleh karena itu beliau kemudian melanjutkan perjalanan ke Nusa Penida. Pada tahun-tahun terakhir usia beliau di dunia ini, beliau memilih kepulauan Nusa Penida sebagai tempat bertapa dan tempat untuk kembali ke sang pencipta. Pada awalnya beliau memilih tempat untuk moksa atau kembali ke sang pencipta di Puncak Tunjuk Pusuh, Nusa Penida. Akan tetapi setelah beliau bertapa sekian lama akhirnya beliau mendapat jawaban bukan di sana tempat yang cocok. Akhirnya beliau berjalan ke selatan dan akhirnya menemukan suatu batu berbentuk lingga di tengah laut dengan diameter 3 meter dan tinggi sekitar 33 meter, dimana batu ini sampai sekarang masih berada disana. Sesampainya ditempat ini beliau kemudian bertapa, dan hasil tapanya beliau mendapat petunjuk untuk membuat rakit dan mengayuh rakit ke tengah laut dimana ditengah laut di atas rakit inilah akhirnya beliau moksa dan diberi gelar Ida Rsi Dalem Segara (Ida Betara Lingsir Dalem Segara), berketu hijau berselempang hijau. Dilokasi tebing dekat dengan batu lingga itu sekarang berdiri Pura Sekartaji yang diempon oleh seluruh warga bhujangga yang berdomisili di dusun Sekar Taji, Nusa Penida. Sumber : Guru Made Dwijendra Sulastra.

Minggu, 10 Juli 2011

LONTAR PIWELAS

IDENTITAS LONTAR

Judul : Piwelas

Lontar milik : Ida Rsi Bujangga, Gria Tegal Cangkring, Negara.

Jumlah lempir : 82 lempir

Ukuran Naskah : Panjang 25,5 cm; Lebar 3 cm

Dialihaksarakan oleh : I Gde Wayan Soken Bandana, S.S.,M.Hum.

Selesai diketik : 20 Maret 2009

ISI LONTAR

Piwelas adalah jenis lontar kediatmikan yang tergolong ilmu hitam. Piwelas adalah kata bahasa Bali yang berarti pengasihan. Lontar tersebut tidak hanya memuat aji pengasihan atau guna-guna, tetapi juga ilmu hitam yang lainnya, yaitu aji pengiwa dan pangliyakan.

Aji pengasihan atau guna-guna yang dimaksud adalah: 1) Piwelas Ni Rangdéng Dirah, 2) Piwelas Bhatara Ghana, 3) Piwelas Jarring Sutra, dan 4) Piwelas Kama Tantra.

Aji pangiwa dan pangliyakan yang dimuat dalam lontar tersebut adalah: 1) Kaputusan Bhatari Dhurga, 2) Kaputusan Siwa Sumdhang, 3) Kaputusan Batur Klika, 4) Waringin Mas, 5) Tumpang Wredha, 5) Brahma Sumeru, 6) Pangliyakan Kandhaphat, 7) Kaputusan Sang Hyang Aji Lawéyan, dan 7) Kaputusan Léyak Gundul.

Selain ajian-ajian tersebut, lontar yang diberi judul piwelas milik Ida Rsi Bujangga, Geriya Tegal Cangkring, Negara itu, juga memuat ajian-ajian yang lain, seperti: Pamancut Guna, Tungkub Buwana, Tutulak Pangraksa Jiwa, Paséwakan, Tutulak Sakti, Pametuwan Bhuta ring awak, Sasirep Kaputusan Maling Maguna, dan sebagainya.

PIWELAS

1a. Iti Piwelas Ni Rangdéng Dirah, úarana, sekar pulet, wé amangan, mantra: Ong segara mumbul, gunung rubuh, segara asat, gégér, gégér, gégér, prawatek déwata kabéh, gandharwa, gandharwi, paran sangkaning gégér, Ni Randéng Dirah, amasang guna wisésa, turun Sang Hyang Prajapati, Bhaþari Dhurga angetus atma jiwané si anu, lengleng bungeng si anu aningalin awak sariranku, aku masusupan ring surya candra, rahina sih, wngi sih, …(lontar putus)… Ni Rangdéng …

1b.Dirah apasang guna tandruh ring rat si anu, aku juga angen, Ong gento akasa osah si anu lawan ingsun, méré… (lontar putus), dén asih, Ong manik kresna Ni Rangdéng Dirah, mulaning asih, sida sih nama swaha.

Nyan Piwelas Bhaþara Ghana, úarana, sarining sekar, sipatakna ring alista, mantra: idhepaku smaranggana rumasuk ring awak sariranku, wanih sira andaluh Ki Bhaþara Smara, wanih sira andalu ingsun, pangawakku Bhaþara Ghana, aku andawut,…

2a. atma jiwané si anu, ring nétra marganira, mulih ring karnasula, marén si anu, aturu lawan ingsun, poma, poma, poma.

Iti Piwelas Jarring Sutra, ngaran, úarana, toyo, wéh inum, mantra: Ong thirthanku kumrenyes kidalaanga, masuking jaring sutra, saking ibu pretiwi, énak to ya pangrarawupaningulun, wésih tekén aku, si anu sih maring aku, tka kédep sidhi mandhi mantranku.

Jaran guyang, úarana … (lontar putus), 11, bidang, …

2b. …(tak terbaca), ulig wdakna, mantra: Ong wdakku luhuring akasa, tuntunen lawéné, papasanganing sora soré, suri suri, Sang Hyang Aditya kawuh runtuh, mnék aku ke swargan, tuwun aku ke gumi pretiwi, katinggalan aku baan Sang Hyang Widyadara Widyadari, genter pater gégér prawatek déwata kabéh, paran sangkaning gégér, Ki Jaran Guyang amasang guna, wastu sih Bhatara Hyang Asmara, Bhatara Hyang Asmari, putih tka uli kaja kangin, angbirakna atmané si anu, angétan, angidul, angulon…

3a. angalor, satus nawun si anu, lengleng tumingalin awak sariranku, tka buduh édan atiné si anu tumingalin awak sariranku, kédep sidhi mandi mantranku.

Iti Pamancut Guna, úarana, toya sugiang muah inum, mantra: idhepaku Sang Hyang Sada Siwa amancut guna, amancut piwelas, mulih maring pantara waya, tka sinang, luya jati, hning sarirané pun anu, tka sinang, tka sinang, tka sinang.

Piwelas Kama Tantra, úarana, temako wéh pangan, mantra: ih Nini Kamaratih, sumurup ring Kamajaya, si anu sumurup ring aku, sira kama bang, ingsun kama putih…

3b.abang mulih ring putih, leng leng si anu aturua lawan ingsun,

sih, 3x.

Paséwakan, úarana, sisig, mantra: Ong muncar akasa, mumbul pretiwi, Sang Hyang Taya masang gunna, rupanku kadi smara, téjanku surya candra, suaranku madhu drawa, pakepku manik astagina, sing andulu pada welas dén asih, lengleng bungeng tumingalin aku, sih sih sih, ket puliket.

Iti Tutulak Sakti, úarana, saka wnang, sakayunta wenang, lkas wenang, sagenah mantra wenang, babayon kawasa, úarana, maswi, bañu, lemah, sembar, ping 3, phalanya…

4a.salwiring ala mangsul dénta, salwiring tamba mantra wenang, mantra: Ong indhata kita kamung sarwa bhutha pisacca, pulung dengen sanak sakwéhta, singgah singgah sangkéng ungguwanta, raksa, kemit aku, ring tegal ring alas, ring ukir, ring segara, ring kayangan, ring pancuran, ring lwah, ring sendang, ring sumur, ring kubuwan, ring panglahan, ring pasar, ring pomahan, dén dengen sanak-sanakta, tan panarik kaming kita, hapan aku mawak Sang Hyang Tri Purusa Sakti, Ong sarwa bhutébyo duratah dhuratah, A, I, U, A, tlas. Pingiten aja wéra.

4b. Iti Guru Wisésa, maka panembahan léyak kabéh, úarana, saka wnang, mantra: ih léyak gundul metu saking sapta petala, Sang Anthabhoga gurun sira, hda ki léyak gundul mai marakang kawisésan maring siyaku, salingké ki léyak gundul tara nembah maring si aku, Sang Ananthabhoga ja nembah ring siyaku. Ih léyak ireng, metu saking wisnu loka, I Jong Biru gurun sira, hda ki léyak ireng mai marakang kawisésan maring siyaku, salingké ki léyak ireng tara nembah maring siyaku, I Jong Biru ja nembah maring siyaku.

5a. Ih léyak anggrék, metu saking gunung agung, Indrapatti gurun sira, hda ki léyak anggrék mai marakang kawisésan maring siyaku, salingké ki léyak anggrék tara nembah maring siyaku, Indrapatti ja nembah maring siyaku, Ong Ong Ong, mulih sira maring sapta patala, maka katiga, wus mangkana mantuk sira ring wisnu loka, maka katiga, wus mangkana, mantuk sira maring indra loka, maka katiga, aminta sarwa sari, léyak gundul, léyak ireng, léyak anggrék, medal idha ratu iring, poma, 3x, Hyang Bhaþara Guru tumurun ring gu…

5b. nung agung, matatakan kala cakra, macacupu mas, sabda swaranta tapakan siyaku, gni murub ring arepku, aku mangalah sakti, jeng, 3x.

Iti Tungkub Buwana, ngaran, utama dahat, aja wéra, mantra: mas putih mandadi mas kuning, aku anganggon pasron Bhaþara Guruné, maléd-léd pasthan ibapané blang, matanceb ka pratiwiné, ngajingit tiktik i méméné teked ka langité, i bapa tan kena dhinésthi, i mémé tan kna dhinésthi, tka satru musuhkuné lanang wadon, tan kawasa tumin…

6a. dak, poma, 3x. Sarana, buk sanggah kamulan.

Nyan Tutulak Pangraksa Jiwa, ngaran, úarana, wija kuning, 3 bsik, wus minantran, untal, tigang taun sira wisésa, sagunaning léyak tan tumamaha, réhnya ngarepin sanggah kamulan, mapras dhaksina, yan amantra ring tanggal pisan, mantra: idhepaku Sang Hyang Tiga Déwasa, pramasidhi pinaka ratuning tutulak, mangraksa jiwa wisésa, tigang nawun aku angikir urip, amurthi sakti, Sang Hyang Siwa Gandhu ring pabahan, Siwa Mretthi ring…

6b. lidhah, Siwa Sumedang ring tingal, Candhu Sakti ring sabda, Sang Hyang Wisnu pañara ring tangan, puntang panting ring lepa-lepa, Ki Naga Lomba ring suku, Sang Hyang Mpu Manna ring kulit, raja panulah ring roma, sapa wani léyak lanang punah, léyak wadon punah, léyak kdi punah, léyak mantara punah, acep-acepan punah, papasangan punah, tka sepi sunia sirep, sagunanmu pupug punah tka udhep, 3x, Ong Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya, Ang Ung Mang, Ang Ah Ah Ang.

Nyan Kaputusan Bhaþari Dhurga, ngaran, úarana, saka wenang…

7a. idhepakna Bhaþari Dhurga magenah ring gébéring lidhah, sinembah déning léyak kabéh, sinembah déning bhuta kala dengen, sinembah déning sarwa wisésa, wus mangkana mtu mantra, mantra: Ingsun angidepana Bhaþari Girinatha Sakti, matemahan Bhaþari Sapuh jagat, dadi bhatara metu Dhurga Murthi, pangawak ira sang hyang asih, sarwa baktya, bhutha kala dengen baktya sih, janma manusa baktya asih, déwa bhaþara asih, sakwéhing léyak baktya asih, hapan aku Sang Hyang Bhaþari Dhurga Putus, putusing wisésa, putusing sakti, léyak…

7b. sih, déwa asih, tka patuh ingkup, Ong Dhurgamurthi ya namah.

Iti Kaputusan Siwa Sumdhang, úarana, geni ring panyémbéan añar, tengah siginya sarin bunga, idhepakna Sang Hyang Siwa Sumdang ring siwadwara, turun ka dilahning mata, sinembah déning léyak kabéh, wus mangkana, metu mantra, mantra: Ang Ung Mang, mijil Sang Hyang Siwa, Sadha Siwa, Prama Siwa, ring pantaraning gambur anglayang, dadi Sah Siwa, ring ongkara mula apindha manusa sakti, aran Sang Hyang Siwa Sumdang, amurthi sakti, amugpug sagunaning…

8a. léyak kabéh, Ni Rangda ring Dirah pupug, Ni Larung pupug, Ni Wiksiksa pupug, Ni Misawadhana pupug, Ni Jaran Guyang pupug, Ni Lenddha pupug, Ni Lendya pupug, Ni Gandhi pupug, léyak mantara pupug, léyak nawasanga pupug, matemahan sang déwa ring walé agung, aku Sang Hyang Siwa Sumdang putus, syaku sakti luhuring ardha candra widhu nadha, pangawakku Sang Hyang Sah Siwa, tan kataman ku guna wisésa, tan kataman sarwa wisésa, gni bañu angin luput, lara wisya luput, aku sang hyang lengis licin…

8b. sakti, déwatanira Sang Hyang Siwa Sumdang putus, sakwéhing léyak baktya, tka sepi sunia, sirep, Ang Ah, Ong Yang Mang Siwa Sumdang murthi saktyem, sarwa satru winasanem, Ong Mang Siwa murthi saktyem, sarwa léyak winasanem, Ang Ung Mang.

Nyan Japa Sakti, ngaran, Sarasija Kusuma, úarana, patraning sekar, bungayang, mantra: Ong bantar akasa, empug pretiwi, mijil Sang Hyang Sarasija Kusuma, ring pantaraning surya, apindha manusa sakti rupanku kadi angin, aku sakti licin, sing ila kira-kirané urung, bhuta dewata punah, gring wi…

9a. sya moksah, aku Sang Hyang Sarasija Kusuma sakti ajapa mantra, sing tka pada udhep, 3x, Ong Sri jaghat padhukébyo namaswaha, kwéh pangraksania, sakti ring sariranta.

Nyan Ratuning Wisésa, makuwéh pangraksania, wisésa, Kaputusan Batur Klika, ngaran, úarana, nasi akalopok, mabé karangan, uyah areng, arak brem, dhaksina 1, uncarakna, wusamantra, pangan carunia, mantra: Idhepaku Sang Hyang Mrajapatimurthi, aranku Ki Batur Klika, anadah tastra, anadah wisésa,…

9b. anadah léyak, angrik aku kadi glap, rupanku kadi gni sumeru, pangawakku maya angin, wisésa sang hyang sunia, cét katon cét tan katon, aku muksah tan katingalan, aku sarining Batur Klika, murub ring awak sariranku, kadi gunung sumeru, bhuta ngeb, sarwa marya mantuha, mati kang ngeb, ghni bañu ngeb, aku Yang Batur Klika Sakti, lumaku aku tan kasahalangan, tan kaslettan, sing maya rep, 3x, aku kasiliran déning pawana ghni, sing ala paksané ring aku, tka gseng, tka sirna, aku Yang Mraja…

10a. Pati murthi, pangawakku Ki Batur Klika, sasaran sakwéhing satru baktya, wisésa nembah, tka ngeb, 3x, Ong Ang Mang, Batur Klika, pramasaktya bhur bhwah swah jwah tas mat, Ang Ang, Tang, Ah Ang.

Nyan Waringin Mas, mantra: Ong indahta kita kamung Sang Hyang Panca Maha Bhutha, wus sinurupan dénira Bhaþara Guru, ingasungan dénira Bhaþari Dhurgha, maring sétra gandamayu, witting nglekas déwék, lwiring guna ingaran Sang Hyang Waringin Mas, aku wisésa sakti, malesat aku ka sapta patala, emdek aku Nini…

10b. Subhagawati, atapan aku bedawang nala, sinembah aku déning léyak gundul, Ong Ang Ang Ung Ung Mang, metu aku ring gunung agung, akalihan aku ring Bhaþara Indra, wong aku mdek Bhaþara Indra, atapan aku garudha putih, kang sinembah aku léyak anggrék, Ong anjeleg aku saka wétan, metu ghni ring pupusuhan, anjeleg aku saka kidul, metu ghni ring ungsilan, Ong anjeleg aku saka lor, metu ghni ring ngampru, Ong anjeleg aku saka kulon, metu ghni ring ati, Ong anjeleg aku…

11a. ring tengah, metu ghni ring patumpuking ati, anunggal kang ghni, metu kang ghni ring wunwunan, murub makatartaran, ngbeking jagat, tan kacokan aku, tan kaunggulan aku déning manusa kabéh, arepaku asiluman ring sang hyang dhedhet, asiluman ring sang hyang tanana, asiluman ring manusa sakti, rumangsuk aku ring bhuta kabéh, déwa dengen bhuta bhuti, tumurun aku ring wisnu loka, angadeg aku tngahing langit, atapakan aku watu kumalasa, mandadi aku waringin mas, sinembah aku déning Ki Lendha muah I Lendhi, I Sawadhana, I …

11b. Gandrawang, i acep-acepan, I Guyang, I Larung, I Ratna Manggali, sami pranakanira ñumbah pada makaspa satus kutus atapakan aku jampana mas, metu kang umbul-umbul mas, ring arepanku, metu kang lalancang mas, talémpék mas, ingiringan aku léyak kabéh, Ong Sang Hyang Surya ring nétranku kalih, Sang Hyang Ayu ring angen-angenku, I Calonarang iringanku kalih, Ong Wang Ung, Ong pretiwi sirep, langit rep, déwa sirep, lah, 3x, kala sirep, sarwa kumatap-kumitip pada sirep, asu sirep, Kang lang, manusa sirep, 3x. Ong kala bungkem 3x, asu bungkem 5x…

12a. manusa bungkem 5x, Ong mayan-mayanku, Sanghyang enduh, etis atiné banyu rah pawarnané, tka enduh etis atiné wong kabéh, tka enduh, 3x.

Nyan Kaputusan Bhaþari Dhurga, úarana, lontar tulis mantra, gawa ya jugha, lunga jati tka jati, wisésa sira, sakwéhing satru baktya, sagunaning léyak baktya, mantra: Ong idhepaku Sang Hyang Tiga Murthi, Sang Hyang Bhaþari Sapuh Jagat, tedun ring madya padha, sapa wani ring aku, hapan aku Bhaþari Sapuh jagat, hapan aku mulaning guna pangaruh, léyak baktya ring aku, léyak putih …

12b. baktya ring aku, léyak bang baktya ring aku, léyak kuning baktya ring aku, léyak ireng baktya ring aku, léyak mancawarna bhaktya ring aku, léyak katon léyak tan katon nembah ring aku, sakwéhing léyak nembah ring aku, sakwéhing satru baktya ring aku, sakwéhing manusa marupa Dhurga Wurung, 3x, Ong yan hana marupa dhurga, rupan aku Bhatari Girinatha…

13a. lewih, aku sakti, gering wisya lara wisya katulak dénaku, tan kataman aku sakti, tan katamaning satru, Mang Ong, Na, Ra, La, dhikel 3x, Ong sah.

Iki rajahnia Dhurga, aja wéra.

Nyan Panyengker, úarana, sakawnang, mantra: Ong panes bara, panes kebus, pretiwiné tampakmu, di tengah di sisi pasih, ring luwur watu, ring sor pawana baret, asing paksa pada sih.

Iti Ratuning Pangiwa, ngaran, Tumpang Wredha, maka wisésaning pangiwa, mantra: Ong aku sang araning tumpang wredha, Ang Ung Mang, Ong Ang awak sariranku, asirah ku tung…

13b. gul, Sang Hyang Eka Kala ta pinaka aranku, asirah lima Sang Hyang Pancasona, ta pinaka aranku, asirah nem, Sang Hyang Sadripu ta pinaka aranku, asirah pitu, Sang Hyang Rsibuwana ta pinaka aranku, asirah ulu, Sang Hyang Asta Buwana, ta pinaka aranku, asirah sanga, Sang Hyang Nawa Kandha, ta pinaka aranku, asirah puluh, Sang Hyang…

14a. Dasa Kala ta pinaka aranku, asirah ika satus siyu, Sang Hyang Pangkungning Bwana, ta pinaka aranku, asirah laksa keti bharaodran, murub téjaningulun, hapan aku sakti amepeking buwana kabéh, malédléd layahku teked ke oodku, tka repsirep kumangkang kumingking, kumdap kumdip, hapan aku ngaraning Tupang Wredha, wenang agung wenang alit, wenang muksah tan katon, sinembah aku luput, 3x telas.

Ika Sri Kayangan, ngarepin sungéngé, ngranasika, masuku tunggal, maneleng tungtunging grana, muah ring sor ring luhur, hana…

14b. tungtunging irungta, kala wengi angarepin sungéngé, ngarepin ulan, tan hana ulan, sungéngé tlah ika glengan, nglekas ika, nuju, purnama, Ti., Ka., úarana, tumpeng kuning, 1, bé balung gagding mawadah klatkat sudhamala, aledan sénté bang, rumbah gilé, bawah jahé, ngranasika ngarepin caru, 3x. Ang Ong Ong. Iti panglesuania, mantra: Ung Ang Ong Ong, Hryang Mryung, Ang Ah.

Malih Hana Ratuning Pangiwa, Kaputusan Sang Hyang Siwa, ngaran, Brahma Suméru, utamaning utama, sarining pangiwa kabéh, wenang panganggon sang ratu nyakréng bhwana, muang sang…

15a. brahmana, pingitakna, aja wéra, haywa cawuh, tan sidhi phalania, upadrawa, mantra: Ong idhepaku rumawak Sang Hyang Kala Rudra Murthi, asirah aku sanga, anetra aku siyu, surya candra locananku, bhusananku lintang tranggana, romanku mégha ireng, anting-atingku ratna surya komala, asamayut ku Hyang Basuki, apinggel aku Naga Taksaka, atangan aku sarpa siyu, asuku aku rong iyu, pangadeganku Gunung Suméru, bayu bajra uswasanku, sarwa téja pinaka téjan awak sariranku, sarwa déwata…

15b. rumawaking sariranku, Bhatari Dhurga pinaka krura rupanku, adhodhot aku mégha swéta, asabuk aku byanglalah, hapan aku rumawak Brahma Suméru, metu ghni putih ring pupusuhanku, metu ghni pitha ring ungsilanku, metu ghni kresna ring amprunku, metu ghni prabhuta ring nabinku, Ang mapupul tngahing ati, anerus ring siwadwara, murub dumilah mijil ikang ghni andhed ring ngakasa, sinusun-susun tumpang siyu, dumilah téjanku ngebeking rat, Ong sajagat sirep, ngeb bhwana kabéh, idhepaku ngrangkus bhuwana kabéh, sarwa mambekan tan kwasa …

16a. mambekan, sunia sepi ikang rat kabéh, miber aku ring akasa, dhatengakna aku ring surya loka, candra loka, amangan aku mretha sanjiwani, amor sarwa gagana ring awak sariranku, kacakra dén aku kñar sang hyang candra katakep dén ku, knyar sang hyang surya , ming sor aku muwah, alunggung aku ring pucuking Gunung Agung, sinembah aku déning Gandarwa Gandarwi, sarwa déwa ring awak sariranku, bhuta léyak sarwa bhuta nembah ring aku, hapan aku rumawak Sang Hyang Brahma Sumeru, Ang, 3x.

16b. Pametuwan Bhuta ring awak, mantra: enggang bulun awak, metu Ki Bhuta Kakawa, enggang siwadwara, metu Ki Bhuta Rudira, ring I Bhuta Ari-Ari. Palesuania, mantra: Ong catur brahma mulih ring sarira, tka udhep, 3x. Ong sarwa bhuta mulih ring sapthadwara, tlas. Réhnia ring sanggar, úarana, banten tumpeng bang, adanan, iwaknia satha wiring pinanggang, raka sarwa bang, suci asoroh, dén agnep, malih haywa ima, pagehakna ikang ati, malih rikala ngréhaken, masangkuwub wastra putih, masurat ludra murthi, langit, tlas.

17a. Iti Pangliyakan Kandhaphat, ngaran, luirnia, nihan, mantra: Ong siwa swadipem ya namah swaha, Ong raditya swadipem ya namah swaha, Ong yama swadipem ya namah swaha, Ong Dhurga swadipem ya namah swaha, Ong idhepaku anjaluk aji limunan, aku anjaluk rupané I Calonarang, metu aku ring natar, patungganganku cicing selem, patapakanku windhu sagghara, tatekenku sarwa sanjatha, iringanku déwa siyu, metu aku ring lebuh, patungganganku naga anglayang, patapanku cakra sudarsana, atateken aku trisula, iringanku dhurga…

17b. siyu, metu aku ring parempatan agung, patungganganku weksudha malung, patapakanku raditya ulan, tatkenku swemédha, iringanku kala siyu, metu aku ring sétra gandha mayu, patungganganku banaspatiraja, patapakanku ghni angarab-arab, patekenku gadha lalitha, iringanku bhuta siyu, aku alekas andéwasraya, kala sraya, aku apayas tirtha gamana, akramas aku getih wong, asasayut aku limpa, asekar aku kembang waru, agunala aku papusuhan, agunitri aku babwahan, acundang aku ati, aku…

18a. kudung aku jajaringan, alekas aku ngranasika, mantra: Ang Ung Mang Ang, mtu dhilahku kadi bingin, angrampayak, pelud matankuné angliwatin irungkuné, malédléd layahkuné angliwatin entud, kukul tangankuné, ngiring pajalankuné, tan kawasa nolih, dhilahku catur warna, hapan aku angrangsukang kandhaphat, marep aku mangétan, putih rupankuné, marep aku mangidul, abang rupankuné, marep aku angulon kuning rupankuné, marep aku angalor ireng rupankuné, hapan aku sakti amaya siluman, amédha…

18b. rupa, sapa wani ring aku rupanaku aéng, yan hana wong amulan lan awakku, tka ngeb bungkem, aningalin awak sariraningsun, idhepaku angaji limunan, tan katingalan aku déning wong kabéh, teka peteng dedet triyat-triyut, tan katon daratan, aku angwetokaken prawésia, Ong jadma bungkem, paksi bungkem, aningalin prawésianingulun, tka ulap sunglap matané wong kabéh, tumingalin awak sariranku, hapan aku angaji limunan, klimun madeg ingsun wétan, klimun madeg ingsun kidul…

19a. katon lor, klimun madeg ingsun kulon katon wétan, klimun madeg ingsun lor, katon kidul, déné sing wong kabéh, msat aku angagana, akampid aku gringsing wayang, palingganku tumpang salu, atapakan aku tendasing wong, marawup aku getih, muncrat téjankuné, béda rupankuné, tka rep ngeb, 3x, atiné sing wong kabéh, anonton rupankuné, hapan aku angekep raditya ulan, lintang taranggana, tka remrem surem, 3x. Ong Ang hapan aku sakti mawisésa, aku wenang andhawut atmané wong kabéh, mantra: Ong siwa…

19b. raditya ya namah swaha, sidhi swaraningulun, tlas. Nglekas manéngténg jambot, natakin purus, nglekas ring pampatan, ring sétra, ring le, ngawa sanggah cukcuk, sga, 5 warna, mileh, ping 3, ñumbah ping 5, mider, metu dhilah ring cangkem, ring nétra, ring pungsed, ring purus, haywa cawuh, wisésa dahat, haywa wéra, mati phalania. Iti Sasirepnia, mantra: Ong gunung rubuh kasangga dénku, ghni murub mati dénku, wong sakuren meneng dénku, hapan aku kaliwat sakti, amupug gunané satru musuhku wong kabéh, tka repsirep, úarana, katik …

20a. basé, sebit pah telu, bedbedin lawé ireng, 3 ler, tibakakna ring lemah, saking natar, sirep dénia.

Iki Pamalingania Kandhaempat, mantra: engko babatang lumah ring sma, aku anglagar angrubung awakkuné, masa kwasa ring aku, hapan engko babatang lumah ring sma, tka rep sirep, 3x, yan hana wong atangi, tukupakna matané, impusakna sukuné, sato bungkem, jagad bungkem, ireng cemeng ajako ring aku, silitmu maka cangkemmu, cangkemmu maka silitmu, hoséné akara sénékep, Ong tungkul-tungkul, rep-sirep,…

20b. asu tan pawuk, ayam tan pakukuruyuk, aku sang tikus putih, pamali ngiring Sang Hyang Taya Wisésa, tan katingalanku déné satrunku wong kabéh, teka peteng dedet triyat triyut, tan katon daratan, hapan payoganira Sang Licin, tka sep, 3x, úarana, laler, 1, usapakna ring raga, nglekas ring pempatan, caru, sega minaka wong-wongan, raris babar, ping 3, pangan raris.

Iti Sasirep, ngaran, Kaputusan Maling Maguna, maka ratuning sasirep, úarana, padang maling-maling, mantra: idhepaku sang pretaméng wisésa, Sang Hyang Tri Dewata Suksma, prasanak ira catur…

21a. arané Ki Maling Maguna, Ki Bratékahot, Ki Maling Saji, Ki Maling-Maling Manglayang, pada sakti añirep bhwana kabéh, pretiwi, bayu, teja, apah, akasa, pada sirep, sirep, hapan aku sakti ring jagat, spi mulih ring paparu, sunia mulih ring pupusuh, suwung mulih ring jajah, sirep mulih ring nyali, sarwa satru mulih ring ati, Sang Hyang Nirapraya andawut bayu, Sang Hyang Prataméng Wisésa andawut sabdha, Sang Hyang Cintya andawut idhep, lah aturu awak sira, aja atangi, uripta matimbun ring sunianta, atmanta mangajar-ajar, jadma wétan kidul sirep, jadma kulon lor sirep, jadma madya sirep, kadi mati paturuanta, tka rep-sirep tka meneng, bayu sirep, sunia, sepi, jeng. Sekarakna. Malih…

21b. Pigmeng, Pangalahana Satru Wisésa, mantra: duh bapa Sang Mleng, raksa uripku sakti, duh ibu Sang Hyang Sleng, raksa uripku sakti, Sang Hyang Tunggal manukup uripku ring kori mpat, pangawakku Sang Hyang Licin, kumlap katon, kumlap tan katon, hapan mayanku angin, luput aku ring sarwa lalandep, luput aku ring bancana, luput aku ring satru sandhi, lepas, jeng, cét katon, cét tan katon, Ah, 3x, jeng, sarana, wari bang, skarakna.

Panungkul Agung, úarana, buk basma akna, mantra: aku angidhepana Sang Hyang Prajapati, akira ta rupa dhanawa, sing ngamara ring mukanku, macan angaréng ring dhadanku, ghni murub ring prabanku, surya candra dayung ingsun, gelap sakoti ring uswasanku, sapa wani ring aku, komara komari ngeb, sonna sato…

22a. ngeb, tumbal, taksu ngeb, jadma manusa ngeb, dhésthi léyak ngeb, bhuta bhuti ngeb, sing tka satrunku padha nembah, kukul, tka sirep kukul dungkul, rep sirep, 3x, jeng.

Iti Pangiwa Utama Temen, wus kapralindha dénira Bhaþari Dhurga, Kaputusan Sang Hyang Aji Lawéyan, réhakna ring sanggar pawittan, ring dina, A., Ka., Bya., idhep tan hana paran-paran, parama sunia ingisti ring ati, aja obah ring pangastiti, cendek tuwuh phalania, sarana, canang, 3 tanding, dhaksina, 3, dénagnep, pirak gung artha, 777, sowang-sowang, malih tawurakna ring kala pati, sgehan agung, 11, tandhing, maiwak bawi, pajalan, urab barak urab putih, dulurania babakaran matah, bawi matah, isin jajeron…

22b. gnep, sajeng rateng, toya, réh megeng bayunia, mantra: Ong déwa sakti suksma ta ya, prama sakti, kawijilanira ring tungtunging ongkara sakti mukti, mungguh ring nirbhana sunia, ikasa ngambara, atapakan bayu bayu sapatihabara, ingulesanira nila bajra, mahlar basakaranta sakti mahabara, aghni pralinna suksma ring ngawak sariranku, aku uluning bawana traya, aku uriping akasa, sarining sakti mahabhara, amijilaken déwa manusa, raksasa pissacca sarwa dhurga wisésa ring rat, Ong déwa suksma Sang Hyang Windhu Maya, amijilaken angga sariraning bhwana, amurthi sakti ring bhwana, bajra metu ring pupuning tanganku tengen, dhandha metu ring pupuning tanganku kiwa, trisula metu ring tujuhku tengen, kontha …

23a. metu ring dhadhanku ring arep, aghni suksma metu ring sarwa sandinku, sarwa dhurga wisésa, léyak, dhésthi, teluh, tranjana, sarwa bhuta ganna wisésa, salwiring, yéning janma manusa, rep sirep tka nembah, ring awak sariranku, hapan aku kamulan bapa akasa, ibu pretiwi, hapan aku sarining léyak sakti, hapanaku rumawak ring tatwa sarasswati, kaputusan aji lawéyan, asirah aku sang hyang akasa, awakku sang hyang Ong pretiwi, sakti, 3x, bapanku akasa, ibunku pretiwi, Ang Ong Sah Tang ya namah, putih awak sariranku, ghni adnyana wisésa, Ong Mang Sah Tang ya namah, Ong bhuta suksma kala suksma, ring sukunku tengen, bhuta yaksiraja ring jarring sukunku kiwa, I Bhuta Dhurgapati, talapakan sukunku tengen, I Léyak Gundhul talapakan sukunku kiwa,…

23b. I Léyak Anggrék sarwa Dhurga sakti tinapak ring sukunku, hapan aku guruning léyak sakti, hapan aku mawak Sang Hyang Ongkara Murthi, akasa, Ong sarwa Dhurga wisésa nembah, léyak désthi, teluh teranjana, tka rep sirep, ring awak sariranku, sing tka kabéh nembah, Ang léyak bang nembah, Ong léyak ireng nembah, Mang léyak kuning nembah, wryong sah léyak putih nembah, miber aku tan katon, 3x, dwaraning awak, Hung, 3x, amor aku ring déwata kabéh, Tang, tungganganku anilambara, sarwa tumbuhing bhwana, rep umrem, tka ulap, tka rarem, 3x, Ong sidhiswatha, 3x. Iti Panglesuania, mantra: Ong Sang Hyang Nilamara, malih ring Sang Hyang Akasa, sarwa wisésa malih ring sabda, bayu idhep, Ang Ung Mang, jeng, Wryong Ah, hre, cra, co, ba., dyem, ga, cor, lu,…

24a. jeng, wryong ah, tlas.

Iti Sang Hyang Aji Lawéyan, uttama dahat, wnang panganggén sang brahmana, muang ratu añakrawreti, haywa ima-ima, yapwan kita pejah, mantukira ring swarghanira Sang Brahma Déwa, pinapa gdéning widyadara-widyadari, siyu tahun lawasta mukti ring swarga, manjadma ta kita ring sang wiku putus sidhi mantra, kinasihan déning rat, tlas.

Malih hana pangiwa, ngaran, Kaputusan Léyak Gundul, mantra: Ong génjong kiwa bhwana kabéh, sun anyana Pudak Sategal, ketug linduh genter pater, engkab kita Sang Hyang Pretiwi, metu aku Léyak Gundul, aku angregepana Pudak Sategal, amusthi asuku tunggal, marep aku wétan, Mahiswara kinasungan, malédléd layahkuné, pasirat paheskuné, metu aku endih putih, tumu…

24b. runku ring sapta patala, Sang Hyang Antabogha nembah ring aku, msat aku angagana, akampid aku kombala ptak, aku sakti mawisésa, déwa nembah maring aku, dadhari nembah ring aku, tumurun aku ring jadma padha, iringanku bhuta siyu, kala siyu, dengen siyu, aku angisep puspa kabéh, amangan sari, tka mretha ring wtengku, idhepaku angadhakaken papteng, aku ngeseng bhwana kabéh, tka gseng, 3x, jeng, ésuk gring soré mati, soré gring ésuk mati, kabrasat wong kabéh, tan hana wong mawisésa, hapan aku amupug gunané satru musuhku wong kabéh, aku tan kenéng pañengker, tan kenéng tatulak, tan knéng pangolih-olih, hapan aku sarining bhwana kabéh…

25a. aku guruning léyak kabéh, sisiyan aku léyak siyu, mrik sumirit ghandaningulun, hapan aku angrangsuk Pudak Sategal, Ong déwa bhatara linglung, dhadhari linglung, jadma linglung, dhété dhété, Ong Rang Rang Rem ya namah swaha, Ong jingkrang jingkrang gélé gélok, metu aku ring pretiwi, tka rep sirep, 3x. Lekasakna ring pasar agung, anyepsep bok, masuku tunggal, úarana, canang rébong, ñumbah ping 3. Iti Pasirepnia, mantra: Ong gunung rubuh kasangga dénku, geni murub mati dénku, wong sakuren meneng dénku, hapan aku liwat sakti, amupug gunané satru musuhku wong kabéh, repsirep, 3x, úarana, katik basé, sebit pah telu, binebed déning lawé, 3 ler, tibakna ring umah wong kabéh, tlas.

25b.

Lebih jelas tentang gambar tersebut, perhatikan gambar berikut!